My Protective Mr. Arrogant // Part 4 – Hawaii Trip

Part 4

Hawaii Trip

Adriana terdiam kaku. Seluruh darah dalam dirinya terasa mengalir dengan deras ke atas kepalanya. “APA KAU BILANG???!!!” teriak gadis itu kemudian.

William hanya memasang wajah datar, ia sudah mengira kalau respon Adriana akan seperti itu.

“Kau bilang kau akan mengantarkanku ke airport besok! Kenapa kau malah menculikku untuk pergi ke Hawaii sekarang?! Kau gila atau bagaimana?!” cerocos Adriana panik.

“Aku berubah pikiran.” Jawab William singkat.

Adriana menatap Willian tidak percaya. “Aku tidak peduli dengan pikiranmu! Aku tidak mau! Aku harus pulang besok!”

William mengalihkan pandangannya kembali pada Adriana. Pria itu menatap gadis yang sedang panik itu dengan tatapan menilai. Lalu tanpa mengatakan sepatah katapun, pria itu membuka pintu mobilnya kemudian keluar.

Adriana tetap diam di tempatnya, enggan beranjak. Tidak berselang lama, pintu di sebelah Adriana kemudian terbuka.

“Kita akan pulang, tapi kita akan ke Hawaii terlebih dahulu. Aku berjanji akan memulangkanmu kembali tanpa kekurangan suatu apapun,” William mencoba menawar.

Adriana tidak menanggapi.

William menghela napasnya keras. “Turun sekarang dan ikut aku, atau kau akan benar-benar menyesal.”

Merasa lelah berdebat, akhirnya William memutuskan untuk memakai cara andalannya untuk menaklukan gadis keras kepala yang saat ini masih bersikeras mengabaikannya. “Dengar, jika kau tidak turun dalam hitungan ketiga, aku akan menggeretmu keluar dari mobil sialan ini lalu mencumbumu di luar sini. Kau tau aku besungguh-sungguh, Adriana.”

William sedikit mengembangkan senyumnya saat melihat Adriana sedikit bereaksi karena ancamannya. William bisa melihat tubuh gadis itu yang menegang kaku dengan amat jelas dari tempatnya berdiri.

“Satu…” mulai pria itu.

Adriana menggerakkan sedikit kepalanya, dan meremas tangannya sendiri karena gugup.

Pria brengsek itu tidak bersungguh sungguh kan?

“Dua…” lanjutnya pria itu lagi.

Adriana semakin panik.

“Ti-”

“Oke stop! Aku keluar! Aku keluar!” potong Adriana cepat. Gadis itu melepas seatbeltnya dengan panik kemudian keluar dari mobil tersebut dan berdiri di samping William yang saat ini sudah menyeringai puas.

Si brengsek ini benar-benar!

Adriana menggeram, ia merasa terus menerus dipermainkan oleh pria berambut coklat itu. Adriana bersumpah dalam hatinya, kalau ia akan membalas dendam akan perlakuan semena-mena William padanya.

“Kenapa kau diam saja? Ayo cepat naik.” Adriana berdecak. Ia memandang William dengan tajam melalui sudut matanya. William yang dipandang seperti itu tidak mengeluarkan reaksi apapun, namun setelah Adriana berbalik sambil menghentak-hentakkan kakinya, barulah William tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran. “Gadis menarik,” gumam pria itu rendah.

William membuntuti Adriana dan naik ke atas jet perusahaan pribadi tersebut. Adriana berhenti secara tiba-tiba tepat setelah mereka memasuki kabin pesawat. Decakan kagum keluar begitu saja dari mulut Adriana tanpa bisa ia cegah.

Kesan pertama yang ia dapatkan saat melihat kabin pesawat ini hanyalah satu. Menakjubkan. Interior pesawat tersebut di dominasi dengan warna coklat. Kursi di dalam pesawat tersebut hanya ada delapan buah, dan ada sebuah ruangan yang entah apa itu.

Adriana membuka mulutnya karena terlalu takjub dengan pemandangan yang memanjakan matanya itu, membuat William harus menahan tawanya karena wajah yang Adriana tampilkan saat ini menurutnya sangatlah lucu.

Bibir gadis itu terbuka, sedangkan matanya berbinar-binar seakan ia diberikan sesuatu yang amat sangat ia sukai. Senyuman masih terus saja menghiasi wajah gadis itu, membuat William tanpa sadar tersenyum kecil.

“Pesawat ini milik perusahaanmu?” tanya Adriana spontan.

Senyuman di wajah William luntur seketika. Pria tersebut memandang Adriana dengan pandangan terhina, “Pesawat ini milikku, bukan milik perusahaanku.” Tukas William tidak suka.

Adriana membalikkan badannya untuk melihat William yang berdiri di belakangnya, kemudian mengernyit bingung. “Tapi ada tulisan B Industries di badan pesawat ini. Aku tadi melihatnya.”

William mendelik, membuat Adriana semakin bingung. “Itu karena pesawa ini milikku, wajar kalau aku membuat nama perusahaanku di badan pesawat ini bukan? Tapi bukan berarti pesawat ini pesawat perusahaan. Walaupun secara teknis, perusahaan tersebut adalah milikku yang berarti pesawat ini juga milikku secara tidak langsung.”

Adriana mendengus, “Man and his toy,” gumam gadis itu sebal.

I hear that,” ucap William datar.

Adriana menyengir, “Duduklah disini. Kita akan segera lepas landas.”

Adriana mendudukkan dirinya di tempat yang ditunjuk William tanpa protes lagi. Ia tetap diam bahkan saat William menempati kursi kosong di sebelahnya.

“Selamat siang Mr. Black, Ms. Evans. Tolong pakai sabuk pengaman kalian karena kita akan segera lepas landas. Saya Helen, dan ini rekan saya Rose. Kami yang akan menjadi pramugari dalam penerbangan siang hari ini. Jika ada sesuatu yang kalian perlukan, jangan sungkan sungkan untuk memanggil kami.”

Gadis yang mengaku bernama Helen itu menunduk bersamaan dengan gadis berseragam sama yang ada di sebelahnya.

Adriana menoleh kearah William, dan mendapati kalau pria itu sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya dan kelihatannya tidak berencana untuk mengatakan apapun pada kedua pramugari yang berdiri beriringan di sampingnya saat ini.

Adriana kemudian mengalihkan tatapannya kembali pada Helen dan Rose. Tatapan mata gadis itu mendadak berubah tajam saat melihat gadis bernama Rose itu melihat William dengan sorot mata sayu dan wajah memerah.

Adriana mengernyit kemudian berdehem. “Terimakasih, kalian boleh pergi.” Usir Adriana halus.

Kedua pramugari itu tersentak. Helen melayangkan sebuah senyuman padanya, sedangkan Rose melayangkan tatapan merendahkan padanya sebelum kemudian pergi.

Apa-apaan tatapan itu?

Setelah memastikan kedua pramugari itu pergi, Adriana mengembalikan fokusnya kembali pada William. “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Adriana menghembuskan napasnya, “Kenapa kau membawaku ke Hawaii?”

Alih-alih menjawab pertanyaan William, Adriana malah balik bertanya. William mengangkat sebelah alisnya, “Aku lebih dulu bertanya padamu.” Pria itu menjawab.

Adriana berdecak. “Karena kau menyebalkan,” jawab gadis itu asal. “Jadi, kenapa kau membawaku ke Hawaii?” Lanjutnya lagi.

“Karena aku ingin.”

“Yang benar saja! Itu bukan jawaban!” Sentak Adriana tak terima.

William memijat kepalanya yang terasa pening dengan tangannya. “Kau ini tempramen sekali,” ujar pria itu lelah.

“Itu karena kau selalu memancing emosiku. Jadi jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri.”

William mendengus, ia memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk beristirahat.

Ia hampir saja memasuki alam mimpinya kalau saja sebuah suara tidak mengganggunya. “Maaf, sir. Daripada anda tidur disini, lebih baik anda tidur di kamar. Kami sudah menyiapkan seluruh kebutuhan anda disana.”

William membuka kembali matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang pramugari dengan rambut pirang panjang yang dikuncir kebelakang sedang membungkuk dan tersenyum kepadanya.

Ia mengabaikan pramugari tersebut, kemudian menoleh kesamping dan mendapati Adriana tengah melotot kesal pada pramugari di hadapannya.

William melirik tag nama di baju pramugari tersebut dan mendaptkan nama Rose tertera di sana.

“Terima kasih, Rose. Ayo Adriana, kita ke kamar.”

Tanpa menunggu jawaban Adriana, William melepas seatbelt miliknya dan milik gadis itu, kemudian bangkit berdiri sambil menarik tangan Adriana agar ikut bersamanya.

“Kenapa kau menarikku? Kita mau kemana?”

Willian menarik Adrina memasuki sebuah ruangan yang tadi dilihat Adriana saat pertama kali masih ke dalam kabin pesawat.

Kesal karena diabaikan, akhirnya Adriana pun memutuskan untuk bungkam dan mengikuti keinginan William tanpa berkomentar lebih lanjut.

Sesampainya mereka dikamar, William mengunci pintu kamar tersebut, lalu mengunci pergerakan Adriana di pintu.

Kedua tangan Adriana di tahan oleh William di samping kepala gadis itu. “Berhenti cemberut,” tegur William sekenanya.

Adriana memberengut, “siapa yang cemberut?” Tukas gadis itu tak terima.

“Kau tentu saja, siapa lagi?”

“Aku tidak cemberut.” Gadis itu membantah.

William menyeringai, ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Adriana, membuat Adriana sontak menahan napasnya.

“Cuma ada kita berdua saat ini. Kau ini pencemburu sekali sih?”

Wajah Adriana memerah. William terkekeh kecil menikmati pemandangan Adriana yang merona karena godaannya.

“Now… should i kiss you, Adriana?”

Adriana membeku di tempatnya berdiri. Napasnya tanpa sadar ia tahan, membuat dadanya sesak karena kekurangan pasokan oksigen.

Breath, Adriana.” bisik William tepat di telinga gadis itu.

Adriana otomatis menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Dadanya kembang kempis, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin.

Sementara Adriana berusaha mengalihkan pandangannya dari William, pria itu tidak sekalipun melepaskan pandangannya dari Adriana.

Adriana meneguk salivanya, ia bisa merasakan gemetar tubuhnya sendiri saat pria di hadapannya mendekatkan wajahnya kembali. “You know Adriana? I really like the way you act when you’re with me. Knowing that you’re affected because of me, makes me really happy.

Tanpa menunggu respon gadis itu, William menempelkan bibirnya pada bibir Adriana, kemudian menyesapnya perlahan.

Merasa terbuai, akhirnya Adriana memejamkan matanya sambil berusaha menetralkan degup jantungnya yang menggila.

Open your mouth,” bisik William memerintah.

Tanpa pikir panjang, Adriana membuka bibirnya. Ia membiarkan William kembali menguasai bibirnya, dan terbuai kembali karenanya.

Ini tidak benar batin gadis itu putus asa.

Dengan segala tekad yang dimilikinya, Adriana mengangkat tangannya, dan mencoba mendorong dada William agar menjauhinya.

Bukannya menjauh, William malah semakin merapatkan tubuhnya pada Adriana dan meningkatkan intensitas ciumannya.

Fall for me, Adriana.

William menyeringai di sela-sela ciumannya saat ia merasakan tubuh gadis di dekapannya melemas. Dengan sigap ia merangkul gadis itu tanpa berusaha melepas ciuman mereka.

Adriana menyerah. Ia merasa melayang di perlakukan seperti ini oleh William. Tubuh dan pikirannya sama sekali tidak sejalan. Disaat ia berpikir kalau yang ia lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan, tubuhnya malah berkata yang sebaliknya. Tangan yang seharusnya ia gunakan untuk mendorong pria brengsek di hadapannya, malah melingkar erat di leher pria itu.

Sekali ini saja ,aku akan menikmati ini sekali saja,’ kilah Adriana dalam hati.

Adriana mengeratkan pegangannya pada leher William dan mulai membalas ciuman pria itu. Ia menutup matanya kembali, dan berusaha untuk tidak mempedulikan apapun lagi. Ia membuang jauh-jauh akal sehatnya dan malah menikmati dosa kecilnya bersama William.

Eengh” erang Adriana lirih.

Adriana membeku mendengar erangannya sendiri. Seakan tersadar, gadis itu kemudian membuka matanya dengan panik, lalu mendorong William keras-keras sampai ciuman mereka terlepas.

Fuck!” Umpat gadis itu spontan.

William menyeringai, “Watch your language, Adriana. But well, I don’t mind if you want me to fuck you again.”

Adriana melotot. Ia mengusap bibirnya kasar kemudian menatap William dengan tajam.

“Fuck you!”

Language, Adriana. I warned you.”

William menatap Adriana dengan pandangan menegur. Adriana mengepalkan tangannya karena emosi. Adriana berpikir, bukankah seharusnya ia yang marah disini? Tapi kenapa pria itu malah membuatnya merasa seperti anak sekolahan yang ditegur karena mengabaikan perintah gurunya?

“You don’t have any right to command me.” Desis gadis itu marah.

Bukannya tersinggung, William malah menyeringai kembali. “Well, i do have you.”

“I’m not yours! Asshole!”

“I already warned you to watch your language .” Tegur pria itu lagi.

Bibir William kembali menempel di erat di atas bibirnya tanpa bisa ia cegah. Lagi-lagi Adriana membeku. Sepertinya William sangat senang membuat Adriana tidak berdaya, seperti saat ini.

“Just enjoy this kiss. Forget everything. You’ll be fine.” Bujuk pria itu pelan.

Adriana menyerah. Ia menyerah pada gairahnya, ia menyerah pada tubuhnya, ia menyerah pada William. “Just one kiss.” bisik gadis itu lirih.

Just one kiss.” ulang William meyakinkan, sebelum ia membawa Adriana kembali kedalam rengkuhannya dan mencium gadis itu dengan penuh hasrat.


Adriana melangkahkan kakinya lebar lebar. Setelah acara ‘mari cium Adriana’ di pesawat tadi, Adriana sepenuhnya mengabaikan William. Ia tidak mempedulikan apapun yang dilakukan oleh pria itu.

Wajahnya memanas mengingat kejadian di pesawat tadi. Setelah Adriana pasrah menerima ciuman William, mereka terus berciuman sampai pesawat mereka mendarat.

Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana William menciumnya dengan lembut namun juga menggebu-gebu di saat yang bersamaan. Juga saat pria itu membopong tubuhnya dan membaringkan tubuhnya di kasur sebelum akhirnya pria itu mencumbunya kembali.

Adriana menggigit bibirnya. Sensasi asing di tubuhnya masih terasa sampai sekarang. Semilir angin yang menerpa tubuhnya sama sekali tidak membantu, malah memperburuk.

Jejak sentuhan William seakan membekas di tubuhnya. William tidak hanya mencium bibirnya, tapi pria itu juga mengecup lehernya dan membuat tanda kepemilikannya di sana. Pria itu bahkan menyentuh payudaranya dengan cara yang tidak pernah ia rasakan.

Memikirkan tentang bagaimana cara pria itu menyentuhnya membuatnya yakin kalau pria itu pasti sudah sangat berpengalaman.

Adriana menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, membuat William yang mengekor di belakangnya ikut menghentikan langkahnya.

“Berapa orang?” Tanya Adriana tiba-tiba tanpa berbalik.

William mengerutkan keningnya bingung. “Maksudmu?” Tanya pria itu tak mengerti.

“Berapa banyak orang yang sudah kau tiduri?”

William membeku. Tenggorokannya mengering tiba-tiba. Ia berdeham, “aku tidak mengerti apa maksudmu.”

Adriana memutar tubuhnya menghadap William. Ia menatap pria tersebut dengan pandangan menuntut.

William menghela napasnya. “Aku tidak menghitungnya,” jawabnya datar.

Adriana merengut. ‘Terlalu banyak sampai tidak bisa dihitung’ pikirnya yakin. William memilih untuk bungkan saat melihat rengutan gadis itu.

Adriana berbalik kembali, kemudian mendudukkan dirinya di hamparan pasir lalu menatap laut lepas yang tersaji di hadapannya.

Air laut tidak sampai ke tempatnya duduk, jadi ia tidak khawatir pakaiannya akan basah nanti. Adriana melirik William yang ikut mendudukkan tubuhnya di sampingnya lewat sudut matanya.

“Sebenarnya, kenapa kau memberikanku perjanjian itu padaku?” Mulai gadis itu membuk pembicaraan.

“Aku sudah mengatakan alasannya padamu.” Jawab pria itu singkat. Adriana mendengus.

“Karena kau menginginkanku? Yang benar saja! Kau pikir aku akan percaya dengan alasan seperti itu? Katakan alasan yang sebenarnya!”

William mendesah, pria itu kemudian memijat leher belakangnya yang terasa pegal dengan tangan kirinya. “Itu alasan yang sebenarnya. Terserahmu mau percaya atau tidak.”

Adriana berdecak. Gadis itu merasa kesal karena rasa penasarannya tidak terjawab. Tapi karena gadis itu yakin kalau William tetap akan memberikan jawaban yang sama berapa kalipun ia bertanya, akhirnya ia memilih untuk mengalah.

Matahari yang tadinya tertutup oleh awan mulai menampakkan wujudnya kembali, membuat cuaca yang tadinya sedikit mendung menjadi terang kembali.

William mengernyit tidak suka saat teriknya matahari terasa menyengat kulitnya. “Lebih baik kita ke villa sekarang. Aku tidak mau kulitmu terbakar.” Ujar pria itu sambil bangkit berdiri.

Adriana ikut bangkit berdiri. Gadis itu memaksakan dirinya untuk diam saat William tiba-tiba saja menepuk-nepuk pantatnya untuk membersihkan pasir yang menempel disana.

“HEY!!!”

Adriana spontan berteriak saat pria itu dengan kurang ajarnya meremas pantatnya setelah membersihkan pantatnya dari pasir-pasir.

Tanpa berbicara lagi, William merangkul Adriana dan menuntun gadis itu menuju sebuah villa yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk tadi.

Pada dasarnya, villa itu adalah satu-satunya bangunan yang ada di sekitar pantai.

Tersadar akan sesuatu yang janggal, Adriana menengok ke kanan kiri. “Ini pantai pribadi milikku. Tidak ada orang lain disini selain kita.” Jawab William tanpa diminta.

Adriana menatap William skeptis.

“Man and his money.” Ejek gadis itu sambil terkekeh.

William memilih untuk diam. Pria itu hanya tersenyum samar menanggapi ejekan Adriana. Anehnya, ucapan Adriana tidak menyinggungnya. Padahal ia paling tidak suka jika orang lain menilai kelakuannya. Apapun itu.

Well, mungkin Adriana adalah pengecualian.

William menghentikan langkahnya saat Adriana tiba-tiba saja berhenti melangkah. “Ada apa?” Tanya pria itu.
“…”

Merasa tidak mendapat jawaban, pria itu menoleh dan mendapati Adriana terdiam dengan binar kagum di matanya dan mulutnya yang terbuka lebar.

This is wonderfull!!!” Pekik gadis itu kagum.

William menolehkan kepalanya kembali kearah villanya, kemudian menyeringai lebar.

Welcome to our kingdom, my queen.”

-TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s