My Protective Mr. Arrogant // Part 2 – The Propotition

Title: My Protective Mr. Arrogant // Part 2 – The Propotition

Genre: Romance

Length: Chaptered

.

Cast:

William D. Black | Adriana F. Evans

.

Afiraa’s speech:

Tadaaaa, i’m back. Ini dia part 2 nya. Semoga kalian suka ❤. Yang pake wattpad bisa mampir di work kau di wattpad juga. @annasafiraa_

Kalo yang mau tanya-tanya oleh juga. Fast respon di ig @annasafiraa_

Happy Reading

.

.

.

my protective mr arogant

.

Part 2

The Propotition

.

William dan Adriana duduk berhadapan. Adriana hanya diam saja saat William memesankan makanan untuknya, tanpa meminta pendapatnya. Setelah pelayan pergi, perhatian William akhirnya tertuju sepenuhnya pada Adriana. “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya William bingung, masih dengan raut dinginnya.

Adriana diam, ia hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban. William menghela nafas. Ia kemudian memandang Adriana dengan raut serius, “Aku punya proposisi untukmu.”

Adriana memandang William dengan pandangan bingung, “Proposisi?” tanyanya tak yakin.

“Ya, aku punya sebuah proposisi untukmu,” jawab William meyakinkan.

Adriana tetap diam sembari menatap William dengan sorot aneh. William pun akhirnya menghela napasnnya, “Sebagai salah satu lulusan terbaik Harvard, ternyata kau sangat bodoh.”

“K-kau!”

William meletakkan sebuah map berwarna biru di atas meja. Adriana menatap William dan map itu bergantian dengan sorot marah, ia tidak terima karena dikatai bodoh oleh William yang pada dasarnya hanyalah orang asing. “Apa itu?” tanya Adriana ketus.

William menyerengai senang, ia mengabaikan nada ketus yang Adriana layangkan padanya tadi. “Sudah jelas bukan? Itu proposisi dariku. Buka map itu, baca isinya, lalu berikan jawabanmu untukku,” perintah William tegas.

Adriana menggeram. Berani-beraninya pria sialan ini memerintahku?! Dia pikir dirinya itu siapa?! Adriana membatin kesal. Ia mengambil map di meja tersebut dengan kasar setelah sebelumnya melayangkan pandangan mematikan pada William yang tetap terlihat santai.

 

 

Para pihak yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama: Adriana Fara Evans

ID:1987xxxxxxxxxxx

Tempat tanggal lahir:Virginia, 10 Januari 1987

Alamat:1001E, James St, Seattle, WA, 98122 ( Murphy Apartments lantai 9, nomor 905)

Bertindak selaku atas nama diri sendiri, dalam perjanjian ini disebut sebagai PIHAK PERTAMA.

 

Nama: William Denzel Black

ID: 1983xxxxxxxxxxx

Tempat tanggal lahir: New Hampshire, 5 Oktober 1983

Alamat: 1925 4th Avenue, Seattle, WA, 98101 ( Black Penthouse lantai 30)

Bertindak selaku atas nama diri sendiri, dalam perjanjuan ini disebut sebagai PIHAK KEDUA.

 

PIHAK PERTAMA dengan ini berjanji akan untuk menyatakan dan mengikatkan diri kepada PIHAK KEDUA sebagaimana PIHAK KEDUA juga menyatakan dan mengikatkan diri kepada PIHAK PERTAMA. PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA akan melakukan perjanjian berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan yang tertulis di dalam surat perjanjian ini yang diatur dalam 5 (lima) pasal, sebagai berikut:

 

 

Adriana melotot memandangi rentetan kalimat yang baru saja dibacanya, “ini apa-apaan!” tanya Adriana marah. “Kau sudah selesai membacanya?” tanya William bingung.

“Tentu saja belum, tapi apa maksudnya ini?! Aku tidak merasa memiliki perjanjian denganmu!” bentaknya keras. William melirik sekelilingnya dan mendapati hampir sebagian besar orang di dalam café ini sudah memandangi mereka berdua dengan pandangan tertarik.

“Sudah kubilang, aku punya proposisi untukmu. Dan perjanjian itulah yang kumaksudkan. Aku membutuhkan bantuanmu untuk menjadi kekasihku selama tiga bulan, hanya tiga bulan.” Jawab William pasrah.

Adriana menatap William nyalang, ia memundurkan kursinya kasar, kemudian bangkit berdiri sambil memukul meja dengan keras. “KAU GILA YA?! AKU TIDAK MAU! AKU MENOLAK!” teriak Adriana marah. William menatap Adriana datar, “Duduk!” perintahnya dingin.

Adriana mengabaikan perintah William. Ia benar-benar geram dengan sikap William yang menurutnya sangat arrogant dan sungguh menyebalkan. Mereka berdua terus bertatapan, Adriana dengan pandangan marahnya, dan William dengan pandangan dingin andalannya.

Suasana café hening karena tingkah mereka berdua. Adriana yang pada akhirnya sadar akibat dari perbuatannya, memutuskan duduk kembali dengan wajah merah padam menahan malu. William sendiri terlihat tidak peduli dengan lingkungan sekitar mereka.

Suasana hening menyelimuti mereka. William tetap setia memandang Adriana dengan datar, sedangkan Adriana memandang tangannya yang terkepal di atas pahanya. Ia benar-benar malu karena sudah kehilangan kendali, padahal ia berada di tempat umum.

Ini semua salah pria menyebalkan itu! Batin Adriana kesal.

Seorang pelayan perempuan datang ditengah keheningan mereka berdua. Ia meletakkan sepiring pasta Carbonara dan segelas milkshake coklat di hadapannya , juga sepiring Lasagna dan secangkir kopi di hadapan William. “Terimakasih,” gumam Adriana pelan.

Pelayan itu tersenyum kepadanya sejenak, lalu melayangkan senyum menggoda pada William. “Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa memanggilku,” katanya terbata. Gadis itu terus memandangi William dengan pandangan sayu dan wajah memerah, membuat Adriana kesal sendiri.

“Ya terimakasih, kau boleh pergi sekarang.” usir Adriana kesal.

Pelayan tadi tersentak, kemudian segera pergi dari hadapan mereka setelah sebelumnya mengucapkan ‘selamat menikmati’ dengan terbata dan nafas memburu, entah apa itu maksudnya.

Adriana mengalihkan pandangannya dari punggung pelayan tadi, kearah William yang ternyata masih memandanginya. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Adriana ketus.

“Cemburu ma’am?” William menyeringai.

Adriana mengerutkan keningnya bingung, “Cemburu kau bilang? Jangan bermimpi, Sir” tukasnya galak. Adriana kemudian mulai memakan pastanya dengan lahap, secara sengaja mengabaikan William yang masih memandanginya.

William tersenyum kecil melihat Adriana yang memakan makannya dengan lahap, lalu dengan cepat senyum itu pun menghilang dan digantikan dengan raut datar kembali. Ia kemudian mulai memakan lasagnanya sambil sesekali melihat Adriana yang mengabaikannya.

“Ini enak sekali,” puji Adriana dengan mulut penuh dan bibir belepotan. “Tentu saja itu harus enak. Aku tidak akan mengajakmu kemari jika makanannya tidak enak.” Sahut William langsung. Ia mengarahkan tangannya ke wajah Adriana, lalu mengusap bibir gadis itu dengan jemarinya. “Kau makan seperti anak kecil saja,” tegur William tak habis pikir.

Adriana tersentak kaget saat jemari William mengusap bibirnya. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak tidak karuan dan wajahnya otomatis memerah karenanya. Ia berdeham kemudian melanjutkan makannya dengan canggung. “Kau sakit?” tanya William bingung.

“Tidak,” jawab Adriana cepat.

“Wajahmu memerah,” tukas William datar. Adriana melotot memandang Willian, “diamlah!” gerutu gadis itu kesal. William hanya menyerangai dan memutuskan untuk mengunci mulutnya, tidak ingin membuat gadis dihadapannya kembali marah padanya.

Mereka melanjutkan kegiatan mereka dalam keheningan. Hanya terdengar suara dentingan sendok garpu dengan piring, dan samar-samar percakapan samar orang-orang di seluruh penjuru café. Setelah akhirnya seluruh makanan mereka tandas, mereka pun tetap diam.

William melirik jam yang melingkar di tangannya, meletakkan beberapa lembar uang di meja,  lalu berdiri dari kursinya. “Mari kita pergi, ini sudah malam.” Ajak William. Adriana menyalakan hpnya dan melihat kalau jam sudah menunjukkan pukul 21:47. Ia pun akhirnya bangkit berdiri dan membawa map biru yang tadi diserahkan William.

Mereka berjalan ke dalam mobil dalam keheningan. Adriana terus menatap map ditangannya, sedangkan William fokus menyetir. Sesampainya mereka di hotel tempat Adriana tinggal, William keluar dari mobilnya bermaksud mengantar Adriana sampai depan kamarnya.

Adriana tiba-tiba menyerahkan map tersebut kepada William setelah mereka sampai di depan kamar Adriana. “Ambil ini, aku tidak akan menyetujuinya.”

William menatap Adriana datar, mengabaikan map yang disodorkan Adriana padanya. “Tidak, baca dan pertimbangkan. Kuberikan waktu seminggu. Jika ada yang ingin kau tanyakan, kau bisa menghubungiku. Kau sudah menyimpan nomorku bukan? Aku akan menunggu.”

“Tapi-“

“Shhh, tidak ada tapi-tapi. Baca saja dan pertimbangkan ok?” William berbisik dengan nada rendah, membuat jantung Adriana seakan ingin melompat dari tempatnya. Dengan kaku Adriana akhirnya mengangguk. “Good girl, sekarang masuklah dan beristirahat. Kita akan bertemu kembali setelah kau mendapatkan jawabanmu.”

Adriana mengerjap saat ia merasakan sebuah benda lembut di atas bibirnya. Ia terdiam kaku mendapati William menciumnya, hanya sekedar mengecup bibirnya. “Good night, baby,” bisik William tepat di telinga Adriana.

Setelah mengatakan itu, William pergi dari hadapan Adriana. Adriana terus diam sambil menatap kosong tempat William tadi berdiri. Jantungnya bertalu-talu dengan kencang. “A-apa dia b-baru saja me-menciumku? D-dia baru saja menciumku!! Oh Tuhan!!!” pekik Adriana histeris di lorong hotel.

Dengan linglung ia memasuki kamarnya, lalu menidurkan dirinya di atas kasur. “Ini benar-benar gila,” gumamnya sendiri. Ia kemudian berguling-guling diatas kasurnya, lalu duduk sambil memegang map biru yang tadi diberikan William.

“Kau yang gila!” ujarnya pada map tersebut sambil memelototinya. Adriana menghela napasnya, ia kemudian membuka map tersebut lalu mulai membaca kembali.

 

PASAL 1

KERAHASIAAN

  1. PIHAK PERTAMA maupun PIHAK KEDUA harus berjanji untuk merahasiakan keberadaan surat perjanjian ini.
  2. Jika PIHAK PERTAMA melanggar point pertama, maka PIHAK PERTAMA akan diberikan hukuman yang sifatnya ditentukan oleh PIHAK KEDUA.
  3. Jika PIHAK KEDUA melanggar point pertama, maka PIHAK KEDUA akan diberikan hukuman yang sifatnya ditentukan oleh PHAK PERTAMA.
  4. Pengecualian akan diberikan dengan kesepakatan PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.

 

PASAL 2

HAK DAN KEWAJIBAN

  1. PIHAK PERTAMA berkewajiban untuk melakukan seluruh keinginan PIHAK KEDUA tanpa terkecuali selama perjanjian berlangsung, sebagai berikut:
  • Menghadiri acara keluarga
  • Menghadiri pertemuan penting
  • Menghadiri pesta
  • Tinggal bersama
  1. PIHAK KEDUA berkewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan PIHAK PERTAMA selama perjanjian berlangsung, sebagai berikut:
  • Keselamatan
  • Tempat tinggal
  • Transportasi
  • Pakaian
  • Selebihnya akan didiskusikan dengan kedua belah pihak dan dilampirkan
  1. PIHAK PERTAMA berhak untuk mengajukan Addendum.
  2. PIHAK KEDUA berhak untuk menolak Addendum yang diajukan PIHAK PERTAMA.
  3. PIHAK PERTAMA berhak menikmati segala fasilitas yang sudah disediakan PIHAK KEDUA.
  4. PIHAK PERTAMA berhak menolak keinginan PIHAK KEDUA yang berada di luar kewajiban.
  5. PIHAK KEDUA berhak menolak keinginan PIHAK PERTAMA yang berada di luar kewajiban.

 

PASAL 3

KESELAMATAN

  1. PIHAK PERTAMA akan dijamin keselamatannya oleh PIHAK KEDUA.
  2. PIHAK KEDUA akan menyediakan dua orang bodyguard untuk PIHAK PERTAMA untuk keselamatannya.
  3. PIHAK PERTAMA tidak berhak menolak penjaminan keselamatan.

 

PASAL 4

LAMA PERJANJIAN

PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA akan menjalankan perjanjian selama tiga bulan. Jika dalam kurun waktu tersebut dinilai kurang, maka akan diadakan pembaruan perjanjian.

 

PASAL 5

BATASAN – BATASAN

  1. PIHAK PERTAMA tidak diperbolehkan ikut campur masalah pekerjaan PIHAK KEDUA.
  2. PIHAK KEDUA tidak diperbolehkan ikut campur maslaah pekerjaan PIHAK PERTAMA.
  3. PIHAK PERTAMA tidak diperbolehkan menjalin hubungan dengan orang lain selama perjanjian berlangsung.
  4. PIHAK KEDUA tidak diperbolehkan menjalin hubungan dengan orang lain selama perjanjian berlangsung.
  5. Batasan-batasan lainnya akan didiskusikan PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA kemudian dilampirkan.

 

Demikianlah surat perjanjian ini dibuat dua rangkap. PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA masing-masing mendapatkan satu rangkap yang semuanya memiliki kekuatan hukum yang sama. Surat perjanjian ini akan ditanda tangani di depan satu sama lain dalam keadaan sehat dan tanpa paksaan.

 

Vancouver, 16 September 2017

Tertanda,

PIHAK PERTAMA                                                                                           PIHAK KEDUA

 

(Adriana Fara Evans)                                                                               (William Denzel Black)

 

 

Adriana terdiam. Kalau boleh jujur, perjanjian ini tidak sepenuhnya merugikan dirinya, malah sebaliknya. Perjanjian ini menguntungkannya. Terlebih untuk pasal keselamatannya, haruskah ia tersanjung pada usaha William walaupun sejujurnya caranya itu sangatlah aneh. Menggunakan perjanjian konyol seperti ini? Yang benar saja. Sekarang ia malah penasaran dengan alasan William membuat perjanjian seperti ini. Dan yang lebih penting, kenapa dia yang dipilih?

Adriana mengambil ponselnya, kemudian mencari nomor William. Ia harus bertanya pada pria itu apa maksudnya sebenarnya.

 

To: Mr. Arrogant

Apa maksudmu dengan membuat perjanjian seperti ini?

Sent 23:21

 

Adriana menatap ponselnya, Apa dia sudah tidur? Batin Adriana. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan baru saja masuk. Dengan cepat Adriana membukanya.

 

From: Mr. Arrogant

Kau belum tidur? Tidurlah.

Tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin kau membantuku. Aku membutuhkan seorang kekasih.

Received 23:23

 

To: Mr. Arrogant

Kenapa harus aku? Kau bisa menyewa salah satu jalang diluar sana untuk menjadi kekasihmu. Untuk apa kau repot-repot membuat surat perjanjian seperti ini hanya untuk menjadi kekasih pura-puraku?

Sent 23:23

 

From: Mr. Arrogant

Karena aku menginginkamu.

Received 23:24

 

Adriana memutuskan untuk tidak membalas pesan Wiliam karena terlalu kaget. “Bercandanya benar-benar tidak lucu. Menyebalkan,” gumam Adriana kesal. Ia menaruh kembali ponselnya di meja kecil di samping tempat tidurnya bersama map perjanjiannya.

Ia kemudian membaringkan tubuhnya kembali di atas kasur. Ia baru saja memejamkan matanya sejenak saat tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Dengan malas ia meraba-raba meja kecil di samping kasurnya dan mengambil ponselnya kembali. Ada sebuah pesan dari William. Dengan cepat Adriana membukanya.

 

From: Mr. Arrogant

Sleep tight, Adriana

Received 23:29

 

Adriana tersenyum membaca pesan tersebut. “Sleep tight, William,” gumamnya pelan sebelum akhirnya beselancar kealam mimpi.

 

 

-TBC-

Advertisements

My Protective Mr. Arrogant

Title: My Protective Mr. Arrogant

Genre: Romance

Length: Chaptered

.

Cast:

William D. Black | Adriana F. Evans

.

Afiraa’s speech:

Hai hai, this is me again. Aku bawain cerita baru. Menurut kalian gimana? Harus dilanjutin nggak? Untuk lanjutan ff nya ditunggu aja yaa hehehe. Bakal segera Afiraa update secepat yang Afiraa bisa. Cerita ini pendek banget karena memang cuma prolog, tapi Afiraa minta pendapat kalian semua yaaa. Jangan lupa like + commentnya.

Happy Reading

.

.

.

my protective mr arogant

PROLOG

.

.

.

William membuka matanya perlahan saat ia merasakan gerakan kecil di sampingnya. Tubuhnya terasa lelah dan kepalanya pening luar biasa. Perlahan pria itu duduk kemudian memejamkan matanya, mencoba mengingat-ngingat apa yang sekiranya terjadi semalam.

Setelah beberapa lama terdiam, sebuah ingatan tentang malam kemarin menghantamnya. William membelalakkan matanya, kemudian menolehkan kepalanya kesamping dengan sangat cepat. Seorang wanita sedang tidur di sampingnya dalam keadaan polos. William melotot kaget, terlebih setelah ia melihat cecerah darah di seprai tersebut.

Sebelum William melakukan apapun, wanita disampingnya menggeliat kemudian membuka matanya perlahan. William terdiam melihat wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya sesat, lalu melotot kaget setelah mengingat sesuatu.

“Sialan!” wanita itu memekik histeris setelah melihatnya, “A-apa, apa ki-kita semalam melakukannya? Maksudku, jangan bilang kalau kemarin malam kita bercinta?” William diam tidak menjawab, sebenarnya ia bingung harus bicara apa setelah melihat reaksi wanita itu.

Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari William, Adriana menyibak selimutnya, memperlihatkan tubuh polosnya yang ternodai beberapa bercak kemerahan. Adriana melotot horror melihatnya, sedangkan William hanya bisa meneguk air liurnya gugup karena disuguhkan penampilan yang menggoda iman.

“Jadi kita benar-benar sudah bercinta! Oh tidak, aku sudah tidak  perawan!” teriak Adriana histeris. William tetap bungkam. “Ini tidak mungkin terjadi, ini pasti mimpi. Oh Tuhan, ini tidak mungkin benar-benar terjadi!” gumamnya kemudian, seperti orang linglung.

William menghela napasnya mendengar gumaman Adriana. “Siapa namamu?” tanya William langsung dengan dingin.

Adriana menoleh dan menatap William dengan pandangan aneh kemudian bergumam kembali dengan pandangan kosong, “dia bahkan tidak tau namaku setelah ia meniduriku semalam. Ini gila, ini pasti mimpi, aku-“

“Aku bertanya siapa namamu,” tukas William kesal.

Adriana menoleh pada William kemudian melotot galak. “Adriana,” jawab Adriana ketus. William mendengus, “nama lengkapmu?” tanyanya kembali menuntut.

Adriana melotot, menatap William dengan pandangan menusuk. William hanya mengangkat sebelah alisnya acuh.

“Adriana Fara Evans,” jawab Adriana masih dengan sikap ketusnya.

William mendengus. “Baiklah Ms. Evans, kupikir kau pasti mengingat jelas kegiatan panas kita semalam-“ Adriana melotot marah, “Jangan mengelak, aku bahkan mengakui kalau yang semalam sangat intens, sangat panas.” Adriana hanya mendengus, tidak menanggapi.

“Tapi dengar, yang semalam sungguh diluar kendaliku. Maksudku, kita berdua sama-sama mabuk, dan sama-sama menginginkannya. Kita berdua menikmati malam panas yang baru saja kita lewati. Mungkin kau menyesalinya saat ini, tapi aku tidak. Tapi aku akan tetap bertanggung jawab karena bagaimanapun juga, kau kehilangan keperawananmu karena diriku. Jadi, berapa yang kau minta? Seratus juta? Dua ratus juta? Lima ratus juta bahkan?”

Adriana memandang William marah. “Dengar ya Mr. Arogant, AKU TIDAK BUTUH UANGMU, jadi simpan saja uangmu itu atau berikan saja pada jalang-jalang diluar sana yang mau membuka pahanya lebar-lebar untuk dirimu!” desis Adriana geram.

Dengan cepat Adriana beranjak dari ranjang, kemudian memakai pakaiannya yang berserakan dilantai tanpa memperdulikan William yang diam memandanginya dengan sorot bergairah. Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, Adriana meninggalkan kamar tersebut disertai bantingan pintu, setelah sebelumnya melotot pada William dengan kesal.

William menghela napasnya kembali, kemudian memijat pelan kepalanya yang pening. Mungkin karena efek alkohol yang semalam diminumnya. Ia meraba meja kecil disamping tempat tidurnya, mengambil ponselnya, dan mendial sebuah nomor.

“Sir?”

“Thomaz, bawakan aku Advil. Oh, dan cari semua informasi tentang Adriana Fara Evans.” Segera setelah ia mengatakannya, ia memutuskan sambungan telepon secara sepihak lalu memutuskan untuk mendinginkan kepalanya di kamar mandi.

William menyalakan showernya dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Pikirannya melayang pada waktu ia sedang mengistirahatkan tubuhnya dengan meminum secangkir kopi di sebuah café kecil yang direkomendasikan Thomas padanya, lalu sampai pada saat pertama kali ia melihat Adriana masuk kedalam café. Ia merasakan adanya daya tarik sensual yang begitu besar pada Adriana. Ia tidak menyangkal kalau Adriana sangatlah cantik. Tubuhnya berada dalam proporsi yang benar-benar ia sukai.

William benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya selama dua puluh delapan tahun ia hidup, ia seakan kehilangan kendali dirinya. Ia meniduri wanita yang ia tidak kenal, di hotel yang dia tempati sendiri.

Well, William tidak pernah sekalipun membiarkan wanita-wanita yang ditidurinya memasuki dunia pribadinya. Keluarga dan sahabatnya jelas sebuah pengecualian, karena ia jelas tidak meniduri mereka. Tapi Adriana membuatnya melanggar kebiasaannya, dan Willian sangat bingung karenanya.

Setelah beberapa lama mendinginkan kepalanya di kamar mandi, ia keluar kemudian memakai setelan kerjanya. Di meja kerjanya, sudah tersedia segelas air, satu butir Advil, dan sebuah map merah.

William meneguk Advilnya, kemudian mengambil map tersebut dan beranjak untuk duduk diatas ranjangnya yang sudah rapih tanpa cacat.

William memindai isi map itu dengan cermat, dan semakin lama ia membaca isi map tersebut, sebuah seringai mengerikan semakin tercetak jelas di bibir lelaki itu.

Well, we’ll see what next Adriana.”

 

 

 

-TBC-