My Protective Mr. Arrogant // Part 3 – Consideration

Part 4

Consideration

Adriana memutuskan untuk tidak membalas pesan Wiliam karena terlalu kaget. “Bercandanya benar-benar tidak lucu. Menyebalkan,” gumam Adriana kesal. Ia menaruh kembali ponselnya di meja kecil di samping tempat tidurnya bersama map perjanjiannya.

Ia kemudian membaringkan tubuhnya kembali di atas kasur. Ia baru saja memejamkan matanya sejenak saat tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Dengan malas ia meraba-raba meja kecil di samping kasurnya dan mengambil ponselnya kembali. Ada sebuah pesan dari William. Dengan cepat Adriana membukanya.

From: Mr. Arrogant

Sleep tight, Adriana

Received 23:29

Adriana tersenyum membaca pesan tersebut. “Sleep tight, William,” gumamnya pelan sebelum akhirnya beselancar kealam mimpi.

***

Adriana menimang map ditangannya dengan bimbang. Setelah Ia membaca kembali perjanjian yang diajukan William padanya, ia malah merasa ragu dengan keputusannya. “Yes or no?” gumamnya bimbang.

Tunggu dulu, kenapa pula aku sampai harus sebimbang ini karena surat perjanjian sinting yang dia tawarkan? Harusnya aku dengan tegas menolak! Bukan malah bingung sendiri seperti ini. Ini sangat aneh, seperti bukan diriku saja! Tapi… pria itu, dia bisa melindungiku batin gadis itu.

“Aaaaaaahhhhh!!! Aku bisa gila!!!” teriaknya tiba-tiba. Adriana meremas rambutnya sendiri lalu berguling-guling di atas ranjangnya sambil meracau “apa yang harus kulakukan,” secara berulang-ulang.

“Mungkin kau harus menerimanya, aku bisa melindungimu,” Adriana tersentak. Kepalanya menoleh dengan cepat kearah pintu dan mendapati William berdiri di sana dengan tangan terlipat dan bibir menyeringai.

“AAAAAAAAAA!!! PERGIIIIIIIIIIII!!!” teriak Adriana histeris.

Ia melempari bantal-bantal yang ada di atas kasurnya dengan brutal kearah William tanpa melihatnya. Namun saat ia mencoba melihat William kembali, pria itu sudah tidak ada di sana lagi. Ternyata hanya khayalanku saja, sepertinya aku memang sudah gila batin Adriana sengsara.

Gadis itu kemudian membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur, menatap atap kamar hotel yang bersih tanpa cacat. Besok ia akan pulang ke Seattle dan kembali menjalankan hidupnya seperti biasa. Tapi pemikiran bahwa ia tidak akan bertemu kembali dengan William mengusiknya.

“Apa yang sedang dilakukan pria itu saat ini ya?”

“Aku? Aku sedang menatapmu dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyantapmu, Adriana,” Adriana terduduk di kasurnya dan menatap William yang berdiri di depan pintu kamar hotelnya sambil bersedekap.

Aku berhalusinasi lagi. Ini sudah mulai mengkhawatirkan batin Adriana takut.

Adriana mengabaikan halusinasinya tentang William dan membaringkan tubuhnya kembali di ranjang. “Kau berbaring? Apa kau benar-benar ingin kusantap, Adriana?” tanya William dengan suara serak.

Adriana mengabaikan William sepenuhnya. Ia berguling kesamping dan menatap map birunya yang tergeletak tak berdaya tidak jauh dari tubuhnya. “Hei, apa yang harus kulakukan padamu?” tanyanya pada map itu.

Tentu saja map tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan Adriana. Adriana merasa bodoh karena sudah bertanya. “Well, mungkin kau bisa mencoba untuk menerimanya,” sahut William tanpa diminta.

Adriana mendelik, “Kau sama menyebalkannya dengan si brengsek William!” hardiknya kesal.

William mengangkat sebelah alisnya, dan sebuah seringaian terbit di bibirnya. “Brengsek huh?” tanyanya geli. Adriana mengepalkan tangannya semangat, “Ya, dia sangat brengsek. Dia meniduriku saat aku mabuk, menggendongku seenaknya, mempermalukanku di café, dan ia menawarkan perjanjian aneh yang sangat tidak masuk akal!” jawab Adriana berapi-api.

“Mempermalukan dirimu sendiri, kalau aku boleh mnengoreksi,” tukas William sakratik.

Adriana kembali mendelik. “Diam kau!” bentak Adriana kesal. “Kau benar-benar mirip dengan yang aslinya. Kurasa aku benar-benar sudah tidak tertolong,” lanjutnya kemudian.

“Apa maksudmu?” tanya William bingung.

Adriana menghela napasnya, “Yah, kau benar-benar mirip dengan William yang asli, Si brengsek itu. Padahal kau hanya khayalanku saja. Sudah sana pergi! Jangan ganggu aku.” Adriana mengibas-ngibaskan tangannya dengan gerakan mengusir. William hanya memandangnya datar.

“Aku baru tau kalau kau sampai mengkhayalkanku segala. Jika aku tau dari awal, mungkin aku akan tetap tinggal disini dan menemanimu semalaman,” ejek William.

Adriana berdecak, ia merasa kesal menanggapi halusinasinya sendiri. Dengan bijak ia memutuskan untuk menutup mulutnya dan mengabaikan halusinasinya itu. “Kau benar-benar merindukanku ya ternyata?” tanya William lagi. Adriana tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan William. “Baiklah kalau begitu, aku akan menetap disini untuk malam ini. Besok kau pulang bukan? Aku akan mengantarmu ke airport.” Lanjut William lagi.

“Bedebah sialan! Diamlah!” bentak Adriana kasar.

Suasana hening seketika. Adriana mendesah lega, “Kurasa itu cukup untuk membuat kepalaku jernih kembali dan menghilangkan halusinasi sialan yang mengangguku.” Karena merasa lelah, akhirnya Adriana memutuskan untuk memejamkan matanya.

Belum lama Adriana memejamkan matanya, ia kembali terusik saat ranjangnya terasa bergerak dan tubuhnya terasa terkekang. Dengan antisipasi, ia membuka kembali matanya. Seketika itu juga ia mendapati sepasang mata yang segelap malam menatapnya dengan pandangan tajam. “K-kau m-“

“Aku bukan hanya sekedar halusinasimu, Adriana,” potong William. Ia terus menatap Adriana dengan pandangan kesal bercampur geli. “Kau membuatku sangat marah karena terus menerus membentakku. Aku bukan pria yang sabar, Adriana. Seharusnya kau tau itu.”

William berbisik tepat di telinga Adriana, membuat gadis itu memerah dan merinding sekaligus. “Aku ingin menghukummu karena sikapmu, tapi aku akan mengampunimu untuk saat ini,” ujarnya lagi.

Adriana terdiam kaku, “J-jadi kau bu-bukan halusinasiku?” ia bertanya dengan terbata.

William menyeringai, “Sayang sekali. Aku William yang asli, sayang,” jawabnya santai. Adriana membelalak. “Ja-jadi kau sudah berada di situ sejak awal?” ia bertanya kembali, mencoba memastikan.

“Mungkin saja.”

Adriana meneguk salivanya gugup, “saat aku m-melemparimu?” tanyanya kembali. William mengerutkan keningnya, lalu ia tertawa keras. “Well, untuk yang satu itu. Kurasa itu memang khayalanmu.”

Adriana terdiam. Bukan karena jawaban William, namun karena wajah pria itu, karena tawa pria itu lebih tepatnya. William yang kemudian sadar sudah lepas kendali, akhirnya memasang kembali wajah datarnya. “Kau tampan,” ungkap Adriana tiba-tiba.

William mengangkat sebelah alisnya. “Aku memang tampan,” jawabnya acuh.

“Tidak, bukan itu. Maksudku, saat kau tertawa.” William menatap Adriana dengan sorot aneh, lalu dengan cepat tatapan itu berganti dengan dingin dan menusuk. “Lupakan saja,” ujar William cepat seraya bangkit dari atas tubuh Adriana.

Mereka berdua kemudian duduk di atas kasur dalam keheningan. William menatap lurus kedepan dengan pandangan dingin, sedangkan Adriana sesekali melirik William lewat sudut matanya.

“Kau sudah memutuskannya?”

“Aku belum memutuskan. Bukankah aku memiliki waktu satu minggu untung memutuskan?” Adriana menjawab santai.

William mengalihkan tatapannya pada Adriana, “Kau sudah membaca kontraknya?” tanya William kembali. Adriana mengangguk samar. Ia menghela napasnya kemudian menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal, “Sebenarnya sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa kau memberikanku kontrak itu. Jujur saja William, kau tampan, kau juga kaya, aku yakin sekali banyak wanita di luar sana yang mengantri agar bisa bersamamu, atau setidaknya tidur di tempat tidurmu. Kau bisa memilih salah satu dari mereka, mengajak mereka berkencan, bahkan menikahi mereka sekalipun. Aku yakin mereka tidak akan keberatan dengan hal itu.”

Adriana bergetar di bawah tatapan yang William layangkan padanya, “Pertama, aku membutuhkan seorang wanita baik-baik untuk menjaga citraku dan perusahaanku. Kedua, aku tidak berkencan dengan sembarang wanita, Adriana. Ketiga, aku menginginkanmu sejak pertama kali aku melihatmu. Keempat, aku tidak suka penolakan.”

Adriana menelan salivanya dengan gugup. Ia menggelengkan kepalanya sedikit untuk menjernihkan pikirannya kembali. Tatapan intimidasi William sangat mengganggunya, ia benar-benar tidak menyukai fakta bahwa tubuhnya selalu bereaksi akibat pria menyebalkan itu.

Adriana berdeham, “Pertama, darimana kau tau kalau aku adalah wanita baik-baik? Bisa saja aku ini penipu atau apa. Kedua, pada dasarnya, kita tidak saling mengenal jadi aku bisa mengartikan bahwa aku termasuk dalam kategori sembarang wanita bagimu. Ketiga, kau aneh. Keempat, kau sangat egois, kau tau itu?” balas Adriana sebal.

William menyerengai mendengar balasan Adriana terhadap pernyataannya tadi. “Sangat bagus, Adriana. Kau memang berbeda.” Puji William tiba-tiba. Adriana mendengus, ia sama sekali tidak merasa tersanjung mendengar pujian Willian yang aneh.

“Well, aku akan menjawab pertanyaanmu itu baby. Aku tau kau wanita baik-baik, tentu saja, itu karena aku sudah menyelidikimu. Lalu, karena aku sudah menyelidikimu, artinya aku sudah mengenalmu. Asal kau tau, Adriana, kau adalah satu-satunya wanita yang berani mengataiku aneh apalagi egois. Kau memang berbeda. Disaat seluruh wanita lain memuja-mujaku bagaikan dewa, kau malah melakukan yang sebaliknya,” puji William kembali.

Adrian berdecak kesal, “Apa maksudmu dengan menyelidikiku? Kau membuntutiku?!” sentak Adriana kasar. William menyeringai kembali, “Secara teknis, aku tidak membuntutimu. Aku hanya mencari informasi tentangmu, atau lebih tepatnya bawahanku lah yang mencarikan informasi tentangmu.” kekeh William geli.

Adriana menggeram, ia mengepalkan tangannya kemudian menatap William tajam. “Itu pelanggaran hukum!” desisnya marah. William menyeringai kembali, “Aku jelas-jelas yakin kalau aku tidak melanggar hukum, sweetheart. Perusahaanku berjalan di bidang keamanan, Adriana. Mencari informasi tentang gadis sepertimu tentu sangatlah mudah, sama sekali bukan hal yang sulit dilakukan.”

Sialan! Pria itu! Aku benar-benar ingin membunuhnya!

“Sudahlah! Aku sudah tidak mau tau lagi tentang bagaimana kau berhasil mendapatkan apapun yang kau kategorikan sebagai informasi tentang diriku. Lalu bagaimana bisa kau masuk kesini! Ini kamarku!”

William menatap Adriana dengan pandangan terhibur, “Aku masuk kesini menggunakan kunci, tentu saja.”

Kekesalan Adriana semakin meningkat, ia merasa seakan-akan kepalanya terbakar karena terlalu emosi menghadapai pria di hadapannya itu. “Bagaimana kau bisa mendapatkan kunci itu?” tanyanya kembali dengan nada rendah.

“Well, mudah saja. Aku hanya menyebutkan namaku, lalu mengatakan bahwa kekasihku merajuk dan memesan kamar di hotel ini, kemudian manager hotel ini yang kebetulan ada disitu memberikanku akses untuk masuk ke kamar ini. Mudah bukan?”

Adriana memijat kepalanya yang pening setelah mendengar jawaban William. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan pria itu. Rasanya Adriana ingin sekali memukulkan kepalanya ke tembok dan berharap semua yang ia alami ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir.

“Kau itu sebenarnya siapa?” gumam Adriana lelah.

William mengangkat sebelah alisnya bingung, “Kau tidak tau siapa aku? William Denzel Black? Kau tidak pernah dengar?”

Adriana mengerutkan keningnya bingung, kemudian gadis itu menggeleng pelan. Mata William terbelalak, ia kemudian menatap Adriana seakan Adriana adalah seorang alien yang berasal dari luar angkasa.

Apakah aku harusnya tau siapa dia? Memangnya dia siapa? Presiden atau apa? Tapi aku yakin dia bukan Presiden sih Adriana membatin.

“Black Industries? Kau tidak tau?” tanya William heran.

Adriana menggeleng pasrah, sedikitnya gadis itu kesal karena pertanyaan William membuatnya merasa dirinya sendiri bodoh.

William menatap Adriana dengan pandangan kagum, “Apa yang kau tonton di televisi selama ini, Adriana? Apa kau pernah melihat berita dan sebagainya?”

Adriana merasakan kadar emosinya semakin meningkat akibat pertanyaan William yang terkesan sangat aneh itu. “Aku hanya menonton variety show, Korean drama, dan kartun. Aku tidak suka menonton berita. Aku membaca berita, tidak menonton, itupun hanya tentang property.” Jawab gadis itu jujur.

William melongo sesaat, kemudian pria itu tertawa keras seakan tidak percaya dengan jawaban yang Adriana lontarkan. “Kau benar-benar wanita ajaib.”

William menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus tertawa. Adriana hanya memperhatikan hal itu dengan kesal. “Pria satu ini benar-benar …”

“Sudahlah! Sana pergi! Kenapa pula kau ada disini, brengsek?! Pergi sana! Jauh-jauh dariku! Hush hush!” Adriana menggerutu kesal sambil mengibas-ngibaskan tangannya layaknya mengusir lalat. Hal tersebut sukses membuat tawa William terhenti, dan terganti dengan tatapan kesal pria itu. “Apa kau baru saja mengusirku?” tanya pria itu lamat-lamat.

Adriana mengangguk tidak peduli sembari terus mengibas-ngibaskan tangannya. Sontak saja hal tersebut membuat tatapan kesal William semakin menjadi. “Kau sudah tidak ada kerjaan bukan? Ikut aku sekarang.” Perintah William mutlak. Dengan bijak, pria itu mengabaikan usiran yang tadi dilayangkan Adriana padanya.

Adriana mengangkat tangannya, kemudian melipat kedua tangannya di atas dadanya. Kepalanya ia dongakkan dengan congkak, “Siapa bilang aku tidak ada kerjaan? Aku sibuk! Pergi sana!” usir Adriana lagi.

William menggeram pelan.

Gadis ini benar-benar menguji kesabarannya! Sebentar baik, sebentar menyebalkan.

Sungguh… William bingung sekali harus bagaimana menghadapi gadis itu. Rasanya seakan-akan cara berpikir gadis itu berada di luar batasan pikirannya sendiri, sehingga ia tidak bisa menjangkau pikiran gadis keras kepala itu.

William bangkit berdiri sambil menatap Adriana yang menatapnya dengan menyinggungkan sebuah senyum polos seakan-akan ia senang kalau William akan pergi dari tempat itu. Pria itu mengernyitkan dahinya, pikiran tentang Adriana yang tidak suka berada di sisinya benar-benar membuatnya merasa terganggu.

Tanpa berbicara, pria itu menarik tangan Adriana dan membawa gadis itu keluar dari kamar tersebut. Dan tentu saja, Adriana tidak menerima perlakuan William padanya dengan senang hati. Gadis itu memberontak dan berteriak-teriak minta dilepaskan, sedangkan William sendiri bersikap tidak peduli dengan segala rontaan dan pria itu seakan tuli dan tidak mendengar teriakan Adriana yang membahana di seluruh penjuru lorong hotel tersebut.

“William! Lepaskan aku!! Aku tidak mau pergi!!!” rengek Adriana pada akhirnya.

William tetap berpura-pura tuli dan berusaha mengabaikan segala rengekan Adriana yang menurutnya menggelikan.

“William! Ini namanya penculikan! Aku bisa melaporkanmu ke polisi loh! Jadi lepaskan aku ya? Kau tidak mau di penjara kan?”

“William! Kau menarik tanganku seperti ini tanpa perasaan! Kau kejam!”

“William! Lepaskan akuuu! Tanganku sakit!”

Adriana membungkam mulutnya setelah mereka sampai di parkiran. Gadis itu merasa bodoh karena sudah merengek seperti orang tolol pada pria arrogant yang sudah menculiknya. “Kenapa kau suka sekali menculikku sih?!” geram Adriana kesal.

William menatap Adriana yang bersedekap dengan pandangan terhibur. “Karena aku menginginkannya.” Jawab pria itu singkat. Adriana memandang William meremehkan, “Jadi kau sudah tidak bisu dan tuli? Sudah bisa menjawabku rupanya,” sindir gadis itu skaratik.

Lagi-lagi William memilih membungkan mulutnya dan dengan bijak mengabaikan sindirian gadis itu. Kesal karena mendapati keterdiaman William kembali, akhirnya gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam mobil sport hitam yang sudah bisa dipastikan milik pria menyebalkan yang menculiknya itu, lalu membanting pintunya dengan keras.

William menghembuskan napasnya kasar begitu Adriana membanting pintu mobilnya. Seumur hidup pria itu, baru pertama kali ia diuji kesabarannya seperti yang selalu dilakukan Adriana.

Sabar William, kau harus bersabar. Jangan sampai lepas kendali. Tenang… tenang…

Setelah mensugestikan dirinya sendiri untuk tenang, akhirnya William masuk kedalam mobilnya dan mendapati Adriana sedang cemberut padanya. William mengabaikan hal tersebut. Ia memakai sabuk pengamannya, kemudian menjalankan mobilnya dengan pelan.

Tidak sampai setengah jam berkendara, mereka akhirnya sampai di sebuah bandara kecil. Jika dilihat-lihat, bandara tersebut lebih pantas di sebut private airport melihat hanya ada sebuah jet pribadi dengan tulisan B Industries disana.

Tunggu dulu… Jet pribadi? B Industries?

“Tunggu dulu! Kau mau membawaku kemana sebenarnya!” Adriana menatap William takut sambil sesekali melirik private jet yang berada tidak jauh didepan mereka. Pria itu tersenyum miring, dan itu terlihat sangat mencurigakan.

Adriana meneguk salivanya dengan gugup, ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya setelah ini. Kenyataanya, segala sesuatu akan selalu merugikannya jika hal itu sudah ada sangkup pautnya dengan lelaki arogan yang brengseknya minta ampun, dan parahnya lagi, lelaki yang ia maksud sedang berada di sampingnya saat ini.

Ini namanya mimpi buruk! Sangat buruk!

William memberhentikan mobilnya tepat di samping tangga masuk jet tersebut, membuat Adriana semakin diselimuti kepanikan. Pria itu kemudian menyeringai puas, “Kita akan berlibur ke Hawaii, apa aku belum mengatakannya?”

-TBC-

Advertisements

Broken Vow

Title: Broken Vow Prolog

Genre: Drama, Hurt

Rating: G

Length: Chaptered

.

Cast:

Kim(Cho) Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:

Choi Siwon

.

Afiraa’s speech:

Hallo, afiraa kembali lagi niih. Kali ini afiraa bakal kasih kalian cerita baru, tapi yang satu ini chapter yaaa. Gatau kenapa, tapi afiraa lagi ga ada ide buat cerita yang happy happy gitu T_T jadinya malah cerita beginian. Wkwkwk. Yah pokoknya, semoga kalian suka yaah. Bakal afiraa usahain untuk update next chapter secepatnya. Bisa di follow juga, jadi kalian bakal dapat notifnya lewat email. Daaan terlebih afiraa mau ucapin terimakasih sebanyak-banyaknya yang udh mau kasih review buat afiraa, aku terharu banget deh suer. Afiraa janji bakal perbaikin lagi cerita-cerita selanjutnya supaya lebih baik

Happy reading ya guys, enjoy the stories ❤

broken vow

.

.

.

“Oppa, mari kita tidur. Ini sudah malam sekali, aku lelah.” Hwayeon kembali menguap untuk yang sekian kalinya. Kyuhyun menoleh sejenak kearah Hwayeon, kemudian kembali mengalihkan pandangannya kepada tumpukkan dokumen yang berada di meja kerjanya. “Kau tidurlah duluan, love. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku akan menyusul sebentar lagi.”

Hwayeon sontak cemberut setelah mendengar perkataan Kyuhyun, bibirnya mengerucut dengan tangan bersedekap di dadanya. “Tidak mau! Aku mau kita tidur bersama, jadi cepat hentikan pekerjaan sialan itu sebelum aku marah padamu.” Kyuhyun otomatis menghentikan seluruh kegiatannya, dan kini seluruh perhatiannya sudah teralih pada Hwayeon yang masih saja cemberut di depan meja kerjanya.

“Tapi sayang, besok aku ada meeting jadi-“

“Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya, tidur sekarang!” Hwayeon menghentakan kakinya kesal ke lantai. Kyuhyun memandangnya dengan binar geli dimatanya. Ia kemudian menghela nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. “Baiklah-baiklah. Mari kita tidur”

Kyuhyun akhirnya mengalah, ia bangkit dari kursinya setelah ia membereskan berkas-berkas yang bercecer. Dengan  perlahan ia berjalan mendekati Hwayeon, kemudian merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. “Nah jadi, haruskah kita tidur sekarang Tuan Putri?” tanya Kyuhyun geli, dan sukses mendapatkan sebuah cubitan sayang di perutnya.

“Ish, ayo tidur.” Setelah mengatakan itu, Hwayeon balik memeluk Kyuhyun. Kyuhyun terkekeh geli, dengan perlahan ia mengecup puncak kepala Hwayeon lembut. Tanpa kata, Kyuhyun mengangkat Hwayeon kedalam gendongannya, dan membawanya kedalam kamar mereka. Mereka mengahabiskan perjalanan mereka ke kamar dalam diam. Tidak satupun dari mereka yang bersuara.

Sesampainya di kamar, Kyuhyun membaringkan Hwayeon di kasur dengan perlahan. Tapi sepertinya Hwayeon tidak berniat melepaskan Kyuhyun, karena tangannya tetap saja bergelayut manja di leher Kyuhyun. Kyuhyun hanya menaikkan sebelah alisnya dengan bingung sambil memandang istrinya yang entah kenapa manja sekali malam ini. Kedua tangannya mengurung Hwayeon di bawah kungkungannya. “Aku mencintaimu.” Ujar Hwayeon tiba-tiba.

Kyuhyun tersenyum mendengarnya, “Aku tau, aku juga mencintaimu”.

Kyuhyun merendahkan tubuhnya, kemudian dengan lembut ia mengecup bibir Hwayeon. Hwayeon memejamkan matanya saat ketika bibir Kyuhyun mulai menguasai bibirnya. Lenguhan kecil menguar tanpa bisa dicegah. Kyuhyun kemudian tersenyum, dan mengakhiri cumbuannya setelah ia mengecup kecil sudut bibir istrinya itu. “Baiklah, sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu.”

Hwayeon menggeser tubuhnya, membiarkan Kyuhyun ikut berbaring disebelahnya dan kembali membawanya kedalam rengkuhan namja itu. “Jalja oppa” gumam Hwayeon lirih. Kyuhyun mengeratkan rengkuhannya pada tubuh Hwayeon. “jalja” balasnya tak kalah lirih sebelum akhirnya terlelap, menyusul istrinya yang sudah lebih dahulu masuk kealam mimpi.

 

*

 

Hwayeon memandang sekelilingnya dengan bosan, Kyuhyun masih saja sibuk di meja kerjanya. Ia sendiri sudah tak berselera membaca novel yang saat ini berada di tangannya. Ia kemudian menaruh novel tersebut disamping tubuhnya, kemudian meregangkan tubuhnya yang mulai terasa kaku. “Oppa, kau sibuk?” tanya Hwayeon santai.

“Tentu saja aku sibuk.” Jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangan dari laptop yang berada di hadapannya. Hwayeon mendengus, merasa bodoh karena menanyakan hal yang sudah pasti seperti itu.

“Aku bosaaaaaaan” keluh Hwayeon sebal.

“Maaf sayang, tapi aku sedang benar-benar sibuk. Lagipula, kenapa kau tiba-tiba mau ikut denganku ke kantor? Aneh sekali.” Lagi-lagi Kyuhyun tidak memandang Hwayeon saat mengatakannya. Hwayeon mengalihkan pandangannya pada kaca transparant yang melapisi ruangan Kyuhyun dari dunia luar. “Dirumah juga sama membosankannya!”

Kyuhyun menyerengai, ia tiba-tiba memikirkan sesuatu. “Lalu? Kau ingin agar tidak bosan?” pancing Kyuhyun. Hwayeon mengangguk seadanya, “tentu saja.” Seringai Kyuhyun melebar setelah mendengar jawaban Hwayeon. Diam-diam ia menekan tombol kunci pintu ruangan yang ada di laci mejanya, kemudian berjalan menghampiri Hwayeon yang duduk malas di sofa.

Hwayeon memandang Kyuhyun dengan pandangan aneh saat suaminya itu terus mendekat padanya. Tapi setelah sampai, bukannya duduk disampingnya, Kyuhyun malah mengurungnya di bawah tubuhnya. Kedua tangan Kyuhyun berada di sisi kepalanya, berpegangan pada senderan sofa. “Lalu, bagaimana kalau kita menghadirkan malaikat kecil supaya kau tidak bosan saat aku bekerja?”

Hwayeon terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum geli saat melihat wajah bingung Hwayeon, dengan cepat ia menghadiahkan satu kecupan di sudut bibir gadis itu. “ish oppa! Nanti kalau ada yang masuk bagaimana?”

Kyuhyun memandang Hwayeon dibawahnya dengan penuh cinta. Ia sangat mencintai Hwayeon, ada sesuatu di dalam diri gadis itu yang seakan menarik dirinya untuk terus berada di samping gadis itu. Ia menikmati waktu yang ia habiskan bersama dengan Hwayeon. Bahkan walaupun tidak ada satupun diantara mereka berdua yang bersuara, ia tetap menikmati moment-moment dimana hanya ada dirinya dan Hwayeon.

Dunianya seakan berpusat pada gadis itu. Mulai dari tawanya, senyumnya, suaranya, sifatnya, tubuhnya, segalanya. Hwayeon adalah poros dunianya. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan hidupnya tanpa gadis itu. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya jika Hwayeon sampai meninggalkannya. Membayangkannya saja ia enggan, apalagi jika itu benar-benar terjadi. Ia bahkan masih bisa mengingat saat saat dirinya harus berjuan untuk mendapatkan gadis itu. Yah well, tentu saja ia tidak akan mungkin bisa melupakan hal itu.

Hwayeon yang dulu, sangat berbeda dengan Hwayeon yang sekarang. Dulu gadis itu sangat kejam padanya. Ia masih tidak tau sampai saat ini, kenapa Hwayeon begitu membencinya dulu itu. Ia masih bisa mengingat betapa sakitnya tamparan gadis itu dipipinya. Kalau kupikir pikir lagi, wajar sih Hwayeon menamparnya mengingat dia tiba-tiba mencium bibir gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia benar-benar tidak tahan! Karena saat itu Hwayeon sangat sexy, sama seperti saat ini.

“Tenang saja sayang, tidak ada yang akan masuk. Bagaimana? Mau?” tawar Kyuhyun lagi. Ia terkekeh kecil saat mendapati rona merah menjalari pipi Hwayeon. Manis sekali  batin Kyuhyun gemas.

“Tidak! Kau gila ya? Kalaupun tidak ada yang lihat, bagaimana kalau ada yang dengar? Asistenmu? Dasar sinting!” Rona merah terus saja menjalari pipi bahkan sampai telinga dan leher gadis itu. Kyuhyun terkekeh dalah hati, ia sangat menikmati pemandangannya saat ini. “Baiklah baiklah, kita lakukan nanti malam saja dikamar atau diruang tamu juga boleh.” Ujar Kyuhyun jahil.

“Aduhh! Sakit chagi.” Hwayeon mendengus melihat wajah memelas Kyuhyun. “Sudah minggir sana, lebih baik cepat lanjutkan pekerjaanmu supaya kita bisa cepat-cepat pulang.”

Kyuhyun akhirnya melepaskan kungkungannya pada tubuh Hwayeon. “Baiklah Tuan Putri, Pangeranmu ini akan kembali bekerja agar kita bisa segera pulang dan membuat anak untuk menemanimu.” Hwayeon tertawa saat Kyuhyun membungkuk main-main padanya sebelum berjalan kembali ke meja kerjanya.

“Dasar gila” gumam Hwayeon geli.

“Gila karenamu, sayang.” sahut Kyuhyun sambil tertawa keras. Hwayeon menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Padahal Kyuhyun selalu dikenal sebagai atasan yang menyeramkan. Ia penasaran bagaimana reaksi para pegawaai Kyuhyun jika mereka melihat tingkah Kyuhyun seperti saat ini.

Drrtt Drrtt

Hwayeon mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun pada ponselnya yang bergetar. Nama Choi Siwon tertera disana. Hwayeon menatap Kyuhyun dan ponselnya secara bergantian dengan bingung. Haruskah kuangkat disini?  Batin Hwayeon bingung. Hwayeon kemudian menghela nafasnya dalam-dalam. Ia memutuskan untuk mengangkat panggilan Siwon, siapa tau ada hal penting.

“Hallo.” Siwon memulai di seberang sana.

“Ne, hallo.” Jawab Hwayeon ragu. Ia bisa menangkap pandangan penasaran Kyuhyun dari sudut matanya.

“Kau sibuk?” tanya Siwon to the point.

“Tidak.” jawab Hwayeon singkat.

“Kau dimana?”

Hwayeon terdiam sejenak, ia kemudian menghela nafasnya lagi. “Apa maumu?”

Kali ini Siwonlah yang terdiam. “Bisakah.. Bisakah kita bertemu sebentar? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Ujarnya kembali dengan ragu.

Hwayeon melirik Kyuhyun yang masih memandanginya dengan penasaran dari sudut matanya, “Kurasa tidak, suamiku tidak akan menyukai hal itu.” Kyuhyun yang merasa tersebut semakin dibuat penasaran, matanya memicing memandang Hwayeon, meminta penjelasan.

“Kau bersama Kyuhyun sekarang? Bukankah seharusnya ia bekerja?” tanya Siwon bingung.

“Ya, aku berada di kantornya saat ini. Jadi sebenarnya apa maumu Siwon oppa?” mata Kyuhyun sontak melebar mendengar nama Siwon terlontar dari bibir Hwayeon. Wajahnya mendatar seketika, dan sorot matanya berubah dingin dalam sekejap. Hwayeon menatap Kyuhyun, memberikan senyum menenangkan.

Siwon mendesah keras, “Aku sudah mengatakannya tadi, aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar saja. Ada yang ingin kubicarakan denganmu, ini bukan tentang kau dan aku atau semacamnya. Jadi jangan salah paham, aku hanya ingin berbicara denganmu tentang  Park Haneul karena kaulah yang paling dekat dengannya.” Jelas Siwon salah tingkah. Hwayeon terkejut mendengarnya, apa ada sesuatu yang terjadi diantara Siwon oppa dan Haneul? Gadis itu tidak pernah mengatakan apapun padaku batin Hwayeon bingung.

Hwayeon menimbang-nimbang sejenak. Ia bingung, haruskah ia menyanggupi keiginan Siwon atau menolaknya? Belum lagi pandangan menusuk yang Kyuhyun layangkan sungguh mengusiknya. “Baiklah, kita bertemu disini saja. Bukan di ruangan Kyuhyun oppa maksudku, di bawah ada kantin, kita bisa berbicara disana.” Kyuhyun yang menyimak pembicaraan Hwayeon dengan Siwon dari mejanya sontak bangkit dengan amarah yang lebih berkobar. Hwayeon yang melihat hal itu hanya mengangkat tangannya sambil menatap Kyuhyun, melarang Kyuhyun melakukan apapun.

“Apa tidak masalah seperti itu? Maksudku, suamimu tidak begitu menyukaiku.”  Hwayeon memutar bola matanya malas, tapi seulas senyum tersinggung di bibirnya. “Tentu saja dia tak menyukaimu oppa, bagaimanapun kau ini mantan kekasihku.” Ujar Hwayeon santai, tidak memperdulikan Kyuhyun yang seakan sudah terbakar api cemburu di sampingnya.

Siwon tertawa disebrang telepon, “Kau benar, hahaha, mungkin saat ini suamimu sedang melayangkan berbagai sumpah serapahnya padaku.” Hwayeon kembali melirik Kyuhyun yang berada di sampingnya, kemudian membenarkan ucapan Siwon. “Kurasa kau benar.” Ujar Hwayeon geli.

Siwon tersenyum, “baiklah kalau begitu, aku akan segera kesana. Hmm, apa aku perlu berbicara langsung pada suamimu? Maksudku, aku tidak ingin kau bertengkar dengannya karena hal ini.”

“Sudahlah, aku akan mengatakannya sendiri.” Jawab Hwayeon menenangkan. Siwon mengangguk, kemudian sadar kalau Hwayeon tidak akan mungkin bisa melihat anggukannya. “Baiklah, sampai bertemu nanti.”

“Ne.” Hwayeon mematikan teleponnya, kemudian memandang Kyuhyun yang masih berdiri kaku di sampingnya. Ia tersenyum menenangkan, kemudian menepuk tempat disebelahnya. Kyuhyun mendudukkan dirinya di samping Hwayeon dengan cepat. “Apa yang dia bicarakan denganmu? Kenapa dia meminta bertemu denganmu? Kenapa kau menyanggupi keinginannya?” cerocos Kyuhyun kesal.

Bukannya segera menjawab pertanyaan Kyuhyun, Hwayeon malah menyandarkan tubuhnya pada Kyuhyun. Dengan segera Kyuhyun melingkari lengannya melingkupi tubuh Hwayeon. “Tenang saja oppa, Siwon oppa hanya ingin berbicara tentang Haneul padaku.” Jawab Hwayeon santai.

Kyuhyun menaikkan sebelas alisnya dengan bingung, “apa maksudmu? Siwon dengan Haneul?” tanyanya tak yakin.

Hwayeon menggendikkan bahunya asal, “tak tau, mungkin begitu. Karena itu juga aku memintanya untuk bertemu disini, jadi kau tidak perlu khawatir. Ok?” Kyuhyun memicingkan matanya tak senang. “Aku ikut.” Ujarnya tiba-tiba

Hwayeon melengos, “Kau harus bekerja.” Jawab Hwayeon mutlak. Kyuhyun merengut kesal “Aku-“

Tok tok tok

Kyuhyun menoleh kearah pintu dengan kesal, kemudian dengan malas ia beranjak kembali ke mejanya, dan menekan tombol di laci mejanya untuk membuka pintu yang tadi sempat ia kunci. “masuk” perintah Kyuhyun kesal. Hwayeon menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Kyuhyun.

Han Yoora, asisten Kyuhyun masuk kedalam ruangan. “Perwakilan dari LH Grup sudah tiba.” Ia menjelaskan.

“Baiklah, suruh mereka menunggu sebentar.” jawab Kyuhyun. Yoora mengangguk, kemudian keluar dari ruangan tersebut setelah member salam pada Kyuhyun juga Hwayeon. Kyuhyun kembali mengalahkan pandangannya pada Hwayeon, “Baiklah, aku tidak akan ikut karena aku ada urusan. Jadi, jangan macam-macam dengannya.” Kyuhyun memperingati.

Hwayeon mengangguk, “tentu saja aku tidak akan macam-macam dengannya. Aku ini istrimu, kau harus percaya padaku.”

Kyuhyun memandangi Hwayeon lekat-lekat, kemudian mengangguk. “Aku percaya padamu.” Ujarnya sambil menatap kedalam mata Hwayeon. Hwayeon tersentak, Kyuhyun melihat pandangan terluka Hwayeon selama sepersekian detik dengan bingung. Mungkin hanya halusinasiku batin Kyuhyun tak yakin.

Hwayeon mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun kemudian bangkit berdiri, “Aku pergi dulu kalau begitu.” Ia menghampiri Kyuhyun, kemudian mengecup bibir Kyuhyun lembut. “Selamat bekerja.” Setelah mengatakan hal itu, ia kemudian lekas pergi dari ruangan Kyuhyun. Kyuhyun memandang punggung Hwayeon yang menjauh darinya dengan pandangan bingung. Entah kenapa beberapa hari ini ia merasa ada sesuatu yang aneh dari Hwayeon, tapi ia tidak tau apa itu. Seakan-akan ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan darinya.

Kyuhyun kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran pikiran aneh yang bisa membuatnya meragukan Hwayeon. Dengan segera ia kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang menantinya. Hwayeon yang berada di luar pintu ruangan Kyuhyun terdiam, pikirannya melayang entah kemana. Seakan tersadar, dengan cepat ia kembali melangkahkan kakinya ke arah lift. All is well batin Hwayeon.

Hwayeon melangkahkan kakinya dengan santai menuju ke arah kantin yang berada di dekat pintu masuk. Sesekali ia mengangguk, membalas sapaan para pegawai Kyuhyun yang mengenalinya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di sebuah kursi kosong yang berada tepat di samping jendela. Ia melamun sampai akhirnya panggilan Siwon menyadarkannya.

“Hwayeon-ah?” Panggil Siwon.

Hwayeon tersentak, ia menoleh dan mendapati Siwon menatapnya dengan pandangan khawatir. “Kau ok?” Tanya Siwon. Hwayeon mengangguk, “i’m ok”. Siwon menatap Hwayeon tak yakin, kemudian mengangguk dan mendudukkan dirinya di hadapan Hwayeon.

Hwayeon menatap Siwon dengan pandangan tertarik, “jadi?” Hwayeon memulai.

Siwon menggaruk tengkuknya dengan malu, pipinya merona merah. “Ya, akhir-akhir ini aku dekat dengan Haneul dan aku merasa cocok dengannya. Dia baik dan polos, bagaimana menurutmu jika em, jika aku bersama dengannya?” Tanya Siwon malu. Hwayeon memberikan pandangan tertarik yang membuat Siwon semakin salah tingkah.

“Yah, menurutku kalian memang cocok. Kau sendiri baik dan polos oppa, tapi dalam sisi lain kau juga tegas. Kau pasti bisa melindungi Haneul dengan segenap kekuatanmu, aku yakin.”

Siwon tersenyum senang mendengar perkataan Hwayeon. “Begitukah? Aku berencana untuk menyatakan perasaanku padanya, tapi aku tidak yakin. Apa dia juga memiliki perasaan yang sama denganku? Bagaimana kalau aku ditolak?” Hwayeon tertawa keras mendengar pertanyaan terakhir yang Siwon lontarkan padanya. Rona merah semakin menjalari pipi Siwon sampai ketelinganya karena malu. “Jangan tertawa seperti itu” bisik Siwon malu. Bukannya berhenti, tawa Hwayeon malah semakin besar. “Sejak kapan oppa menjadi tidak percaya diri seperti ini?” Tanya Hwayeon geli.

Siwon mendengus, tidak berniat menjawab pertanyaan Hwayeon.

Hwayeon kemudian menghentikan tawanya. “Aku tidak tau sih, karena Haneul tidak pernah membicarakan apapun padaku. Jadi aku tidak bisa memastikan. Lagipula oppa, percayadirilah sedikit. Kau itu memikat. Dan lagipula, sejak kapan kau jadi tidak percaya diri seperti ini sih? Seperti bukan dirimu saja.”

“Jadi dia tidak pernah bercerita padamu ya?” Tanya Siwon kecewa. Hwayeon jadi tidak tega dibuatnya. “Yah, seingatku dia pernah beberapa kali ingin mengatakan sesuatu padaku tapi tida pernah jadi. Mungkin dia ingin menceritakan tentangmu? Entahlah. Tenang sajalah oppa, aku yakin dia pasti menerimamu.” Siwon mengangguk-ngangguk setelah mendengar penjelasan Hwayeon, ia merasa sedikit lebih tenang.

“Baiklah, jadi, bagaimana keadaanmu?”

Hwayeon tersentak. Ia memandang Siwon kaku, “aku baik.”Jawab Hwayeon singkat. Siwon memandang Hwayeon penuh pengertian.

“Suamimu.. Dia tau?”

Hwayeon mendadak kaku seketika, “Tentu saja tidak.” Jawabnya cepat.

“Tidakkah seharusnya kau memberitahu suamimu? Kupikir membiarkan segalanya jadi seperti ini tidaklah bijak.” Siwon mencoba menasihati.

“Itu bukan urusanmu” jawab Hwayeon cepat, ia merasa terganggu dengan tema percakapan mereka saat ini.

“Itu memang bukan urusanku. Tapi kupikir, Kyuhyun berhak tau soal-”

“Cukup, kita tidak akan membahas itu sekarang ok?” Hwayeon menegaskan. Suaranya sedikit bergetar. Siwon membuka mulutnya, bersiap mengeluarkan bantahan lagi, tapi kemudian ia menutup mulutnya kembali. “Baiklah, terserah padamu. Tapi tetap, aku harap kau memikirkan perkataanku.”

Hwayeon bangkit dari kursinya dengan cepat. “Aku sudah bilang kalau aku tidak mau membahas hal ini. Aku pergi, permisi.”

Siwon mengalihkan pandangannya kearah kaca, memandangi keadaan luar yang ramai.

Hwayeon-ah... Batin Siwon sedih

 

 

-TBC-