My Protective Mr. Arrogant // Part 5 – Decision

Part 5

Decision

Mata Adriana membelalak, ia menatap William dan villa dihadapannya secara bergantian dengan mulut menganga lebar.

Mendapati reaksi Adriana yang terpukau seperti itu membuat William senang bukan main. Pria itu dengan segenap tenaga berusaha untuk menekan wajahnya sendiri agar tidak tersenyun, dan malah menghasilkan sebuah seringai menyebalkan-menurut Adriana.

“Ayo masuk,” ajaknya kemudian.

Pria itu meletakkan tangannya di belakang punggung Adriana, dan menuntunnya untuk masuk ke dalam villa tersebut.

Sesaat Adriana menginjakkan kakinya di dalam villa tersebut, gadis itu kembali berdecak kagum. Villa yang dari luar memang terlihat menakjubkan itu membuatnya semakin menyukainya.

Tanpa mempedulikan William, Adriana berjalan sendiri tanpa di komando. Ia menyusuri setiap sudut rumah itu dengan William yang tetap setia mengikutinya dari belakang tanpa banyak bicara.

“Dari mana kau tau ada villa seperti ini?” Tanya Adriana, membuka percakapan.

“Ini milikku,” jawab William singkat.

Adriana mendengus, sebenarnya ia ingin membantah lagi, tapi ia mengurungkan niatnya itu mengingat kalau hal itu bukan urusannya sama sekali.

“Apa semua wanitamu kau bawa kesini?” Tanya gadis itu lagi.

“Tidak.”

Tidak perlu seketus itu juga kali! Pria menyebalkan!

“Akan kutunjukkan kamar kita, ayo.”

Tanpa menunggu reaksi Adriana, William berjalan menjauh dengan tubuh tegang. Adriana melengos melihat hal tersebut. “Apa-apaan sih pria itu? Aneh sekali!”

Walaupun sambil menggerutu, Adriana tetap mengikuti William dari belakang pria itu.

Baru beberapa detik ia berjalan, ia kemudian berhenti mendadak dan melotot. “Tunggu dulu! Apa yang kau maksud dengan kamar kita?! Kau gila ya? Ingin mati?!”

William terus berjalan naik ke lantai dua tanpa mempedulikan Adriana yang berteriak-teriak di belakangnya. Dalam hati ia tertawa karena reaksi gadis itu sangatlah lambat.

Dasar bodoh, William membatin.

“Cepatlah!” William berseru agak keras saat ia merasa Adriana masih belum mengikutinya kembali.

“Brengsek!”

Sumpah serapah yang keluar dari mulut Adriana entah kenapa malah membuat William bergairah. Pria itu mendengus, mencoba mengabaikan tubuhnya yang memanas secara mendadak. Terlebih saat ini gadis yang merupakan penyebab gairahnya tersulut itu sedang berjalan di sampingnya.

Tapi tunggu dulu, gadis?

William tertawa dalam hati. Tentu saja bukan gadis lagi, karena Adriana sudah tidak perawan, and well, he’s the one who took that from her.

Tanpa sadar, mereka sudah berada di depan pintu kamar. Dengan baik hati William membukakan pintu dan mempersilhkan Adriana untuk masuk.

Lagi-lagi kamar dengan aksen putih-abu menyapa mata mereka

Lagi-lagi kamar dengan aksen putih-abu menyapa mata mereka. Membuat Adriana kembali berdecak kagum.

Dengan langkah cepat, Adriana berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke arah pantai. Ia kemudian melihat pemandangan indah yang tersaji di depan matanya.

How beautiful.”

William mendekat.

Pria itu melingkarkan kedua tangannya di sekitar perut Adriana,kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.

Adriana membeku. Tubuhnya mendadak kaku mendapati perlakuan William yang menurutnya kurang ajar.

“Lepaskan!”

Bukannya melepaskan rengkuhannya, pria itu malah mempereratnya. “Tidak,” tolak William tegas.

Adriana melenguh.

Karena terkejut, ia sontak menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. William menyeringai dalam aktivitasnya. Jadi, William tiba-tiba saja mengecup dan menggigit leher Adriana, itulah yang membuat wanita itu melenguh.

Adriana memejamkan matanya. Tanganya terkulai lemas di samping kanan kiri tubuhnya. Bibirnya terus ia gigit, mencegah suara-suara tak pantas meluncur keluar dari mulutnya.

“Hen-hentikan,”

Adriana mengerang. Tubuhnya semakin melemas karena William tak kunjung menyudahi aktifitas tidak senonohnya.

Dengan gencar, William terus mengecup dan menggigit kecil ceruk leher Adriana, membuat leher yang tadinya mulus menjadi dihiasi banyak bekas-bekas kepemilikannya.

Adriana menghela nafas lega setelah pria itu berhenti mengerjai leher sucinya.

William menggeram. Hasratnya sudah tidak mampu ia bendung, ia bisa merasakan kalau selatan tubuhnya sudah bangkit sepenuhnya.

Pria itu kemudian menggertakan giginya, ia kemudian melepaskan pelukannya dari Adriana dan beralih ke kamar mandi. “Aku akan mandi dulu,” ujarnya kaku.

Adriana hanya mengangguk. Pipi wanita itu memerah dan jantungnya terus berpacu kencang. Bukannya ia tidak tau kalau William sudah tersulut gairahnya, ia bisa merasakan dengan jelas kekerasan tubuh William saat pria itu memeluknya tadi. Tapi ia jelas tidak siap, walaupun ia tau apa yang pria itu inginkan, ia tidak bisa memberikannya. Ia hanya.. tidak siap.

Setelah kepergian William, Adriana merenung. Apa yang ia lakukan ini benar? Ikut ke sini bersama William? Apa itu hal yang benar untuk ia lakukan? Apa tidak masalah seperti ini?

Tapi kalau di pikir-pikir. Ini sedikit konyol. Mereka baru saling mengenal tidak lebih dari satu bulan. Lebih tepatnya baru satu minggu. Tapi mereka sudah melakukan hubungan seksual yang selama ini ia hindari. Dan lihatlah sekarang, ia sedang berlibur dengan pria itu di Hawaii, berdua, di pantai pribadi yang tidak berpenghuni.

Adakah yang lebih aneh dari ini? Oh, dan jangan lupa, pria sialan itu juga memberikannya sebuah perjanjian dimana ia harus mau berpura-pura menjadi kekasihnya.

Apa-apaan itu? Adriana mendesah, hidupnya sudah cukup aneh, sudah cukup sulit, kenapa Tuhan malah memberikan kesulitan lainnya dengan menghadirkan pria brengsek itu di hidupnya?

Terkadang ia merasa, hidup benar-benar tidak adil.

Ibunya kabur dengan lelaki lain saat ia masih balita, membuat ayahnya depresi dan berubah membencinya. Lelaki yang tidak bisa ia sebut ayah itu berkali-kali mencoba membunuhnya. Ia juga berkali-kali di pukul dan di cambuk jika pria itu tersulut emosi. Ia bahkan pernah hampir di perkosa oleh ayahnya sendiri. Bayangkan itu, ia tidak butuh tambahan masalah untuk hidupnya.

Ayahnya memang sudah di penjara, namun entah bagaimana, pria itu bisa kabur dua tahun yang lalu dan selama itu pulalah, ia tidak bisa menjalani hidupnya dengan tenang. Ia selalu takut jikalau pria itu tiba-tiba menampakkan dirinya dan mencoba membunuhnya lagi.

Memikirkan hal itu, ia menjadi teringat dengan sms yang pernah ia terima beberapa hari yang lalu. Ia takut dan cemas. Bagaimana bisa pria itu mendapatkan nomor teleponnya? Ia benar-benar tidak tahu.

“Hei.”

Adriana meloncat karena kaget. Jantungnya terasa seperti mereka akan meloncat keluar dari dalam dadanya.

“Jangan mengagetkanku!” Bentaknya kemudian.

William mengangkat sebelah alisnya bingung. “Aku tidak mengagetkanmu. Ak sudah memanggilmu berkali-kali. Kau saja yang melamun. Apa sih yang kau pikirkan?”

Adriana memalingkan wajahnya, “Bukan urusanmu.” Jawabnya ketus.

Hell yeah, itu urusanku. Kau tidak mau menjawab? Well, let me guess, is it about your father?

William menyeringai, sedangkan Adriana menatapnya tidak percaya. “You don’t know anything!” Pekik Adriana marah.

Tangannya mengepal di samping tubuhnya, dan matanya berapi-api karena marah. “Aku sudah mengatakan padamu, aku mencari data tentangmu, dan itu termasuk masa lalumu juga orang tuamu. Aku bahkan tau kalau kau memiliki seorang teman yang tinggal di Italia.” Ucap William lagi.

Mata Adriana membelalak. Ia mundur perlahan, tiba-tiba merasa takut pada pria itu.

“Aku-“

“Sejak awal, aku sudah tau hal ini. Karena itu aku memasukkan poin penting tentang keamananmu di perjanjian yang kuberikan padamu.” Ucapnya lagi.

Adriana diam, ia merasa enggan merespon pria itu.

“Kita bisa saling menguntungkan, Adriana. Tanda tanganilah perjanjian itu. Maka kau akan aman, dan aku akan mendapatkan apa yang aku mau, yaitu dirimu. Tidak buruk bukan? Ini perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak.” Lanjutnya lagi.

Adriana tetap mempertahankan kediamannya sambil terus memikirkan perkataan William.

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya ia membuka suara. “Bagaimana dengan kebutuhan seksualmu? Maksudku, selama kita menjalin hubungan, maksudku perjanjian itu, bukankah kau tidak bisa um…”

“Bercinta? Aku bisa melakukannya denganmu.” Jawab William santai. “Itupun kalau kau bersedia,” tambahnya cepat.

“Aku tidak mungkin bersedia.”

“Tidak, kau akan bersedia. Bahkan, kau yang akan memintanya padaku.” William menyeringai.

“Itu tidak mungkin!” Ujarnya marah.

Well, lihat saja nanti. Jadi bagaimana? Kau bersedia?” Adriana cemberut, ia merasa dilema. Kepalanya pusing, dan ia butuh mandi saat ini juga.

“Aku akan memikirkannya. Minggir. Aku mau mandi.”

“Mau ku temani?”

“Jangan harap! Asshole!


Adriana merengut. Keheningan kamarnya sama sekali tidak membantu mengurangi rasa galaunya. Sebenarnya, bukan mengurangi, suasana kamarnya yang temaram itu malah memperburuk suasana hatinya.

Ia kemudian menghela napasnya dengan berat.

Apa sih tujuan pria itu sebenarnya? Aku yakin alasan yang dia berikan tidak sepenuhnya benar. Memilikiku? Yang benar saja! Aku tidak sebodoh itu untuk mempercayainya.

But.. He’s not that bad i guess.

Geezzz, apa sih yang sebenarnya ku pikirkan! Adriana, sadarlah! Dia itu pria buaya yang dengan sialnya di pertemukan denganmu.

Adriana kemudian memandang map perjanjiannya yang tadi di berikan ‘lagi’ oleh William.

Dengan tidak yakin, ia kembali membaca ulang perjanjian itu. Satu persatu kata ia baca, kemudian ia resapi. Gadis itu kemudian terdiam, lalu menyeringai.

“Mwehehehehe. Mati kau buaya jelek.” Kikiknya senang.

“Siapa buaya jelek?” Tanya William dari depan pintu yang terbuka. “Sejak kapan kau di situ?!” Teriak Adriana histeris.

Mati aku, pasti dia mendengarku!

William mengernyit.

“Hentikan.” Ujarnya tiba-tiba. Adriana menegang, “Hen-hentikan a-pa?” Tanyanya tersendat.

“Menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain. Itu menyebalkan, kau tau?”

Adriana melongo. Dalam hati ia menyesal karena sudah khawatir pria itu tau apa yang ia pikirkan.

“Kau yang menyebalkan. Pergi sana! Keluar dari kamarku!” Bentak Adriana ,mendadak merasa kesal.

Gadis itu kemudian bangkit berdiri dengan kaki menghentak, berjalan ke arah William dengan kesal, lalu mendorong pria itu lebih jauh dari pintu kamarnya, kemudian…

Brak!!!

Ia nenutup pintu itu dengan kekesalan yang tak terbendung. Di luar, William terpaku. Ia merasa takjub dengan perlakuan Adriana.

Pria itu kemudian tertawa. “Menarik. Sangat menarik.”

“Aaaaaaarrrrggghhhhhh!!!!! COWO BRENGSEEEKK!!!! AWAS KAU!!!” Teriak Adriana dari dalam kamar, otomatis membuat William memperbesar tawanya.

Setelah dirasa kalau William sudah pergi dari depan kamarnya, Adriana kembali duduk di tempat tidurnya. Masih dengan keadaan kesal, gadis itu menatap map perjanjiannya lagi.

“Ini semua gara-gara kau!” Tuding gadis itu.

Hening

“Aaaahhhh!! Lelaki itu benar-benar! Menyebalkan sekali!!!” Geramnya lagi.

Tangannya mengambil map perjanjian itu, meremas-remas map tersebut sampai tak terbentuk, sambil giginya bergemeletuk menahan emosi.

“Awas saja!!”

Adriana mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Nah, jadi apa yang harus kulakukan padamu?” Ia bergumam sambil menatap map perjanjiannya yang sudah tidak berbentuk.


William menyesap kopinya dengan hikmat. Suara jangkrik dan debur ombak menemani malamnya yang sepi. Di hadapannya, macbook masih menyala dengan terang.

Ting!

William menoleh saat ada suara email masuk dari macbooknya. Dengan santai ia membuka email tersebut, membacanya perlahan, lalu menyeringai.

Matanya berkilat-kilat di tengah gelapnya malam. Jemarinya kemudian berpindah dari cangkir kopi menuju keyboard dan mengetikkan jawabannya.

“Will.”

Merasa terpanggil, William menolehkan kepalanya dan mendapati Adriana berdiri sambil bersandar di pintu kaca.

What was that?” William bertanya.

Adriana bingung, “what do you mean?

That thing you called me just now.

What?”

“That Will thing.”

“What’s wrong with that?

Oke, sekarang Adriana bingung. Memangnya ada yg salah dengan panggilannya? Apa yg salah dengan panggilan Will? That’s cute though.

“Sejak kapan kau memanggilku seperti itu?” Akhirnya William membuka suara setelah beberapa lama terdiam. “Well, that’s sounds weird. But, i like it

Well, aku kesini bukan untuk mendiskusikan nama panggilanmu.” Ujar Adriana tidak peduli.

William memiringkan kepalanya, kemudian tersenyum miring. “Nah jadi, untuk apa kau kesini? Merindukanku?”

Adriana memutar matanya, “Yang benar saja. Jangan bercanda.” William terkekeh, “Yah, hanya mencoba peruntunganku.”

Adriana tersenyum geli mendengar jawaban William. “Sayangnya kau tidak beruntung,” ia menggoda.

“Sepertinya begitu. Nah jadi, kenapa kau kesini kalau tidak merindukanku?” Tanya pria itu lagi.

ADRIANA POV

“Nah jadi, kenapa kau kesini kalau tidak merindukanku?”

Aku menggigit bibir bawahku. “A-aku…”

“Berhenti menggigit bibirmu, Adriana. Jika kau tidak berhenti melakukannya, kita tidak akan tidur malam ini.”

Aku terkesiap. Matanya menyala-nyala penuh gairah. Sial, bukan ini maksudku kemari.

Aku berdehem. “Aku sudah memiliki jawaban.” Kataku cepat. Aku mengulurkan map perjanjianku padanya, dan dia hanya melihat map tersebut dengan alis berkerut.

“Dan kenapa kertas ini seolah-olah telah terjebak badai?” Ia menyeringai. Kurang ajar. Mukaku terasa terbakar, pria itu memang sialan.

“Kau bisa melihat jawabanku di sana.”

Well, aku sama sekali tidak berniat menanggapi sindirannya tadi “Cepatlah, ambil ini. Tanganku pegal.”

Nah akhirnya, ku goyang-goyangkan tanganku karena pegal. Kenapa sih, pria itu selalu membuatku kesal? Menyebalkan sekali.

Aku memerhatikannya saat ia memandangi map yang kuberikan. Ia beberapa kali menatap map di tanhannya dan aku secara bergantian. Tatatapan matanya sungguh tidak terbaca, dan raut wajahnya berubah serius. Entah aku harus khawatir atau senang dengan hal ini.

“Baiklah, mari kita lihat jawabanmu.”

Aku meneguk salivaku dengan susah payah, kemudian memejamkan mataku. Baiklah, tidak ada jalan mundur. Tenanglah Adriana. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Oke, kau akan baik-baik saja. Tenanglah.

Hening

Kenapa hening sekali? Siapapun, tolong berbicaralah.

“Baiklah, apa maksudnya ini Adriana?” Sial sial sial. Aku sungguh sial. Baiklah Adriana, toh kau sudah basah, menjeburkan diri saja sekalian.

Well, seperti yang kau lihat disitu. Itulah yang kumaksud.”

William menggeram. Sial, lelaki itu menggeram bukanlah pertanda yang bagus. “Apa kau mencoba mengatakan kepadaku kalau kau menolak perjanjian ini? Menolakku?”

Baiklah, kupikir aku tidak akan kembali dari sini hidup-hidup. Tuhan tolong aku. “Baguslah kalau kau mengerti, jadi aku tidak perlu repot-repot menjelaskan.” Jawabku pura-pura acuh.

Pria itu menggeram lagi. Shit. Apa aku membuatnya marah? “Well well well. sayangnya, kau harus menjelaskannya padaku.”

Aku mematung. Sejak kapan ia berada di hadapanku. Aku mengangkat kepalaku, menatapnya tepat di kedua belah matanya yang berkilat-kilat berbahaya.

Matanya berwarna hitam pekat, sangat berbahaya namun sexy. Apa dia selalu se-sexy ini?

Aku terkesiap. Sial. Apa sih yang kupikirkan? “Aku benar-benar ingin tau apa yang sedang kau pikirkan di kepala cantikmu itu, Adriana. Tapi sekarang, aku mau kau menjelaskan padaku semuanya.”

“Ku-kupikir itu sudah cukup jelas. Aku tidak merasa perlu menjelaskan apapun lagi.”

“Oh yeah, kau sangat perlu. Mari, kita masuk kedalam. Kau akan menjelaskannya padaku segalanya di kamar.”

Tunggu dulu, kamar? Serangan panik tiba-tiba saja melandaku. What the fuck?!

“Aku.tidak.akan.menjelaskan.apapun.di.kamar.atau.dimanapun.dan.kapanpun.tidak.sekarang.tidak.nanti.” aku mendesis.

Pria ini! Aku tidak akan membiarkannya berbuat seenaknya lagi!

“Kau tentu akan menjelaskan seluruhnya padaku. Di kamarku. Di bawah tubuhku.” Aku membelalak. Apa-apaan pria ini?

“Aku tidak akan berada di bawah tubuhmu! Kau tidak boleh memaksaku!” Aku berteriak kesal.

“Aaaaaaaaaa!!!!!! Turunkan aku!!!! Sialan!!!! Brengsek!!!! Asshole!!!!! FUCK YOU!!!” Jeritku histeris. Tiba-tiba saja ia menggendongku di pundaknya seakan aku karung beras. Aku akan menghajarnya! Brengsek!

Plakk!!

WHAT THE FUCK!!!

Apa dia.. Apa dia baru saja.. MEMUKUL PANTATKU?!

“KAU GILA?! MAU MATI?! TURUNKAN AKU SIALAN! I HATE YOU!!!”

“I love you too baby. Sekarang diamlah, kau membuatku pusing.”

“What the fuck! Aku tidak bilang i lo- shit. Kau bajingan! Brengsek!” Aku menjerit dan menendang-nendang udara. Aku tidak peduli jika itu mengganggunya! Dia pantas mendapatkannya!

Aku tersentak saat ia melemparku ke kasur. Kurang ajar! “Kau tidak boleh memaksaku!!!” Aku menjerit, kemudian terengah-engah karena emosi.

“Tidak, aku tidak akan memaksamu. Kau akan memohon dengan sendirinya.”

Sial. Apa yang sudah kulakukan.

TBC

Advertisements

My Protective Mr. Arrogant // Part 4 – Hawaii Trip

Part 4

Hawaii Trip

Adriana terdiam kaku. Seluruh darah dalam dirinya terasa mengalir dengan deras ke atas kepalanya. “APA KAU BILANG???!!!” teriak gadis itu kemudian.

William hanya memasang wajah datar, ia sudah mengira kalau respon Adriana akan seperti itu.

“Kau bilang kau akan mengantarkanku ke airport besok! Kenapa kau malah menculikku untuk pergi ke Hawaii sekarang?! Kau gila atau bagaimana?!” cerocos Adriana panik.

“Aku berubah pikiran.” Jawab William singkat.

Adriana menatap Willian tidak percaya. “Aku tidak peduli dengan pikiranmu! Aku tidak mau! Aku harus pulang besok!”

William mengalihkan pandangannya kembali pada Adriana. Pria itu menatap gadis yang sedang panik itu dengan tatapan menilai. Lalu tanpa mengatakan sepatah katapun, pria itu membuka pintu mobilnya kemudian keluar.

Adriana tetap diam di tempatnya, enggan beranjak. Tidak berselang lama, pintu di sebelah Adriana kemudian terbuka.

“Kita akan pulang, tapi kita akan ke Hawaii terlebih dahulu. Aku berjanji akan memulangkanmu kembali tanpa kekurangan suatu apapun,” William mencoba menawar.

Adriana tidak menanggapi.

William menghela napasnya keras. “Turun sekarang dan ikut aku, atau kau akan benar-benar menyesal.”

Merasa lelah berdebat, akhirnya William memutuskan untuk memakai cara andalannya untuk menaklukan gadis keras kepala yang saat ini masih bersikeras mengabaikannya. “Dengar, jika kau tidak turun dalam hitungan ketiga, aku akan menggeretmu keluar dari mobil sialan ini lalu mencumbumu di luar sini. Kau tau aku besungguh-sungguh, Adriana.”

William sedikit mengembangkan senyumnya saat melihat Adriana sedikit bereaksi karena ancamannya. William bisa melihat tubuh gadis itu yang menegang kaku dengan amat jelas dari tempatnya berdiri.

“Satu…” mulai pria itu.

Adriana menggerakkan sedikit kepalanya, dan meremas tangannya sendiri karena gugup.

Pria brengsek itu tidak bersungguh sungguh kan?

“Dua…” lanjutnya pria itu lagi.

Adriana semakin panik.

“Ti-”

“Oke stop! Aku keluar! Aku keluar!” potong Adriana cepat. Gadis itu melepas seatbeltnya dengan panik kemudian keluar dari mobil tersebut dan berdiri di samping William yang saat ini sudah menyeringai puas.

Si brengsek ini benar-benar!

Adriana menggeram, ia merasa terus menerus dipermainkan oleh pria berambut coklat itu. Adriana bersumpah dalam hatinya, kalau ia akan membalas dendam akan perlakuan semena-mena William padanya.

“Kenapa kau diam saja? Ayo cepat naik.” Adriana berdecak. Ia memandang William dengan tajam melalui sudut matanya. William yang dipandang seperti itu tidak mengeluarkan reaksi apapun, namun setelah Adriana berbalik sambil menghentak-hentakkan kakinya, barulah William tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran. “Gadis menarik,” gumam pria itu rendah.

William membuntuti Adriana dan naik ke atas jet perusahaan pribadi tersebut. Adriana berhenti secara tiba-tiba tepat setelah mereka memasuki kabin pesawat. Decakan kagum keluar begitu saja dari mulut Adriana tanpa bisa ia cegah.

Kesan pertama yang ia dapatkan saat melihat kabin pesawat ini hanyalah satu. Menakjubkan. Interior pesawat tersebut di dominasi dengan warna coklat. Kursi di dalam pesawat tersebut hanya ada delapan buah, dan ada sebuah ruangan yang entah apa itu.

Adriana membuka mulutnya karena terlalu takjub dengan pemandangan yang memanjakan matanya itu, membuat William harus menahan tawanya karena wajah yang Adriana tampilkan saat ini menurutnya sangatlah lucu.

Bibir gadis itu terbuka, sedangkan matanya berbinar-binar seakan ia diberikan sesuatu yang amat sangat ia sukai. Senyuman masih terus saja menghiasi wajah gadis itu, membuat William tanpa sadar tersenyum kecil.

“Pesawat ini milik perusahaanmu?” tanya Adriana spontan.

Senyuman di wajah William luntur seketika. Pria tersebut memandang Adriana dengan pandangan terhina, “Pesawat ini milikku, bukan milik perusahaanku.” Tukas William tidak suka.

Adriana membalikkan badannya untuk melihat William yang berdiri di belakangnya, kemudian mengernyit bingung. “Tapi ada tulisan B Industries di badan pesawat ini. Aku tadi melihatnya.”

William mendelik, membuat Adriana semakin bingung. “Itu karena pesawa ini milikku, wajar kalau aku membuat nama perusahaanku di badan pesawat ini bukan? Tapi bukan berarti pesawat ini pesawat perusahaan. Walaupun secara teknis, perusahaan tersebut adalah milikku yang berarti pesawat ini juga milikku secara tidak langsung.”

Adriana mendengus, “Man and his toy,” gumam gadis itu sebal.

I hear that,” ucap William datar.

Adriana menyengir, “Duduklah disini. Kita akan segera lepas landas.”

Adriana mendudukkan dirinya di tempat yang ditunjuk William tanpa protes lagi. Ia tetap diam bahkan saat William menempati kursi kosong di sebelahnya.

“Selamat siang Mr. Black, Ms. Evans. Tolong pakai sabuk pengaman kalian karena kita akan segera lepas landas. Saya Helen, dan ini rekan saya Rose. Kami yang akan menjadi pramugari dalam penerbangan siang hari ini. Jika ada sesuatu yang kalian perlukan, jangan sungkan sungkan untuk memanggil kami.”

Gadis yang mengaku bernama Helen itu menunduk bersamaan dengan gadis berseragam sama yang ada di sebelahnya.

Adriana menoleh kearah William, dan mendapati kalau pria itu sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya dan kelihatannya tidak berencana untuk mengatakan apapun pada kedua pramugari yang berdiri beriringan di sampingnya saat ini.

Adriana kemudian mengalihkan tatapannya kembali pada Helen dan Rose. Tatapan mata gadis itu mendadak berubah tajam saat melihat gadis bernama Rose itu melihat William dengan sorot mata sayu dan wajah memerah.

Adriana mengernyit kemudian berdehem. “Terimakasih, kalian boleh pergi.” Usir Adriana halus.

Kedua pramugari itu tersentak. Helen melayangkan sebuah senyuman padanya, sedangkan Rose melayangkan tatapan merendahkan padanya sebelum kemudian pergi.

Apa-apaan tatapan itu?

Setelah memastikan kedua pramugari itu pergi, Adriana mengembalikan fokusnya kembali pada William. “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Adriana menghembuskan napasnya, “Kenapa kau membawaku ke Hawaii?”

Alih-alih menjawab pertanyaan William, Adriana malah balik bertanya. William mengangkat sebelah alisnya, “Aku lebih dulu bertanya padamu.” Pria itu menjawab.

Adriana berdecak. “Karena kau menyebalkan,” jawab gadis itu asal. “Jadi, kenapa kau membawaku ke Hawaii?” Lanjutnya lagi.

“Karena aku ingin.”

“Yang benar saja! Itu bukan jawaban!” Sentak Adriana tak terima.

William memijat kepalanya yang terasa pening dengan tangannya. “Kau ini tempramen sekali,” ujar pria itu lelah.

“Itu karena kau selalu memancing emosiku. Jadi jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri.”

William mendengus, ia memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk beristirahat.

Ia hampir saja memasuki alam mimpinya kalau saja sebuah suara tidak mengganggunya. “Maaf, sir. Daripada anda tidur disini, lebih baik anda tidur di kamar. Kami sudah menyiapkan seluruh kebutuhan anda disana.”

William membuka kembali matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang pramugari dengan rambut pirang panjang yang dikuncir kebelakang sedang membungkuk dan tersenyum kepadanya.

Ia mengabaikan pramugari tersebut, kemudian menoleh kesamping dan mendapati Adriana tengah melotot kesal pada pramugari di hadapannya.

William melirik tag nama di baju pramugari tersebut dan mendaptkan nama Rose tertera di sana.

“Terima kasih, Rose. Ayo Adriana, kita ke kamar.”

Tanpa menunggu jawaban Adriana, William melepas seatbelt miliknya dan milik gadis itu, kemudian bangkit berdiri sambil menarik tangan Adriana agar ikut bersamanya.

“Kenapa kau menarikku? Kita mau kemana?”

Willian menarik Adrina memasuki sebuah ruangan yang tadi dilihat Adriana saat pertama kali masih ke dalam kabin pesawat.

Kesal karena diabaikan, akhirnya Adriana pun memutuskan untuk bungkam dan mengikuti keinginan William tanpa berkomentar lebih lanjut.

Sesampainya mereka dikamar, William mengunci pintu kamar tersebut, lalu mengunci pergerakan Adriana di pintu.

Kedua tangan Adriana di tahan oleh William di samping kepala gadis itu. “Berhenti cemberut,” tegur William sekenanya.

Adriana memberengut, “siapa yang cemberut?” Tukas gadis itu tak terima.

“Kau tentu saja, siapa lagi?”

“Aku tidak cemberut.” Gadis itu membantah.

William menyeringai, ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Adriana, membuat Adriana sontak menahan napasnya.

“Cuma ada kita berdua saat ini. Kau ini pencemburu sekali sih?”

Wajah Adriana memerah. William terkekeh kecil menikmati pemandangan Adriana yang merona karena godaannya.

“Now… should i kiss you, Adriana?”

Adriana membeku di tempatnya berdiri. Napasnya tanpa sadar ia tahan, membuat dadanya sesak karena kekurangan pasokan oksigen.

Breath, Adriana.” bisik William tepat di telinga gadis itu.

Adriana otomatis menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Dadanya kembang kempis, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin.

Sementara Adriana berusaha mengalihkan pandangannya dari William, pria itu tidak sekalipun melepaskan pandangannya dari Adriana.

Adriana meneguk salivanya, ia bisa merasakan gemetar tubuhnya sendiri saat pria di hadapannya mendekatkan wajahnya kembali. “You know Adriana? I really like the way you act when you’re with me. Knowing that you’re affected because of me, makes me really happy.

Tanpa menunggu respon gadis itu, William menempelkan bibirnya pada bibir Adriana, kemudian menyesapnya perlahan.

Merasa terbuai, akhirnya Adriana memejamkan matanya sambil berusaha menetralkan degup jantungnya yang menggila.

Open your mouth,” bisik William memerintah.

Tanpa pikir panjang, Adriana membuka bibirnya. Ia membiarkan William kembali menguasai bibirnya, dan terbuai kembali karenanya.

Ini tidak benar batin gadis itu putus asa.

Dengan segala tekad yang dimilikinya, Adriana mengangkat tangannya, dan mencoba mendorong dada William agar menjauhinya.

Bukannya menjauh, William malah semakin merapatkan tubuhnya pada Adriana dan meningkatkan intensitas ciumannya.

Fall for me, Adriana.

William menyeringai di sela-sela ciumannya saat ia merasakan tubuh gadis di dekapannya melemas. Dengan sigap ia merangkul gadis itu tanpa berusaha melepas ciuman mereka.

Adriana menyerah. Ia merasa melayang di perlakukan seperti ini oleh William. Tubuh dan pikirannya sama sekali tidak sejalan. Disaat ia berpikir kalau yang ia lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan, tubuhnya malah berkata yang sebaliknya. Tangan yang seharusnya ia gunakan untuk mendorong pria brengsek di hadapannya, malah melingkar erat di leher pria itu.

Sekali ini saja ,aku akan menikmati ini sekali saja,’ kilah Adriana dalam hati.

Adriana mengeratkan pegangannya pada leher William dan mulai membalas ciuman pria itu. Ia menutup matanya kembali, dan berusaha untuk tidak mempedulikan apapun lagi. Ia membuang jauh-jauh akal sehatnya dan malah menikmati dosa kecilnya bersama William.

Eengh” erang Adriana lirih.

Adriana membeku mendengar erangannya sendiri. Seakan tersadar, gadis itu kemudian membuka matanya dengan panik, lalu mendorong William keras-keras sampai ciuman mereka terlepas.

Fuck!” Umpat gadis itu spontan.

William menyeringai, “Watch your language, Adriana. But well, I don’t mind if you want me to fuck you again.”

Adriana melotot. Ia mengusap bibirnya kasar kemudian menatap William dengan tajam.

“Fuck you!”

Language, Adriana. I warned you.”

William menatap Adriana dengan pandangan menegur. Adriana mengepalkan tangannya karena emosi. Adriana berpikir, bukankah seharusnya ia yang marah disini? Tapi kenapa pria itu malah membuatnya merasa seperti anak sekolahan yang ditegur karena mengabaikan perintah gurunya?

“You don’t have any right to command me.” Desis gadis itu marah.

Bukannya tersinggung, William malah menyeringai kembali. “Well, i do have you.”

“I’m not yours! Asshole!”

“I already warned you to watch your language .” Tegur pria itu lagi.

Bibir William kembali menempel di erat di atas bibirnya tanpa bisa ia cegah. Lagi-lagi Adriana membeku. Sepertinya William sangat senang membuat Adriana tidak berdaya, seperti saat ini.

“Just enjoy this kiss. Forget everything. You’ll be fine.” Bujuk pria itu pelan.

Adriana menyerah. Ia menyerah pada gairahnya, ia menyerah pada tubuhnya, ia menyerah pada William. “Just one kiss.” bisik gadis itu lirih.

Just one kiss.” ulang William meyakinkan, sebelum ia membawa Adriana kembali kedalam rengkuhannya dan mencium gadis itu dengan penuh hasrat.


Adriana melangkahkan kakinya lebar lebar. Setelah acara ‘mari cium Adriana’ di pesawat tadi, Adriana sepenuhnya mengabaikan William. Ia tidak mempedulikan apapun yang dilakukan oleh pria itu.

Wajahnya memanas mengingat kejadian di pesawat tadi. Setelah Adriana pasrah menerima ciuman William, mereka terus berciuman sampai pesawat mereka mendarat.

Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana William menciumnya dengan lembut namun juga menggebu-gebu di saat yang bersamaan. Juga saat pria itu membopong tubuhnya dan membaringkan tubuhnya di kasur sebelum akhirnya pria itu mencumbunya kembali.

Adriana menggigit bibirnya. Sensasi asing di tubuhnya masih terasa sampai sekarang. Semilir angin yang menerpa tubuhnya sama sekali tidak membantu, malah memperburuk.

Jejak sentuhan William seakan membekas di tubuhnya. William tidak hanya mencium bibirnya, tapi pria itu juga mengecup lehernya dan membuat tanda kepemilikannya di sana. Pria itu bahkan menyentuh payudaranya dengan cara yang tidak pernah ia rasakan.

Memikirkan tentang bagaimana cara pria itu menyentuhnya membuatnya yakin kalau pria itu pasti sudah sangat berpengalaman.

Adriana menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, membuat William yang mengekor di belakangnya ikut menghentikan langkahnya.

“Berapa orang?” Tanya Adriana tiba-tiba tanpa berbalik.

William mengerutkan keningnya bingung. “Maksudmu?” Tanya pria itu tak mengerti.

“Berapa banyak orang yang sudah kau tiduri?”

William membeku. Tenggorokannya mengering tiba-tiba. Ia berdeham, “aku tidak mengerti apa maksudmu.”

Adriana memutar tubuhnya menghadap William. Ia menatap pria tersebut dengan pandangan menuntut.

William menghela napasnya. “Aku tidak menghitungnya,” jawabnya datar.

Adriana merengut. ‘Terlalu banyak sampai tidak bisa dihitung’ pikirnya yakin. William memilih untuk bungkan saat melihat rengutan gadis itu.

Adriana berbalik kembali, kemudian mendudukkan dirinya di hamparan pasir lalu menatap laut lepas yang tersaji di hadapannya.

Air laut tidak sampai ke tempatnya duduk, jadi ia tidak khawatir pakaiannya akan basah nanti. Adriana melirik William yang ikut mendudukkan tubuhnya di sampingnya lewat sudut matanya.

“Sebenarnya, kenapa kau memberikanku perjanjian itu padaku?” Mulai gadis itu membuk pembicaraan.

“Aku sudah mengatakan alasannya padamu.” Jawab pria itu singkat. Adriana mendengus.

“Karena kau menginginkanku? Yang benar saja! Kau pikir aku akan percaya dengan alasan seperti itu? Katakan alasan yang sebenarnya!”

William mendesah, pria itu kemudian memijat leher belakangnya yang terasa pegal dengan tangan kirinya. “Itu alasan yang sebenarnya. Terserahmu mau percaya atau tidak.”

Adriana berdecak. Gadis itu merasa kesal karena rasa penasarannya tidak terjawab. Tapi karena gadis itu yakin kalau William tetap akan memberikan jawaban yang sama berapa kalipun ia bertanya, akhirnya ia memilih untuk mengalah.

Matahari yang tadinya tertutup oleh awan mulai menampakkan wujudnya kembali, membuat cuaca yang tadinya sedikit mendung menjadi terang kembali.

William mengernyit tidak suka saat teriknya matahari terasa menyengat kulitnya. “Lebih baik kita ke villa sekarang. Aku tidak mau kulitmu terbakar.” Ujar pria itu sambil bangkit berdiri.

Adriana ikut bangkit berdiri. Gadis itu memaksakan dirinya untuk diam saat William tiba-tiba saja menepuk-nepuk pantatnya untuk membersihkan pasir yang menempel disana.

“HEY!!!”

Adriana spontan berteriak saat pria itu dengan kurang ajarnya meremas pantatnya setelah membersihkan pantatnya dari pasir-pasir.

Tanpa berbicara lagi, William merangkul Adriana dan menuntun gadis itu menuju sebuah villa yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk tadi.

Pada dasarnya, villa itu adalah satu-satunya bangunan yang ada di sekitar pantai.

Tersadar akan sesuatu yang janggal, Adriana menengok ke kanan kiri. “Ini pantai pribadi milikku. Tidak ada orang lain disini selain kita.” Jawab William tanpa diminta.

Adriana menatap William skeptis.

“Man and his money.” Ejek gadis itu sambil terkekeh.

William memilih untuk diam. Pria itu hanya tersenyum samar menanggapi ejekan Adriana. Anehnya, ucapan Adriana tidak menyinggungnya. Padahal ia paling tidak suka jika orang lain menilai kelakuannya. Apapun itu.

Well, mungkin Adriana adalah pengecualian.

William menghentikan langkahnya saat Adriana tiba-tiba saja berhenti melangkah. “Ada apa?” Tanya pria itu.
“…”

Merasa tidak mendapat jawaban, pria itu menoleh dan mendapati Adriana terdiam dengan binar kagum di matanya dan mulutnya yang terbuka lebar.

This is wonderfull!!!” Pekik gadis itu kagum.

William menolehkan kepalanya kembali kearah villanya, kemudian menyeringai lebar.

Welcome to our kingdom, my queen.”

-TBC

My Protective Mr. Arrogant // Part 3 – Consideration

Part 4

Consideration

Adriana memutuskan untuk tidak membalas pesan Wiliam karena terlalu kaget. “Bercandanya benar-benar tidak lucu. Menyebalkan,” gumam Adriana kesal. Ia menaruh kembali ponselnya di meja kecil di samping tempat tidurnya bersama map perjanjiannya.

Ia kemudian membaringkan tubuhnya kembali di atas kasur. Ia baru saja memejamkan matanya sejenak saat tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Dengan malas ia meraba-raba meja kecil di samping kasurnya dan mengambil ponselnya kembali. Ada sebuah pesan dari William. Dengan cepat Adriana membukanya.

From: Mr. Arrogant

Sleep tight, Adriana

Received 23:29

Adriana tersenyum membaca pesan tersebut. “Sleep tight, William,” gumamnya pelan sebelum akhirnya beselancar kealam mimpi.

***

Adriana menimang map ditangannya dengan bimbang. Setelah Ia membaca kembali perjanjian yang diajukan William padanya, ia malah merasa ragu dengan keputusannya. “Yes or no?” gumamnya bimbang.

Tunggu dulu, kenapa pula aku sampai harus sebimbang ini karena surat perjanjian sinting yang dia tawarkan? Harusnya aku dengan tegas menolak! Bukan malah bingung sendiri seperti ini. Ini sangat aneh, seperti bukan diriku saja! Tapi… pria itu, dia bisa melindungiku batin gadis itu.

“Aaaaaaahhhhh!!! Aku bisa gila!!!” teriaknya tiba-tiba. Adriana meremas rambutnya sendiri lalu berguling-guling di atas ranjangnya sambil meracau “apa yang harus kulakukan,” secara berulang-ulang.

“Mungkin kau harus menerimanya, aku bisa melindungimu,” Adriana tersentak. Kepalanya menoleh dengan cepat kearah pintu dan mendapati William berdiri di sana dengan tangan terlipat dan bibir menyeringai.

“AAAAAAAAAA!!! PERGIIIIIIIIIIII!!!” teriak Adriana histeris.

Ia melempari bantal-bantal yang ada di atas kasurnya dengan brutal kearah William tanpa melihatnya. Namun saat ia mencoba melihat William kembali, pria itu sudah tidak ada di sana lagi. Ternyata hanya khayalanku saja, sepertinya aku memang sudah gila batin Adriana sengsara.

Gadis itu kemudian membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur, menatap atap kamar hotel yang bersih tanpa cacat. Besok ia akan pulang ke Seattle dan kembali menjalankan hidupnya seperti biasa. Tapi pemikiran bahwa ia tidak akan bertemu kembali dengan William mengusiknya.

“Apa yang sedang dilakukan pria itu saat ini ya?”

“Aku? Aku sedang menatapmu dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyantapmu, Adriana,” Adriana terduduk di kasurnya dan menatap William yang berdiri di depan pintu kamar hotelnya sambil bersedekap.

Aku berhalusinasi lagi. Ini sudah mulai mengkhawatirkan batin Adriana takut.

Adriana mengabaikan halusinasinya tentang William dan membaringkan tubuhnya kembali di ranjang. “Kau berbaring? Apa kau benar-benar ingin kusantap, Adriana?” tanya William dengan suara serak.

Adriana mengabaikan William sepenuhnya. Ia berguling kesamping dan menatap map birunya yang tergeletak tak berdaya tidak jauh dari tubuhnya. “Hei, apa yang harus kulakukan padamu?” tanyanya pada map itu.

Tentu saja map tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan Adriana. Adriana merasa bodoh karena sudah bertanya. “Well, mungkin kau bisa mencoba untuk menerimanya,” sahut William tanpa diminta.

Adriana mendelik, “Kau sama menyebalkannya dengan si brengsek William!” hardiknya kesal.

William mengangkat sebelah alisnya, dan sebuah seringaian terbit di bibirnya. “Brengsek huh?” tanyanya geli. Adriana mengepalkan tangannya semangat, “Ya, dia sangat brengsek. Dia meniduriku saat aku mabuk, menggendongku seenaknya, mempermalukanku di café, dan ia menawarkan perjanjian aneh yang sangat tidak masuk akal!” jawab Adriana berapi-api.

“Mempermalukan dirimu sendiri, kalau aku boleh mnengoreksi,” tukas William sakratik.

Adriana kembali mendelik. “Diam kau!” bentak Adriana kesal. “Kau benar-benar mirip dengan yang aslinya. Kurasa aku benar-benar sudah tidak tertolong,” lanjutnya kemudian.

“Apa maksudmu?” tanya William bingung.

Adriana menghela napasnya, “Yah, kau benar-benar mirip dengan William yang asli, Si brengsek itu. Padahal kau hanya khayalanku saja. Sudah sana pergi! Jangan ganggu aku.” Adriana mengibas-ngibaskan tangannya dengan gerakan mengusir. William hanya memandangnya datar.

“Aku baru tau kalau kau sampai mengkhayalkanku segala. Jika aku tau dari awal, mungkin aku akan tetap tinggal disini dan menemanimu semalaman,” ejek William.

Adriana berdecak, ia merasa kesal menanggapi halusinasinya sendiri. Dengan bijak ia memutuskan untuk menutup mulutnya dan mengabaikan halusinasinya itu. “Kau benar-benar merindukanku ya ternyata?” tanya William lagi. Adriana tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan William. “Baiklah kalau begitu, aku akan menetap disini untuk malam ini. Besok kau pulang bukan? Aku akan mengantarmu ke airport.” Lanjut William lagi.

“Bedebah sialan! Diamlah!” bentak Adriana kasar.

Suasana hening seketika. Adriana mendesah lega, “Kurasa itu cukup untuk membuat kepalaku jernih kembali dan menghilangkan halusinasi sialan yang mengangguku.” Karena merasa lelah, akhirnya Adriana memutuskan untuk memejamkan matanya.

Belum lama Adriana memejamkan matanya, ia kembali terusik saat ranjangnya terasa bergerak dan tubuhnya terasa terkekang. Dengan antisipasi, ia membuka kembali matanya. Seketika itu juga ia mendapati sepasang mata yang segelap malam menatapnya dengan pandangan tajam. “K-kau m-“

“Aku bukan hanya sekedar halusinasimu, Adriana,” potong William. Ia terus menatap Adriana dengan pandangan kesal bercampur geli. “Kau membuatku sangat marah karena terus menerus membentakku. Aku bukan pria yang sabar, Adriana. Seharusnya kau tau itu.”

William berbisik tepat di telinga Adriana, membuat gadis itu memerah dan merinding sekaligus. “Aku ingin menghukummu karena sikapmu, tapi aku akan mengampunimu untuk saat ini,” ujarnya lagi.

Adriana terdiam kaku, “J-jadi kau bu-bukan halusinasiku?” ia bertanya dengan terbata.

William menyeringai, “Sayang sekali. Aku William yang asli, sayang,” jawabnya santai. Adriana membelalak. “Ja-jadi kau sudah berada di situ sejak awal?” ia bertanya kembali, mencoba memastikan.

“Mungkin saja.”

Adriana meneguk salivanya gugup, “saat aku m-melemparimu?” tanyanya kembali. William mengerutkan keningnya, lalu ia tertawa keras. “Well, untuk yang satu itu. Kurasa itu memang khayalanmu.”

Adriana terdiam. Bukan karena jawaban William, namun karena wajah pria itu, karena tawa pria itu lebih tepatnya. William yang kemudian sadar sudah lepas kendali, akhirnya memasang kembali wajah datarnya. “Kau tampan,” ungkap Adriana tiba-tiba.

William mengangkat sebelah alisnya. “Aku memang tampan,” jawabnya acuh.

“Tidak, bukan itu. Maksudku, saat kau tertawa.” William menatap Adriana dengan sorot aneh, lalu dengan cepat tatapan itu berganti dengan dingin dan menusuk. “Lupakan saja,” ujar William cepat seraya bangkit dari atas tubuh Adriana.

Mereka berdua kemudian duduk di atas kasur dalam keheningan. William menatap lurus kedepan dengan pandangan dingin, sedangkan Adriana sesekali melirik William lewat sudut matanya.

“Kau sudah memutuskannya?”

“Aku belum memutuskan. Bukankah aku memiliki waktu satu minggu untung memutuskan?” Adriana menjawab santai.

William mengalihkan tatapannya pada Adriana, “Kau sudah membaca kontraknya?” tanya William kembali. Adriana mengangguk samar. Ia menghela napasnya kemudian menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal, “Sebenarnya sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa kau memberikanku kontrak itu. Jujur saja William, kau tampan, kau juga kaya, aku yakin sekali banyak wanita di luar sana yang mengantri agar bisa bersamamu, atau setidaknya tidur di tempat tidurmu. Kau bisa memilih salah satu dari mereka, mengajak mereka berkencan, bahkan menikahi mereka sekalipun. Aku yakin mereka tidak akan keberatan dengan hal itu.”

Adriana bergetar di bawah tatapan yang William layangkan padanya, “Pertama, aku membutuhkan seorang wanita baik-baik untuk menjaga citraku dan perusahaanku. Kedua, aku tidak berkencan dengan sembarang wanita, Adriana. Ketiga, aku menginginkanmu sejak pertama kali aku melihatmu. Keempat, aku tidak suka penolakan.”

Adriana menelan salivanya dengan gugup. Ia menggelengkan kepalanya sedikit untuk menjernihkan pikirannya kembali. Tatapan intimidasi William sangat mengganggunya, ia benar-benar tidak menyukai fakta bahwa tubuhnya selalu bereaksi akibat pria menyebalkan itu.

Adriana berdeham, “Pertama, darimana kau tau kalau aku adalah wanita baik-baik? Bisa saja aku ini penipu atau apa. Kedua, pada dasarnya, kita tidak saling mengenal jadi aku bisa mengartikan bahwa aku termasuk dalam kategori sembarang wanita bagimu. Ketiga, kau aneh. Keempat, kau sangat egois, kau tau itu?” balas Adriana sebal.

William menyerengai mendengar balasan Adriana terhadap pernyataannya tadi. “Sangat bagus, Adriana. Kau memang berbeda.” Puji William tiba-tiba. Adriana mendengus, ia sama sekali tidak merasa tersanjung mendengar pujian Willian yang aneh.

“Well, aku akan menjawab pertanyaanmu itu baby. Aku tau kau wanita baik-baik, tentu saja, itu karena aku sudah menyelidikimu. Lalu, karena aku sudah menyelidikimu, artinya aku sudah mengenalmu. Asal kau tau, Adriana, kau adalah satu-satunya wanita yang berani mengataiku aneh apalagi egois. Kau memang berbeda. Disaat seluruh wanita lain memuja-mujaku bagaikan dewa, kau malah melakukan yang sebaliknya,” puji William kembali.

Adrian berdecak kesal, “Apa maksudmu dengan menyelidikiku? Kau membuntutiku?!” sentak Adriana kasar. William menyeringai kembali, “Secara teknis, aku tidak membuntutimu. Aku hanya mencari informasi tentangmu, atau lebih tepatnya bawahanku lah yang mencarikan informasi tentangmu.” kekeh William geli.

Adriana menggeram, ia mengepalkan tangannya kemudian menatap William tajam. “Itu pelanggaran hukum!” desisnya marah. William menyeringai kembali, “Aku jelas-jelas yakin kalau aku tidak melanggar hukum, sweetheart. Perusahaanku berjalan di bidang keamanan, Adriana. Mencari informasi tentang gadis sepertimu tentu sangatlah mudah, sama sekali bukan hal yang sulit dilakukan.”

Sialan! Pria itu! Aku benar-benar ingin membunuhnya!

“Sudahlah! Aku sudah tidak mau tau lagi tentang bagaimana kau berhasil mendapatkan apapun yang kau kategorikan sebagai informasi tentang diriku. Lalu bagaimana bisa kau masuk kesini! Ini kamarku!”

William menatap Adriana dengan pandangan terhibur, “Aku masuk kesini menggunakan kunci, tentu saja.”

Kekesalan Adriana semakin meningkat, ia merasa seakan-akan kepalanya terbakar karena terlalu emosi menghadapai pria di hadapannya itu. “Bagaimana kau bisa mendapatkan kunci itu?” tanyanya kembali dengan nada rendah.

“Well, mudah saja. Aku hanya menyebutkan namaku, lalu mengatakan bahwa kekasihku merajuk dan memesan kamar di hotel ini, kemudian manager hotel ini yang kebetulan ada disitu memberikanku akses untuk masuk ke kamar ini. Mudah bukan?”

Adriana memijat kepalanya yang pening setelah mendengar jawaban William. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan pria itu. Rasanya Adriana ingin sekali memukulkan kepalanya ke tembok dan berharap semua yang ia alami ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir.

“Kau itu sebenarnya siapa?” gumam Adriana lelah.

William mengangkat sebelah alisnya bingung, “Kau tidak tau siapa aku? William Denzel Black? Kau tidak pernah dengar?”

Adriana mengerutkan keningnya bingung, kemudian gadis itu menggeleng pelan. Mata William terbelalak, ia kemudian menatap Adriana seakan Adriana adalah seorang alien yang berasal dari luar angkasa.

Apakah aku harusnya tau siapa dia? Memangnya dia siapa? Presiden atau apa? Tapi aku yakin dia bukan Presiden sih Adriana membatin.

“Black Industries? Kau tidak tau?” tanya William heran.

Adriana menggeleng pasrah, sedikitnya gadis itu kesal karena pertanyaan William membuatnya merasa dirinya sendiri bodoh.

William menatap Adriana dengan pandangan kagum, “Apa yang kau tonton di televisi selama ini, Adriana? Apa kau pernah melihat berita dan sebagainya?”

Adriana merasakan kadar emosinya semakin meningkat akibat pertanyaan William yang terkesan sangat aneh itu. “Aku hanya menonton variety show, Korean drama, dan kartun. Aku tidak suka menonton berita. Aku membaca berita, tidak menonton, itupun hanya tentang property.” Jawab gadis itu jujur.

William melongo sesaat, kemudian pria itu tertawa keras seakan tidak percaya dengan jawaban yang Adriana lontarkan. “Kau benar-benar wanita ajaib.”

William menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus tertawa. Adriana hanya memperhatikan hal itu dengan kesal. “Pria satu ini benar-benar …”

“Sudahlah! Sana pergi! Kenapa pula kau ada disini, brengsek?! Pergi sana! Jauh-jauh dariku! Hush hush!” Adriana menggerutu kesal sambil mengibas-ngibaskan tangannya layaknya mengusir lalat. Hal tersebut sukses membuat tawa William terhenti, dan terganti dengan tatapan kesal pria itu. “Apa kau baru saja mengusirku?” tanya pria itu lamat-lamat.

Adriana mengangguk tidak peduli sembari terus mengibas-ngibaskan tangannya. Sontak saja hal tersebut membuat tatapan kesal William semakin menjadi. “Kau sudah tidak ada kerjaan bukan? Ikut aku sekarang.” Perintah William mutlak. Dengan bijak, pria itu mengabaikan usiran yang tadi dilayangkan Adriana padanya.

Adriana mengangkat tangannya, kemudian melipat kedua tangannya di atas dadanya. Kepalanya ia dongakkan dengan congkak, “Siapa bilang aku tidak ada kerjaan? Aku sibuk! Pergi sana!” usir Adriana lagi.

William menggeram pelan.

Gadis ini benar-benar menguji kesabarannya! Sebentar baik, sebentar menyebalkan.

Sungguh… William bingung sekali harus bagaimana menghadapi gadis itu. Rasanya seakan-akan cara berpikir gadis itu berada di luar batasan pikirannya sendiri, sehingga ia tidak bisa menjangkau pikiran gadis keras kepala itu.

William bangkit berdiri sambil menatap Adriana yang menatapnya dengan menyinggungkan sebuah senyum polos seakan-akan ia senang kalau William akan pergi dari tempat itu. Pria itu mengernyitkan dahinya, pikiran tentang Adriana yang tidak suka berada di sisinya benar-benar membuatnya merasa terganggu.

Tanpa berbicara, pria itu menarik tangan Adriana dan membawa gadis itu keluar dari kamar tersebut. Dan tentu saja, Adriana tidak menerima perlakuan William padanya dengan senang hati. Gadis itu memberontak dan berteriak-teriak minta dilepaskan, sedangkan William sendiri bersikap tidak peduli dengan segala rontaan dan pria itu seakan tuli dan tidak mendengar teriakan Adriana yang membahana di seluruh penjuru lorong hotel tersebut.

“William! Lepaskan aku!! Aku tidak mau pergi!!!” rengek Adriana pada akhirnya.

William tetap berpura-pura tuli dan berusaha mengabaikan segala rengekan Adriana yang menurutnya menggelikan.

“William! Ini namanya penculikan! Aku bisa melaporkanmu ke polisi loh! Jadi lepaskan aku ya? Kau tidak mau di penjara kan?”

“William! Kau menarik tanganku seperti ini tanpa perasaan! Kau kejam!”

“William! Lepaskan akuuu! Tanganku sakit!”

Adriana membungkam mulutnya setelah mereka sampai di parkiran. Gadis itu merasa bodoh karena sudah merengek seperti orang tolol pada pria arrogant yang sudah menculiknya. “Kenapa kau suka sekali menculikku sih?!” geram Adriana kesal.

William menatap Adriana yang bersedekap dengan pandangan terhibur. “Karena aku menginginkannya.” Jawab pria itu singkat. Adriana memandang William meremehkan, “Jadi kau sudah tidak bisu dan tuli? Sudah bisa menjawabku rupanya,” sindir gadis itu skaratik.

Lagi-lagi William memilih membungkan mulutnya dan dengan bijak mengabaikan sindirian gadis itu. Kesal karena mendapati keterdiaman William kembali, akhirnya gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam mobil sport hitam yang sudah bisa dipastikan milik pria menyebalkan yang menculiknya itu, lalu membanting pintunya dengan keras.

William menghembuskan napasnya kasar begitu Adriana membanting pintu mobilnya. Seumur hidup pria itu, baru pertama kali ia diuji kesabarannya seperti yang selalu dilakukan Adriana.

Sabar William, kau harus bersabar. Jangan sampai lepas kendali. Tenang… tenang…

Setelah mensugestikan dirinya sendiri untuk tenang, akhirnya William masuk kedalam mobilnya dan mendapati Adriana sedang cemberut padanya. William mengabaikan hal tersebut. Ia memakai sabuk pengamannya, kemudian menjalankan mobilnya dengan pelan.

Tidak sampai setengah jam berkendara, mereka akhirnya sampai di sebuah bandara kecil. Jika dilihat-lihat, bandara tersebut lebih pantas di sebut private airport melihat hanya ada sebuah jet pribadi dengan tulisan B Industries disana.

Tunggu dulu… Jet pribadi? B Industries?

“Tunggu dulu! Kau mau membawaku kemana sebenarnya!” Adriana menatap William takut sambil sesekali melirik private jet yang berada tidak jauh didepan mereka. Pria itu tersenyum miring, dan itu terlihat sangat mencurigakan.

Adriana meneguk salivanya dengan gugup, ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya setelah ini. Kenyataanya, segala sesuatu akan selalu merugikannya jika hal itu sudah ada sangkup pautnya dengan lelaki arogan yang brengseknya minta ampun, dan parahnya lagi, lelaki yang ia maksud sedang berada di sampingnya saat ini.

Ini namanya mimpi buruk! Sangat buruk!

William memberhentikan mobilnya tepat di samping tangga masuk jet tersebut, membuat Adriana semakin diselimuti kepanikan. Pria itu kemudian menyeringai puas, “Kita akan berlibur ke Hawaii, apa aku belum mengatakannya?”

-TBC-

My Protective Mr. Arrogant // Part 2 – The Propotition

Title: My Protective Mr. Arrogant // Part 2 – The Propotition

Genre: Romance

Length: Chaptered

.

Cast:

William D. Black | Adriana F. Evans

.

Afiraa’s speech:

Tadaaaa, i’m back. Ini dia part 2 nya. Semoga kalian suka ❤. Yang pake wattpad bisa mampir di work kau di wattpad juga. @annasafiraa_

Kalo yang mau tanya-tanya oleh juga. Fast respon di ig @annasafiraa_

Happy Reading

.

.

.

my protective mr arogant

.

Part 2

The Propotition

.

William dan Adriana duduk berhadapan. Adriana hanya diam saja saat William memesankan makanan untuknya, tanpa meminta pendapatnya. Setelah pelayan pergi, perhatian William akhirnya tertuju sepenuhnya pada Adriana. “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya William bingung, masih dengan raut dinginnya.

Adriana diam, ia hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban. William menghela nafas. Ia kemudian memandang Adriana dengan raut serius, “Aku punya proposisi untukmu.”

Adriana memandang William dengan pandangan bingung, “Proposisi?” tanyanya tak yakin.

“Ya, aku punya sebuah proposisi untukmu,” jawab William meyakinkan.

Adriana tetap diam sembari menatap William dengan sorot aneh. William pun akhirnya menghela napasnnya, “Sebagai salah satu lulusan terbaik Harvard, ternyata kau sangat bodoh.”

“K-kau!”

William meletakkan sebuah map berwarna biru di atas meja. Adriana menatap William dan map itu bergantian dengan sorot marah, ia tidak terima karena dikatai bodoh oleh William yang pada dasarnya hanyalah orang asing. “Apa itu?” tanya Adriana ketus.

William menyerengai senang, ia mengabaikan nada ketus yang Adriana layangkan padanya tadi. “Sudah jelas bukan? Itu proposisi dariku. Buka map itu, baca isinya, lalu berikan jawabanmu untukku,” perintah William tegas.

Adriana menggeram. Berani-beraninya pria sialan ini memerintahku?! Dia pikir dirinya itu siapa?! Adriana membatin kesal. Ia mengambil map di meja tersebut dengan kasar setelah sebelumnya melayangkan pandangan mematikan pada William yang tetap terlihat santai.

 

 

Para pihak yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama: Adriana Fara Evans

ID:1987xxxxxxxxxxx

Tempat tanggal lahir:Virginia, 10 Januari 1987

Alamat:1001E, James St, Seattle, WA, 98122 ( Murphy Apartments lantai 9, nomor 905)

Bertindak selaku atas nama diri sendiri, dalam perjanjian ini disebut sebagai PIHAK PERTAMA.

 

Nama: William Denzel Black

ID: 1983xxxxxxxxxxx

Tempat tanggal lahir: New Hampshire, 5 Oktober 1983

Alamat: 1925 4th Avenue, Seattle, WA, 98101 ( Black Penthouse lantai 30)

Bertindak selaku atas nama diri sendiri, dalam perjanjuan ini disebut sebagai PIHAK KEDUA.

 

PIHAK PERTAMA dengan ini berjanji akan untuk menyatakan dan mengikatkan diri kepada PIHAK KEDUA sebagaimana PIHAK KEDUA juga menyatakan dan mengikatkan diri kepada PIHAK PERTAMA. PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA akan melakukan perjanjian berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan yang tertulis di dalam surat perjanjian ini yang diatur dalam 5 (lima) pasal, sebagai berikut:

 

 

Adriana melotot memandangi rentetan kalimat yang baru saja dibacanya, “ini apa-apaan!” tanya Adriana marah. “Kau sudah selesai membacanya?” tanya William bingung.

“Tentu saja belum, tapi apa maksudnya ini?! Aku tidak merasa memiliki perjanjian denganmu!” bentaknya keras. William melirik sekelilingnya dan mendapati hampir sebagian besar orang di dalam café ini sudah memandangi mereka berdua dengan pandangan tertarik.

“Sudah kubilang, aku punya proposisi untukmu. Dan perjanjian itulah yang kumaksudkan. Aku membutuhkan bantuanmu untuk menjadi kekasihku selama tiga bulan, hanya tiga bulan.” Jawab William pasrah.

Adriana menatap William nyalang, ia memundurkan kursinya kasar, kemudian bangkit berdiri sambil memukul meja dengan keras. “KAU GILA YA?! AKU TIDAK MAU! AKU MENOLAK!” teriak Adriana marah. William menatap Adriana datar, “Duduk!” perintahnya dingin.

Adriana mengabaikan perintah William. Ia benar-benar geram dengan sikap William yang menurutnya sangat arrogant dan sungguh menyebalkan. Mereka berdua terus bertatapan, Adriana dengan pandangan marahnya, dan William dengan pandangan dingin andalannya.

Suasana café hening karena tingkah mereka berdua. Adriana yang pada akhirnya sadar akibat dari perbuatannya, memutuskan duduk kembali dengan wajah merah padam menahan malu. William sendiri terlihat tidak peduli dengan lingkungan sekitar mereka.

Suasana hening menyelimuti mereka. William tetap setia memandang Adriana dengan datar, sedangkan Adriana memandang tangannya yang terkepal di atas pahanya. Ia benar-benar malu karena sudah kehilangan kendali, padahal ia berada di tempat umum.

Ini semua salah pria menyebalkan itu! Batin Adriana kesal.

Seorang pelayan perempuan datang ditengah keheningan mereka berdua. Ia meletakkan sepiring pasta Carbonara dan segelas milkshake coklat di hadapannya , juga sepiring Lasagna dan secangkir kopi di hadapan William. “Terimakasih,” gumam Adriana pelan.

Pelayan itu tersenyum kepadanya sejenak, lalu melayangkan senyum menggoda pada William. “Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa memanggilku,” katanya terbata. Gadis itu terus memandangi William dengan pandangan sayu dan wajah memerah, membuat Adriana kesal sendiri.

“Ya terimakasih, kau boleh pergi sekarang.” usir Adriana kesal.

Pelayan tadi tersentak, kemudian segera pergi dari hadapan mereka setelah sebelumnya mengucapkan ‘selamat menikmati’ dengan terbata dan nafas memburu, entah apa itu maksudnya.

Adriana mengalihkan pandangannya dari punggung pelayan tadi, kearah William yang ternyata masih memandanginya. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Adriana ketus.

“Cemburu ma’am?” William menyeringai.

Adriana mengerutkan keningnya bingung, “Cemburu kau bilang? Jangan bermimpi, Sir” tukasnya galak. Adriana kemudian mulai memakan pastanya dengan lahap, secara sengaja mengabaikan William yang masih memandanginya.

William tersenyum kecil melihat Adriana yang memakan makannya dengan lahap, lalu dengan cepat senyum itu pun menghilang dan digantikan dengan raut datar kembali. Ia kemudian mulai memakan lasagnanya sambil sesekali melihat Adriana yang mengabaikannya.

“Ini enak sekali,” puji Adriana dengan mulut penuh dan bibir belepotan. “Tentu saja itu harus enak. Aku tidak akan mengajakmu kemari jika makanannya tidak enak.” Sahut William langsung. Ia mengarahkan tangannya ke wajah Adriana, lalu mengusap bibir gadis itu dengan jemarinya. “Kau makan seperti anak kecil saja,” tegur William tak habis pikir.

Adriana tersentak kaget saat jemari William mengusap bibirnya. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak tidak karuan dan wajahnya otomatis memerah karenanya. Ia berdeham kemudian melanjutkan makannya dengan canggung. “Kau sakit?” tanya William bingung.

“Tidak,” jawab Adriana cepat.

“Wajahmu memerah,” tukas William datar. Adriana melotot memandang Willian, “diamlah!” gerutu gadis itu kesal. William hanya menyerangai dan memutuskan untuk mengunci mulutnya, tidak ingin membuat gadis dihadapannya kembali marah padanya.

Mereka melanjutkan kegiatan mereka dalam keheningan. Hanya terdengar suara dentingan sendok garpu dengan piring, dan samar-samar percakapan samar orang-orang di seluruh penjuru café. Setelah akhirnya seluruh makanan mereka tandas, mereka pun tetap diam.

William melirik jam yang melingkar di tangannya, meletakkan beberapa lembar uang di meja,  lalu berdiri dari kursinya. “Mari kita pergi, ini sudah malam.” Ajak William. Adriana menyalakan hpnya dan melihat kalau jam sudah menunjukkan pukul 21:47. Ia pun akhirnya bangkit berdiri dan membawa map biru yang tadi diserahkan William.

Mereka berjalan ke dalam mobil dalam keheningan. Adriana terus menatap map ditangannya, sedangkan William fokus menyetir. Sesampainya mereka di hotel tempat Adriana tinggal, William keluar dari mobilnya bermaksud mengantar Adriana sampai depan kamarnya.

Adriana tiba-tiba menyerahkan map tersebut kepada William setelah mereka sampai di depan kamar Adriana. “Ambil ini, aku tidak akan menyetujuinya.”

William menatap Adriana datar, mengabaikan map yang disodorkan Adriana padanya. “Tidak, baca dan pertimbangkan. Kuberikan waktu seminggu. Jika ada yang ingin kau tanyakan, kau bisa menghubungiku. Kau sudah menyimpan nomorku bukan? Aku akan menunggu.”

“Tapi-“

“Shhh, tidak ada tapi-tapi. Baca saja dan pertimbangkan ok?” William berbisik dengan nada rendah, membuat jantung Adriana seakan ingin melompat dari tempatnya. Dengan kaku Adriana akhirnya mengangguk. “Good girl, sekarang masuklah dan beristirahat. Kita akan bertemu kembali setelah kau mendapatkan jawabanmu.”

Adriana mengerjap saat ia merasakan sebuah benda lembut di atas bibirnya. Ia terdiam kaku mendapati William menciumnya, hanya sekedar mengecup bibirnya. “Good night, baby,” bisik William tepat di telinga Adriana.

Setelah mengatakan itu, William pergi dari hadapan Adriana. Adriana terus diam sambil menatap kosong tempat William tadi berdiri. Jantungnya bertalu-talu dengan kencang. “A-apa dia b-baru saja me-menciumku? D-dia baru saja menciumku!! Oh Tuhan!!!” pekik Adriana histeris di lorong hotel.

Dengan linglung ia memasuki kamarnya, lalu menidurkan dirinya di atas kasur. “Ini benar-benar gila,” gumamnya sendiri. Ia kemudian berguling-guling diatas kasurnya, lalu duduk sambil memegang map biru yang tadi diberikan William.

“Kau yang gila!” ujarnya pada map tersebut sambil memelototinya. Adriana menghela napasnya, ia kemudian membuka map tersebut lalu mulai membaca kembali.

 

PASAL 1

KERAHASIAAN

  1. PIHAK PERTAMA maupun PIHAK KEDUA harus berjanji untuk merahasiakan keberadaan surat perjanjian ini.
  2. Jika PIHAK PERTAMA melanggar point pertama, maka PIHAK PERTAMA akan diberikan hukuman yang sifatnya ditentukan oleh PIHAK KEDUA.
  3. Jika PIHAK KEDUA melanggar point pertama, maka PIHAK KEDUA akan diberikan hukuman yang sifatnya ditentukan oleh PHAK PERTAMA.
  4. Pengecualian akan diberikan dengan kesepakatan PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.

 

PASAL 2

HAK DAN KEWAJIBAN

  1. PIHAK PERTAMA berkewajiban untuk melakukan seluruh keinginan PIHAK KEDUA tanpa terkecuali selama perjanjian berlangsung, sebagai berikut:
  • Menghadiri acara keluarga
  • Menghadiri pertemuan penting
  • Menghadiri pesta
  • Tinggal bersama
  1. PIHAK KEDUA berkewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan PIHAK PERTAMA selama perjanjian berlangsung, sebagai berikut:
  • Keselamatan
  • Tempat tinggal
  • Transportasi
  • Pakaian
  • Selebihnya akan didiskusikan dengan kedua belah pihak dan dilampirkan
  1. PIHAK PERTAMA berhak untuk mengajukan Addendum.
  2. PIHAK KEDUA berhak untuk menolak Addendum yang diajukan PIHAK PERTAMA.
  3. PIHAK PERTAMA berhak menikmati segala fasilitas yang sudah disediakan PIHAK KEDUA.
  4. PIHAK PERTAMA berhak menolak keinginan PIHAK KEDUA yang berada di luar kewajiban.
  5. PIHAK KEDUA berhak menolak keinginan PIHAK PERTAMA yang berada di luar kewajiban.

 

PASAL 3

KESELAMATAN

  1. PIHAK PERTAMA akan dijamin keselamatannya oleh PIHAK KEDUA.
  2. PIHAK KEDUA akan menyediakan dua orang bodyguard untuk PIHAK PERTAMA untuk keselamatannya.
  3. PIHAK PERTAMA tidak berhak menolak penjaminan keselamatan.

 

PASAL 4

LAMA PERJANJIAN

PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA akan menjalankan perjanjian selama tiga bulan. Jika dalam kurun waktu tersebut dinilai kurang, maka akan diadakan pembaruan perjanjian.

 

PASAL 5

BATASAN – BATASAN

  1. PIHAK PERTAMA tidak diperbolehkan ikut campur masalah pekerjaan PIHAK KEDUA.
  2. PIHAK KEDUA tidak diperbolehkan ikut campur maslaah pekerjaan PIHAK PERTAMA.
  3. PIHAK PERTAMA tidak diperbolehkan menjalin hubungan dengan orang lain selama perjanjian berlangsung.
  4. PIHAK KEDUA tidak diperbolehkan menjalin hubungan dengan orang lain selama perjanjian berlangsung.
  5. Batasan-batasan lainnya akan didiskusikan PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA kemudian dilampirkan.

 

Demikianlah surat perjanjian ini dibuat dua rangkap. PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA masing-masing mendapatkan satu rangkap yang semuanya memiliki kekuatan hukum yang sama. Surat perjanjian ini akan ditanda tangani di depan satu sama lain dalam keadaan sehat dan tanpa paksaan.

 

Vancouver, 16 September 2017

Tertanda,

PIHAK PERTAMA                                                                                           PIHAK KEDUA

 

(Adriana Fara Evans)                                                                               (William Denzel Black)

 

 

Adriana terdiam. Kalau boleh jujur, perjanjian ini tidak sepenuhnya merugikan dirinya, malah sebaliknya. Perjanjian ini menguntungkannya. Terlebih untuk pasal keselamatannya, haruskah ia tersanjung pada usaha William walaupun sejujurnya caranya itu sangatlah aneh. Menggunakan perjanjian konyol seperti ini? Yang benar saja. Sekarang ia malah penasaran dengan alasan William membuat perjanjian seperti ini. Dan yang lebih penting, kenapa dia yang dipilih?

Adriana mengambil ponselnya, kemudian mencari nomor William. Ia harus bertanya pada pria itu apa maksudnya sebenarnya.

 

To: Mr. Arrogant

Apa maksudmu dengan membuat perjanjian seperti ini?

Sent 23:21

 

Adriana menatap ponselnya, Apa dia sudah tidur? Batin Adriana. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan baru saja masuk. Dengan cepat Adriana membukanya.

 

From: Mr. Arrogant

Kau belum tidur? Tidurlah.

Tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin kau membantuku. Aku membutuhkan seorang kekasih.

Received 23:23

 

To: Mr. Arrogant

Kenapa harus aku? Kau bisa menyewa salah satu jalang diluar sana untuk menjadi kekasihmu. Untuk apa kau repot-repot membuat surat perjanjian seperti ini hanya untuk menjadi kekasih pura-puraku?

Sent 23:23

 

From: Mr. Arrogant

Karena aku menginginkamu.

Received 23:24

 

Adriana memutuskan untuk tidak membalas pesan Wiliam karena terlalu kaget. “Bercandanya benar-benar tidak lucu. Menyebalkan,” gumam Adriana kesal. Ia menaruh kembali ponselnya di meja kecil di samping tempat tidurnya bersama map perjanjiannya.

Ia kemudian membaringkan tubuhnya kembali di atas kasur. Ia baru saja memejamkan matanya sejenak saat tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Dengan malas ia meraba-raba meja kecil di samping kasurnya dan mengambil ponselnya kembali. Ada sebuah pesan dari William. Dengan cepat Adriana membukanya.

 

From: Mr. Arrogant

Sleep tight, Adriana

Received 23:29

 

Adriana tersenyum membaca pesan tersebut. “Sleep tight, William,” gumamnya pelan sebelum akhirnya beselancar kealam mimpi.

 

 

-TBC-

My Protective Mr. Arrogant

Title: My Protective Mr. Arrogant

Genre: Romance

Length: Chaptered

.

Cast:

William D. Black | Adriana F. Evans

.

Afiraa’s speech:

Hai hai, this is me again. Aku bawain cerita baru. Menurut kalian gimana? Harus dilanjutin nggak? Untuk lanjutan ff nya ditunggu aja yaa hehehe. Bakal segera Afiraa update secepat yang Afiraa bisa. Cerita ini pendek banget karena memang cuma prolog, tapi Afiraa minta pendapat kalian semua yaaa. Jangan lupa like + commentnya.

Happy Reading

.

.

.

my protective mr arogant

PROLOG

.

.

.

William membuka matanya perlahan saat ia merasakan gerakan kecil di sampingnya. Tubuhnya terasa lelah dan kepalanya pening luar biasa. Perlahan pria itu duduk kemudian memejamkan matanya, mencoba mengingat-ngingat apa yang sekiranya terjadi semalam.

Setelah beberapa lama terdiam, sebuah ingatan tentang malam kemarin menghantamnya. William membelalakkan matanya, kemudian menolehkan kepalanya kesamping dengan sangat cepat. Seorang wanita sedang tidur di sampingnya dalam keadaan polos. William melotot kaget, terlebih setelah ia melihat cecerah darah di seprai tersebut.

Sebelum William melakukan apapun, wanita disampingnya menggeliat kemudian membuka matanya perlahan. William terdiam melihat wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya sesat, lalu melotot kaget setelah mengingat sesuatu.

“Sialan!” wanita itu memekik histeris setelah melihatnya, “A-apa, apa ki-kita semalam melakukannya? Maksudku, jangan bilang kalau kemarin malam kita bercinta?” William diam tidak menjawab, sebenarnya ia bingung harus bicara apa setelah melihat reaksi wanita itu.

Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari William, Adriana menyibak selimutnya, memperlihatkan tubuh polosnya yang ternodai beberapa bercak kemerahan. Adriana melotot horror melihatnya, sedangkan William hanya bisa meneguk air liurnya gugup karena disuguhkan penampilan yang menggoda iman.

“Jadi kita benar-benar sudah bercinta! Oh tidak, aku sudah tidak  perawan!” teriak Adriana histeris. William tetap bungkam. “Ini tidak mungkin terjadi, ini pasti mimpi. Oh Tuhan, ini tidak mungkin benar-benar terjadi!” gumamnya kemudian, seperti orang linglung.

William menghela napasnya mendengar gumaman Adriana. “Siapa namamu?” tanya William langsung dengan dingin.

Adriana menoleh dan menatap William dengan pandangan aneh kemudian bergumam kembali dengan pandangan kosong, “dia bahkan tidak tau namaku setelah ia meniduriku semalam. Ini gila, ini pasti mimpi, aku-“

“Aku bertanya siapa namamu,” tukas William kesal.

Adriana menoleh pada William kemudian melotot galak. “Adriana,” jawab Adriana ketus. William mendengus, “nama lengkapmu?” tanyanya kembali menuntut.

Adriana melotot, menatap William dengan pandangan menusuk. William hanya mengangkat sebelah alisnya acuh.

“Adriana Fara Evans,” jawab Adriana masih dengan sikap ketusnya.

William mendengus. “Baiklah Ms. Evans, kupikir kau pasti mengingat jelas kegiatan panas kita semalam-“ Adriana melotot marah, “Jangan mengelak, aku bahkan mengakui kalau yang semalam sangat intens, sangat panas.” Adriana hanya mendengus, tidak menanggapi.

“Tapi dengar, yang semalam sungguh diluar kendaliku. Maksudku, kita berdua sama-sama mabuk, dan sama-sama menginginkannya. Kita berdua menikmati malam panas yang baru saja kita lewati. Mungkin kau menyesalinya saat ini, tapi aku tidak. Tapi aku akan tetap bertanggung jawab karena bagaimanapun juga, kau kehilangan keperawananmu karena diriku. Jadi, berapa yang kau minta? Seratus juta? Dua ratus juta? Lima ratus juta bahkan?”

Adriana memandang William marah. “Dengar ya Mr. Arogant, AKU TIDAK BUTUH UANGMU, jadi simpan saja uangmu itu atau berikan saja pada jalang-jalang diluar sana yang mau membuka pahanya lebar-lebar untuk dirimu!” desis Adriana geram.

Dengan cepat Adriana beranjak dari ranjang, kemudian memakai pakaiannya yang berserakan dilantai tanpa memperdulikan William yang diam memandanginya dengan sorot bergairah. Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, Adriana meninggalkan kamar tersebut disertai bantingan pintu, setelah sebelumnya melotot pada William dengan kesal.

William menghela napasnya kembali, kemudian memijat pelan kepalanya yang pening. Mungkin karena efek alkohol yang semalam diminumnya. Ia meraba meja kecil disamping tempat tidurnya, mengambil ponselnya, dan mendial sebuah nomor.

“Sir?”

“Thomaz, bawakan aku Advil. Oh, dan cari semua informasi tentang Adriana Fara Evans.” Segera setelah ia mengatakannya, ia memutuskan sambungan telepon secara sepihak lalu memutuskan untuk mendinginkan kepalanya di kamar mandi.

William menyalakan showernya dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Pikirannya melayang pada waktu ia sedang mengistirahatkan tubuhnya dengan meminum secangkir kopi di sebuah café kecil yang direkomendasikan Thomas padanya, lalu sampai pada saat pertama kali ia melihat Adriana masuk kedalam café. Ia merasakan adanya daya tarik sensual yang begitu besar pada Adriana. Ia tidak menyangkal kalau Adriana sangatlah cantik. Tubuhnya berada dalam proporsi yang benar-benar ia sukai.

William benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya selama dua puluh delapan tahun ia hidup, ia seakan kehilangan kendali dirinya. Ia meniduri wanita yang ia tidak kenal, di hotel yang dia tempati sendiri.

Well, William tidak pernah sekalipun membiarkan wanita-wanita yang ditidurinya memasuki dunia pribadinya. Keluarga dan sahabatnya jelas sebuah pengecualian, karena ia jelas tidak meniduri mereka. Tapi Adriana membuatnya melanggar kebiasaannya, dan Willian sangat bingung karenanya.

Setelah beberapa lama mendinginkan kepalanya di kamar mandi, ia keluar kemudian memakai setelan kerjanya. Di meja kerjanya, sudah tersedia segelas air, satu butir Advil, dan sebuah map merah.

William meneguk Advilnya, kemudian mengambil map tersebut dan beranjak untuk duduk diatas ranjangnya yang sudah rapih tanpa cacat.

William memindai isi map itu dengan cermat, dan semakin lama ia membaca isi map tersebut, sebuah seringai mengerikan semakin tercetak jelas di bibir lelaki itu.

Well, we’ll see what next Adriana.”

 

 

 

-TBC-