My Protective Mr. Arrogant // Part 5 – Decision

Part 5

Decision

Mata Adriana membelalak, ia menatap William dan villa dihadapannya secara bergantian dengan mulut menganga lebar.

Mendapati reaksi Adriana yang terpukau seperti itu membuat William senang bukan main. Pria itu dengan segenap tenaga berusaha untuk menekan wajahnya sendiri agar tidak tersenyun, dan malah menghasilkan sebuah seringai menyebalkan-menurut Adriana.

“Ayo masuk,” ajaknya kemudian.

Pria itu meletakkan tangannya di belakang punggung Adriana, dan menuntunnya untuk masuk ke dalam villa tersebut.

Sesaat Adriana menginjakkan kakinya di dalam villa tersebut, gadis itu kembali berdecak kagum. Villa yang dari luar memang terlihat menakjubkan itu membuatnya semakin menyukainya.

Tanpa mempedulikan William, Adriana berjalan sendiri tanpa di komando. Ia menyusuri setiap sudut rumah itu dengan William yang tetap setia mengikutinya dari belakang tanpa banyak bicara.

“Dari mana kau tau ada villa seperti ini?” Tanya Adriana, membuka percakapan.

“Ini milikku,” jawab William singkat.

Adriana mendengus, sebenarnya ia ingin membantah lagi, tapi ia mengurungkan niatnya itu mengingat kalau hal itu bukan urusannya sama sekali.

“Apa semua wanitamu kau bawa kesini?” Tanya gadis itu lagi.

“Tidak.”

Tidak perlu seketus itu juga kali! Pria menyebalkan!

“Akan kutunjukkan kamar kita, ayo.”

Tanpa menunggu reaksi Adriana, William berjalan menjauh dengan tubuh tegang. Adriana melengos melihat hal tersebut. “Apa-apaan sih pria itu? Aneh sekali!”

Walaupun sambil menggerutu, Adriana tetap mengikuti William dari belakang pria itu.

Baru beberapa detik ia berjalan, ia kemudian berhenti mendadak dan melotot. “Tunggu dulu! Apa yang kau maksud dengan kamar kita?! Kau gila ya? Ingin mati?!”

William terus berjalan naik ke lantai dua tanpa mempedulikan Adriana yang berteriak-teriak di belakangnya. Dalam hati ia tertawa karena reaksi gadis itu sangatlah lambat.

Dasar bodoh, William membatin.

“Cepatlah!” William berseru agak keras saat ia merasa Adriana masih belum mengikutinya kembali.

“Brengsek!”

Sumpah serapah yang keluar dari mulut Adriana entah kenapa malah membuat William bergairah. Pria itu mendengus, mencoba mengabaikan tubuhnya yang memanas secara mendadak. Terlebih saat ini gadis yang merupakan penyebab gairahnya tersulut itu sedang berjalan di sampingnya.

Tapi tunggu dulu, gadis?

William tertawa dalam hati. Tentu saja bukan gadis lagi, karena Adriana sudah tidak perawan, and well, he’s the one who took that from her.

Tanpa sadar, mereka sudah berada di depan pintu kamar. Dengan baik hati William membukakan pintu dan mempersilhkan Adriana untuk masuk.

Lagi-lagi kamar dengan aksen putih-abu menyapa mata mereka

Lagi-lagi kamar dengan aksen putih-abu menyapa mata mereka. Membuat Adriana kembali berdecak kagum.

Dengan langkah cepat, Adriana berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke arah pantai. Ia kemudian melihat pemandangan indah yang tersaji di depan matanya.

How beautiful.”

William mendekat.

Pria itu melingkarkan kedua tangannya di sekitar perut Adriana,kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.

Adriana membeku. Tubuhnya mendadak kaku mendapati perlakuan William yang menurutnya kurang ajar.

“Lepaskan!”

Bukannya melepaskan rengkuhannya, pria itu malah mempereratnya. “Tidak,” tolak William tegas.

Adriana melenguh.

Karena terkejut, ia sontak menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. William menyeringai dalam aktivitasnya. Jadi, William tiba-tiba saja mengecup dan menggigit leher Adriana, itulah yang membuat wanita itu melenguh.

Adriana memejamkan matanya. Tanganya terkulai lemas di samping kanan kiri tubuhnya. Bibirnya terus ia gigit, mencegah suara-suara tak pantas meluncur keluar dari mulutnya.

“Hen-hentikan,”

Adriana mengerang. Tubuhnya semakin melemas karena William tak kunjung menyudahi aktifitas tidak senonohnya.

Dengan gencar, William terus mengecup dan menggigit kecil ceruk leher Adriana, membuat leher yang tadinya mulus menjadi dihiasi banyak bekas-bekas kepemilikannya.

Adriana menghela nafas lega setelah pria itu berhenti mengerjai leher sucinya.

William menggeram. Hasratnya sudah tidak mampu ia bendung, ia bisa merasakan kalau selatan tubuhnya sudah bangkit sepenuhnya.

Pria itu kemudian menggertakan giginya, ia kemudian melepaskan pelukannya dari Adriana dan beralih ke kamar mandi. “Aku akan mandi dulu,” ujarnya kaku.

Adriana hanya mengangguk. Pipi wanita itu memerah dan jantungnya terus berpacu kencang. Bukannya ia tidak tau kalau William sudah tersulut gairahnya, ia bisa merasakan dengan jelas kekerasan tubuh William saat pria itu memeluknya tadi. Tapi ia jelas tidak siap, walaupun ia tau apa yang pria itu inginkan, ia tidak bisa memberikannya. Ia hanya.. tidak siap.

Setelah kepergian William, Adriana merenung. Apa yang ia lakukan ini benar? Ikut ke sini bersama William? Apa itu hal yang benar untuk ia lakukan? Apa tidak masalah seperti ini?

Tapi kalau di pikir-pikir. Ini sedikit konyol. Mereka baru saling mengenal tidak lebih dari satu bulan. Lebih tepatnya baru satu minggu. Tapi mereka sudah melakukan hubungan seksual yang selama ini ia hindari. Dan lihatlah sekarang, ia sedang berlibur dengan pria itu di Hawaii, berdua, di pantai pribadi yang tidak berpenghuni.

Adakah yang lebih aneh dari ini? Oh, dan jangan lupa, pria sialan itu juga memberikannya sebuah perjanjian dimana ia harus mau berpura-pura menjadi kekasihnya.

Apa-apaan itu? Adriana mendesah, hidupnya sudah cukup aneh, sudah cukup sulit, kenapa Tuhan malah memberikan kesulitan lainnya dengan menghadirkan pria brengsek itu di hidupnya?

Terkadang ia merasa, hidup benar-benar tidak adil.

Ibunya kabur dengan lelaki lain saat ia masih balita, membuat ayahnya depresi dan berubah membencinya. Lelaki yang tidak bisa ia sebut ayah itu berkali-kali mencoba membunuhnya. Ia juga berkali-kali di pukul dan di cambuk jika pria itu tersulut emosi. Ia bahkan pernah hampir di perkosa oleh ayahnya sendiri. Bayangkan itu, ia tidak butuh tambahan masalah untuk hidupnya.

Ayahnya memang sudah di penjara, namun entah bagaimana, pria itu bisa kabur dua tahun yang lalu dan selama itu pulalah, ia tidak bisa menjalani hidupnya dengan tenang. Ia selalu takut jikalau pria itu tiba-tiba menampakkan dirinya dan mencoba membunuhnya lagi.

Memikirkan hal itu, ia menjadi teringat dengan sms yang pernah ia terima beberapa hari yang lalu. Ia takut dan cemas. Bagaimana bisa pria itu mendapatkan nomor teleponnya? Ia benar-benar tidak tahu.

“Hei.”

Adriana meloncat karena kaget. Jantungnya terasa seperti mereka akan meloncat keluar dari dalam dadanya.

“Jangan mengagetkanku!” Bentaknya kemudian.

William mengangkat sebelah alisnya bingung. “Aku tidak mengagetkanmu. Ak sudah memanggilmu berkali-kali. Kau saja yang melamun. Apa sih yang kau pikirkan?”

Adriana memalingkan wajahnya, “Bukan urusanmu.” Jawabnya ketus.

Hell yeah, itu urusanku. Kau tidak mau menjawab? Well, let me guess, is it about your father?

William menyeringai, sedangkan Adriana menatapnya tidak percaya. “You don’t know anything!” Pekik Adriana marah.

Tangannya mengepal di samping tubuhnya, dan matanya berapi-api karena marah. “Aku sudah mengatakan padamu, aku mencari data tentangmu, dan itu termasuk masa lalumu juga orang tuamu. Aku bahkan tau kalau kau memiliki seorang teman yang tinggal di Italia.” Ucap William lagi.

Mata Adriana membelalak. Ia mundur perlahan, tiba-tiba merasa takut pada pria itu.

“Aku-“

“Sejak awal, aku sudah tau hal ini. Karena itu aku memasukkan poin penting tentang keamananmu di perjanjian yang kuberikan padamu.” Ucapnya lagi.

Adriana diam, ia merasa enggan merespon pria itu.

“Kita bisa saling menguntungkan, Adriana. Tanda tanganilah perjanjian itu. Maka kau akan aman, dan aku akan mendapatkan apa yang aku mau, yaitu dirimu. Tidak buruk bukan? Ini perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak.” Lanjutnya lagi.

Adriana tetap mempertahankan kediamannya sambil terus memikirkan perkataan William.

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya ia membuka suara. “Bagaimana dengan kebutuhan seksualmu? Maksudku, selama kita menjalin hubungan, maksudku perjanjian itu, bukankah kau tidak bisa um…”

“Bercinta? Aku bisa melakukannya denganmu.” Jawab William santai. “Itupun kalau kau bersedia,” tambahnya cepat.

“Aku tidak mungkin bersedia.”

“Tidak, kau akan bersedia. Bahkan, kau yang akan memintanya padaku.” William menyeringai.

“Itu tidak mungkin!” Ujarnya marah.

Well, lihat saja nanti. Jadi bagaimana? Kau bersedia?” Adriana cemberut, ia merasa dilema. Kepalanya pusing, dan ia butuh mandi saat ini juga.

“Aku akan memikirkannya. Minggir. Aku mau mandi.”

“Mau ku temani?”

“Jangan harap! Asshole!


Adriana merengut. Keheningan kamarnya sama sekali tidak membantu mengurangi rasa galaunya. Sebenarnya, bukan mengurangi, suasana kamarnya yang temaram itu malah memperburuk suasana hatinya.

Ia kemudian menghela napasnya dengan berat.

Apa sih tujuan pria itu sebenarnya? Aku yakin alasan yang dia berikan tidak sepenuhnya benar. Memilikiku? Yang benar saja! Aku tidak sebodoh itu untuk mempercayainya.

But.. He’s not that bad i guess.

Geezzz, apa sih yang sebenarnya ku pikirkan! Adriana, sadarlah! Dia itu pria buaya yang dengan sialnya di pertemukan denganmu.

Adriana kemudian memandang map perjanjiannya yang tadi di berikan ‘lagi’ oleh William.

Dengan tidak yakin, ia kembali membaca ulang perjanjian itu. Satu persatu kata ia baca, kemudian ia resapi. Gadis itu kemudian terdiam, lalu menyeringai.

“Mwehehehehe. Mati kau buaya jelek.” Kikiknya senang.

“Siapa buaya jelek?” Tanya William dari depan pintu yang terbuka. “Sejak kapan kau di situ?!” Teriak Adriana histeris.

Mati aku, pasti dia mendengarku!

William mengernyit.

“Hentikan.” Ujarnya tiba-tiba. Adriana menegang, “Hen-hentikan a-pa?” Tanyanya tersendat.

“Menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain. Itu menyebalkan, kau tau?”

Adriana melongo. Dalam hati ia menyesal karena sudah khawatir pria itu tau apa yang ia pikirkan.

“Kau yang menyebalkan. Pergi sana! Keluar dari kamarku!” Bentak Adriana ,mendadak merasa kesal.

Gadis itu kemudian bangkit berdiri dengan kaki menghentak, berjalan ke arah William dengan kesal, lalu mendorong pria itu lebih jauh dari pintu kamarnya, kemudian…

Brak!!!

Ia nenutup pintu itu dengan kekesalan yang tak terbendung. Di luar, William terpaku. Ia merasa takjub dengan perlakuan Adriana.

Pria itu kemudian tertawa. “Menarik. Sangat menarik.”

“Aaaaaaarrrrggghhhhhh!!!!! COWO BRENGSEEEKK!!!! AWAS KAU!!!” Teriak Adriana dari dalam kamar, otomatis membuat William memperbesar tawanya.

Setelah dirasa kalau William sudah pergi dari depan kamarnya, Adriana kembali duduk di tempat tidurnya. Masih dengan keadaan kesal, gadis itu menatap map perjanjiannya lagi.

“Ini semua gara-gara kau!” Tuding gadis itu.

Hening

“Aaaahhhh!! Lelaki itu benar-benar! Menyebalkan sekali!!!” Geramnya lagi.

Tangannya mengambil map perjanjian itu, meremas-remas map tersebut sampai tak terbentuk, sambil giginya bergemeletuk menahan emosi.

“Awas saja!!”

Adriana mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Nah, jadi apa yang harus kulakukan padamu?” Ia bergumam sambil menatap map perjanjiannya yang sudah tidak berbentuk.


William menyesap kopinya dengan hikmat. Suara jangkrik dan debur ombak menemani malamnya yang sepi. Di hadapannya, macbook masih menyala dengan terang.

Ting!

William menoleh saat ada suara email masuk dari macbooknya. Dengan santai ia membuka email tersebut, membacanya perlahan, lalu menyeringai.

Matanya berkilat-kilat di tengah gelapnya malam. Jemarinya kemudian berpindah dari cangkir kopi menuju keyboard dan mengetikkan jawabannya.

“Will.”

Merasa terpanggil, William menolehkan kepalanya dan mendapati Adriana berdiri sambil bersandar di pintu kaca.

What was that?” William bertanya.

Adriana bingung, “what do you mean?

That thing you called me just now.

What?”

“That Will thing.”

“What’s wrong with that?

Oke, sekarang Adriana bingung. Memangnya ada yg salah dengan panggilannya? Apa yg salah dengan panggilan Will? That’s cute though.

“Sejak kapan kau memanggilku seperti itu?” Akhirnya William membuka suara setelah beberapa lama terdiam. “Well, that’s sounds weird. But, i like it

Well, aku kesini bukan untuk mendiskusikan nama panggilanmu.” Ujar Adriana tidak peduli.

William memiringkan kepalanya, kemudian tersenyum miring. “Nah jadi, untuk apa kau kesini? Merindukanku?”

Adriana memutar matanya, “Yang benar saja. Jangan bercanda.” William terkekeh, “Yah, hanya mencoba peruntunganku.”

Adriana tersenyum geli mendengar jawaban William. “Sayangnya kau tidak beruntung,” ia menggoda.

“Sepertinya begitu. Nah jadi, kenapa kau kesini kalau tidak merindukanku?” Tanya pria itu lagi.

ADRIANA POV

“Nah jadi, kenapa kau kesini kalau tidak merindukanku?”

Aku menggigit bibir bawahku. “A-aku…”

“Berhenti menggigit bibirmu, Adriana. Jika kau tidak berhenti melakukannya, kita tidak akan tidur malam ini.”

Aku terkesiap. Matanya menyala-nyala penuh gairah. Sial, bukan ini maksudku kemari.

Aku berdehem. “Aku sudah memiliki jawaban.” Kataku cepat. Aku mengulurkan map perjanjianku padanya, dan dia hanya melihat map tersebut dengan alis berkerut.

“Dan kenapa kertas ini seolah-olah telah terjebak badai?” Ia menyeringai. Kurang ajar. Mukaku terasa terbakar, pria itu memang sialan.

“Kau bisa melihat jawabanku di sana.”

Well, aku sama sekali tidak berniat menanggapi sindirannya tadi “Cepatlah, ambil ini. Tanganku pegal.”

Nah akhirnya, ku goyang-goyangkan tanganku karena pegal. Kenapa sih, pria itu selalu membuatku kesal? Menyebalkan sekali.

Aku memerhatikannya saat ia memandangi map yang kuberikan. Ia beberapa kali menatap map di tanhannya dan aku secara bergantian. Tatatapan matanya sungguh tidak terbaca, dan raut wajahnya berubah serius. Entah aku harus khawatir atau senang dengan hal ini.

“Baiklah, mari kita lihat jawabanmu.”

Aku meneguk salivaku dengan susah payah, kemudian memejamkan mataku. Baiklah, tidak ada jalan mundur. Tenanglah Adriana. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Oke, kau akan baik-baik saja. Tenanglah.

Hening

Kenapa hening sekali? Siapapun, tolong berbicaralah.

“Baiklah, apa maksudnya ini Adriana?” Sial sial sial. Aku sungguh sial. Baiklah Adriana, toh kau sudah basah, menjeburkan diri saja sekalian.

Well, seperti yang kau lihat disitu. Itulah yang kumaksud.”

William menggeram. Sial, lelaki itu menggeram bukanlah pertanda yang bagus. “Apa kau mencoba mengatakan kepadaku kalau kau menolak perjanjian ini? Menolakku?”

Baiklah, kupikir aku tidak akan kembali dari sini hidup-hidup. Tuhan tolong aku. “Baguslah kalau kau mengerti, jadi aku tidak perlu repot-repot menjelaskan.” Jawabku pura-pura acuh.

Pria itu menggeram lagi. Shit. Apa aku membuatnya marah? “Well well well. sayangnya, kau harus menjelaskannya padaku.”

Aku mematung. Sejak kapan ia berada di hadapanku. Aku mengangkat kepalaku, menatapnya tepat di kedua belah matanya yang berkilat-kilat berbahaya.

Matanya berwarna hitam pekat, sangat berbahaya namun sexy. Apa dia selalu se-sexy ini?

Aku terkesiap. Sial. Apa sih yang kupikirkan? “Aku benar-benar ingin tau apa yang sedang kau pikirkan di kepala cantikmu itu, Adriana. Tapi sekarang, aku mau kau menjelaskan padaku semuanya.”

“Ku-kupikir itu sudah cukup jelas. Aku tidak merasa perlu menjelaskan apapun lagi.”

“Oh yeah, kau sangat perlu. Mari, kita masuk kedalam. Kau akan menjelaskannya padaku segalanya di kamar.”

Tunggu dulu, kamar? Serangan panik tiba-tiba saja melandaku. What the fuck?!

“Aku.tidak.akan.menjelaskan.apapun.di.kamar.atau.dimanapun.dan.kapanpun.tidak.sekarang.tidak.nanti.” aku mendesis.

Pria ini! Aku tidak akan membiarkannya berbuat seenaknya lagi!

“Kau tentu akan menjelaskan seluruhnya padaku. Di kamarku. Di bawah tubuhku.” Aku membelalak. Apa-apaan pria ini?

“Aku tidak akan berada di bawah tubuhmu! Kau tidak boleh memaksaku!” Aku berteriak kesal.

“Aaaaaaaaaa!!!!!! Turunkan aku!!!! Sialan!!!! Brengsek!!!! Asshole!!!!! FUCK YOU!!!” Jeritku histeris. Tiba-tiba saja ia menggendongku di pundaknya seakan aku karung beras. Aku akan menghajarnya! Brengsek!

Plakk!!

WHAT THE FUCK!!!

Apa dia.. Apa dia baru saja.. MEMUKUL PANTATKU?!

“KAU GILA?! MAU MATI?! TURUNKAN AKU SIALAN! I HATE YOU!!!”

“I love you too baby. Sekarang diamlah, kau membuatku pusing.”

“What the fuck! Aku tidak bilang i lo- shit. Kau bajingan! Brengsek!” Aku menjerit dan menendang-nendang udara. Aku tidak peduli jika itu mengganggunya! Dia pantas mendapatkannya!

Aku tersentak saat ia melemparku ke kasur. Kurang ajar! “Kau tidak boleh memaksaku!!!” Aku menjerit, kemudian terengah-engah karena emosi.

“Tidak, aku tidak akan memaksamu. Kau akan memohon dengan sendirinya.”

Sial. Apa yang sudah kulakukan.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s