Review Stealing Phoenix

Review Stealing Phoenix

Judul: Stealing Phoenix

Penulis: Joss Stirling

Penerbit: BIP Gramedia (@bipgramedia)

Halaman: 347 halaman


Hallooooo…

Ketemu lagi deh sama aku hehehe. Maaf lama gak muncul, aku agak sibuk sama kuliahku hehe. Kali ini aku mau membahas novel fantasi nih, setelah kemarin aku review novel romance.

Novel yang akan aku bahas hari ini adalah Stealing Phoenix. Ada yang tau novel ini gak? Menurutku novel ini lumayan popular sih, walaupun ga sepopuler novel fantasi lain seperti Percy Jackson, Magnus Chase, dan lain-lain.

Nah jadi, novel ini tuh ditulis oleh seorang penulis asal London, Britania Raya, yang bernama Joss Stirling. FYI, Joss Stirling itu cewek yaa wkwkwk.

Stealing Phoenix adalah buku kedua dari seri Benedict. Buku pertamanya adalah Finding Sky, yang juga akan kureview nantinya (kalau bukunya udah datang yaa hihihi).

Kenapa kok aku bisa baca buku kedua dulu padahal belum baca buku pertama?

Soalnya emang bukan seri yang berkaitan banget gitu kok. Ya memang sedikit berkaitan, tapi tiap buku itu beda tokoh. Jadi menurutku, ini bisa di kategorikan stand alone novel karena kalian bisa membaca buku ini tanpa membaca buku pertamanya dulu.

Kalian udah penasaran?

Kita intip dulu yuk blurbnya. Ini dia:


Blurb:

Phoenix hidup bersama kelompok Savant mafia yang diketuai oleh Sang Peramal. Dengan talenta supernatural yang disalahgunakan untuk mencuri, Phoenix mengincar pelajar Amerika bernama Yves Benedict yang sedang mengunjungi London. Namun, pertemuannya dengan Yves adalah sebuah takdir-dia adalah pasangan jiwanya.

Ketika Sang Peramal memegang masa lalunya dan menginginkan masa depannya, akankah Phoenix dapat menguubah hidupnya bersama Yves?


Wuiiihh, gimana gimana? Keren ya?

Jujur aja, aku tertarik sama buku ini karena covernya keren banget, udah gitu blurbnya menggugah selera gitu. Lezat lezat gimana gitu wkwkwk (maklum ya, aku pecinta fantasi). Apalagi ini novel seri, makin cinta deh aku hehehe.

Aku awalnya pikir, kekuatan supernaturalnya itu yang wah banget sampe war gitu mungkin, jadi aku sebenernya udah sedikit mengantisipasi adanya bunuh-bunuhan dan pembantaian. Tapi ternyata engga. Aku bisa bilang kalau ini tuh novel fantasi ringan. Soalnya ga bikin otak kita sulit memprosesnya.

Kalau kayak Percy Jackson, Harry Potter, Magnus Chase, itu kan kita harus sedikit memutar otak yaa, ngebayangin makhluk-makhluk dan sebagainya. Tapi kalau novel Stealing Phoenix ini, bener-bener ringan kok, suer.

Aku mau kenalin tokohnya dulu aja yaaaa, ini dia:


Phoenix: Aku ga seberapa tau gimana fisiknya, karena memang ga terlalu banyak deskripsiin fisik Phoenix berhubung novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu Phoenix sendiri.Dia tipe-tipe cewe pemberani, pemberontak, tidak bisa percaya pada orang lain.
Latar belakangnya rumit sekali seriusan deh. Ibunya meninggal sejak dia umur 8 tahun, dan dia tidak tau siapa ayahnya. Tinggal di sebuah komunitas jahat yang membuatnya menggunakan kekuatan Savant untuk perbuatan tidak baik, yaitu mencuri, yang kemudian malah membawanya bertemu dengan pasangan jiwanya sendiri.

Yves: Cowok baik hati, sangat loyal sama keluarga, dan tentunya pada pasangan jiwanya. Aku ga bisa bayangin, apa ada cowok kayak dia di dunia ini? Wkwkwk. Di novel mah banyak, miris wkwk.
Selalu menggaet perhatian oara wanita dari segala jenis umur. Dari yang muda, sampai yang tua, semua selalu terpikat sama fisik Yves yang notabene memang keren banget. Tingginya sekitar 180cm lebih. Keren yah? Tinggi-tinggi gitu enak di peluk #eh wkwkwk.

Sang Peramal: Kayak buntelan daging kayaknya. Turun tangga atau jalan dari mobil ke dalam restaurant aja udah ngos-ngosan kayak habis lari marathon. Sungguh terlalu.
Selalu memakai pakaian warna putih, licik, arrogant, dan egois. Suka memperdaya orang lain dengan kekuatan Savantnya. Dia dicurigai sebagai ayah Phoenix dan bawahan-bawahannya yang lain. Talentanya sangat kuat, membuat semua orang takut padanya, terlebih Phoenix.

Unicorn & Dragon: (Ia, itu memang namanya. Jangan tanya kenapa aneh, aku juga gak tau) Arrogant, merasa tingkatan mereka lebih tinggi daripada bawahan Sang Peramal yang lainnya. Berambisi untuk menggantikan Sang Peramal. Hanya menggunakan otot, tapi ga punya otak #ups


Sebenernya tokohnya ga cuma itu aja, tapi banyak banget. Dan masing-masing tokoh punya kelebihannya masing-masing, dan menarik dengan caranya sendiri.

Aku ga mungkin nyebut semua tokoh yang ada, karena buanyak banget. Dan mereka bukan Cuma figuran yang sekedar lewat, tapi mereka juga sama pentingnya kayak tokoh lain.

Berhubung ini adalah seri Bennedict, jadi pemainnya tentu dari keluarga Bennedict itu sendiri. Setauku yang sudah di terjemahkan ke bahasa Indonesia itu baru dua, tapi aku gatau lagi sih yang ketiga sudah di terjemahkan atau belum.


Yves: “Oh ya, dan dia pasangan jiwaku. Makan siang sudah tersedia. Phee, Xav, cepatlah. Kalau tidak, kuhabiskan semuanya.”

Xav: “Aku turut prihatin. Kadang-kadang tingkahnya memang dungu, tapi dia paling baik di keluarga kami, jadi perilakunya bisa saja lebih buruk.” –page 85-

Pertemuan awal mereka awalnya kurang baik. Phoenix mencoba mencuri barang Yves, lalu Yves meledakkan barangnya supaya tidak bisa dicuri. Ribet ya? Wkwkwk.

.

Phoenix: “Baik sekali kau menganggap begitu, tapi anggap saja kau sudah kuperingatkan. Aku pasangan jiwa yang payah.”

Yves: “Aku bersedia mengambil risiko. Sekarang kau ikut saja denganku. Tidak ada monster yang bisa memisahkan kita.” –page 189-

Uuuugh, so sweet banget sih Yves. Boleh ga Yves buat aku aja gitu? Wkwkwk

.

Yves: “Sekarang aku sudah menjadi penjahat, kan? Aku akan mencurimu.”

Phee: “Benarkah?”

Yves: “ He-eh. Tapi pertama-tama, aku akan mencuri sebuah ciuman.” –page 279-

Toloong!! Sweetness overload!! Aku diabetes nanti.

.

Phee: “Aku akan melakukan ini atas kemauanku sendiri atau tidak sama sekali.”

Yves: “Phee, kau tidak punya waktu. Aku mengenal api-yang ini hampir mencapaimu. Aku menghalau asap, tapi bahkan aku tak bisa menghentikan api setelah melepaskannya.”

Loh loh loh. Ada apa nih? Phee kenapa? Ada bahaya?


Overall, novel ini menarik banget menurutku. Banyak yang bilang kalau buku kedua ini lebih asik dibandingkan buku yang pertama. Tapi aku sendiri ga bisa kasih pendapat, berhubung aku juga belum baca buku pertamnya.

Untuk ukuran covernya udah keren banget. Sesuai sih sama judulnya, Stealing Phoenix, jadi warna covernya juga merah (mungkin menggambarkan burung phoenix, entahlah).

Lalu untuk ukuran ketebalan, yahh.. lumayan lah ya. Emang gak terlalu tebal, dan ukuran bukunya juga kecil kalau dibandingkan sama novel fantasi lainnya, tapi itu juga udah cukup memuaskan buatku.

Alurnya jelas, penokohannya juga kuat. Cara menulisnya juga konsisten dari awal sampai akhir, aku suka. Semuanya udah keren banget. Jujur aku baca ini 5 jam nonstop loh, langsung kelar wkwkwk. Ceritanya asik, mendebarkan gitu deh.

Tokohnya juga bikin gemas, Phoenix, tokoh utamanya itu yang bikin gemas. Sifatnya yang sulit percaya sama orang lain bikin novel ini jadi lebih menarik.

Oh, dan untuk kalian yang penasaran, judul Stealing Phoenix itu menurutku sudah mencakup keseluruhan cerita, karena pada akhirnya, Phoenix memang dicuri sama pasangan jiwanya. Jiwa dan raga #azeekkk wkwkwkw.

Oke deh, segitu dulu aja review dari aku.

Jangan lupa di like dan comment yaaa!

Bubay!

Don’t miss me! See you in the next review!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s