My Protective Mr. Arogant // Part 1 – You

Title: My Protective Mr. Arrogant // Part 1 – You

Genre: Romance

Length: Chaptered

.

Cast:

William D. Black | Adriana F. Evans

.

Afiraa’s speech:

Halooo, ini dia lanjutan untuk My Protective Mr. Arogant. Menurut kalian gimana nih? Bagus ga sih? Atau jelek? Huhuhu. Bisa comment ya kalau ada yang mau kasih saran atau apa. Pasti afiraa baca dan pertimbangkan. Semoga kalian suka ❤

Happy Reading

.

.

.

my protective mr arogant

.

Adriana memandang kamar hotelnya bosan. Ia sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya saat ini, dan sekarang ia bingung harus melakukan apa. Karena pekerjaannya yang seharusnya ia lakukan besok dan lusa sudah ia rampungkan semua.

Ia ditugaskan oleh Ms. Moore yang menjabat sebagai atasannya, untuk melakukan survey di beberapa tempat. Ia harus menilai apakah bangunan yang akan mereka jual harus di perbaiki total, sebagian, atau malah dirubuhkan untuk dibangun sesuatu yang lebih layak huni sesuai kualitas yang mereka butuhkan.

Jadi, dia sudah menyelesaikan seluruh surveynya tiga hari yang lalu, dan menyelesaikan laporannya kemarin. Sekarang ia bingung harus melakukan apa, karena tanggal pulang yang tertera di tiketnya masih dua hari lagi.

Ingatan Adriana kemudian melayang pada kejadian tepat seminggu yang lalu. Disaat ia bangun dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun disebuah kamar hotel mewah yang ia bahkan tidak pernah memimpikan untuk bisa menginap disana, bersama seorang pria asing yang tidak mengetahui namanya.

Sejujurnya, Adriana mengingat dengan jelas percintaannya dengan pria itu. Tapi, Adriana berusaha membuang ingatan itu jauh-jauh. Adriana begitu membenci pria itu, ia merasa dimanfaatkan karena pria itu menidurinya. Saat itu mereka berdua memang mabuk, tetapi seharusnya pria itu tidak menidurinya. Karena bagaimanapun juga, mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Menurut Adriana, seharusnya pria itu bisa lebih menahan diri sehingga Adriana tidak perlu kehilangan keperawanannya yang sudah ia jaga selama dua puluh empat tahun ia hidup.

Disaat teman-temannya sibuk berganti pasangan, melakukan percintaan dengan pasangan-pasangan mereka. Ia tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan mahkotanya untuk seseorang yang memang pantas mendapatkannya suatu saat nanti. Ia selalu berpikir, pasti suaminya kelak akan sangat bangga padanya karena menyerahkan mahkotanya hanya pada orang yang ia cintai, yang tidak lain adalah suaminya sendiri.

Tapi sekarang, ia telah kehilangan harapannya. Seorang pria brengsek yang ia ingat bernama William telah merenggut mahkotanya secara paksa. Yah, bukan sepenuhnya kesalahan William sebenarnya. Tapi Adriana tetap tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Lebih mudah baginya untuk menyalahkan William daripada menyalahkan dirinya sendiri.

Adriana kemudian menghela nafasnya kembali. Bingung ingin melakukan apa, akhirnya Adriana memutuskan untuk berjalan-jalan. Ia mengambil ponselnya yang sejak tadi ia hiraukan, dan mendapati ada tiga pesan dari Calista, Ayahnya, dan satu dari nomor yang tidak ia kenal. Ia memutuskan untuk membuka pesan dari Ayahnya terlebih dahulu.

 

From: Caleb

Kau belum mengabariku selama seminggu, Adriana. Apa kau baik-baik saja?

Sent 08.37

 

Adriana tersenyum melihatnya, ia baru ingat kalau ia belum mengabari ayahnya. Pasti ayahnya sangat khawatir padanya, walaupun ia tidak menunjukkannya. Adriana akhirnya memutuskan untuk membalas

 

To: Caleb

Aku baik-baik saja, dad. Maaf aku belum sempat mengabarimu. Pekerjaanku menumpuk kemarin. Aku akan segera berkunjung ke tempatmu begitu aku pulang dari Vancouver oke? Have a nice day, dad. I Love You

Sent 11.54

 

Setelah membalas pesan ayahnya, Adriana beralih untuk membuka pesan dari sahabat baiknya, Calista.

 

From: Calista

Really Adriana? Kapan kau akan mengabariku? Bagaimana Vancouver? Pasti banyak cowok sexy kan disana? Kau harus membawakan satu untukku. Segera kabari aku kalau kau sudah membaca pesanku oke? Anyway, aku punya kabar baik untuk kita berdua. Aku akan memberitahumu kalau kau sudah kembali kesini. I Miss you, girl.

Sent 07.59

 

To: Calista

Sorry, aku sibuk kemarin. Well,Vanvouver cukup menarik bagiku. Masalah cowok sexy, yaah, lumayan banyak cowok sexy disini sebenarnya. Aku jelas tidak bisa membawakanmu salah satu diantaranya, yang benar saja. And what is the good news?

Sent 11.55

 

From: xxx

I got you, my little Adriana.

Sent 10.23

 

Seketika tubuh Adriana menegang. Dengan cepat, ia melepaskan genggamannya pada ponsel tersebut.  Sukses membuat ponsel tersebut jatuh ke atas tempat tidurnya. Dengan cepat Adriana bangkit, kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dengan wajah kalut, ia memandang pantulan wajahnya sendiri di cermin. Matanya tidak fokus dan wajahnya pucat pasi.

Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, membuat Adriana tersentak. Dengan ragu, ia berjalan kembali memasuki kamarnya dan memandang ponselnya yang bergetar di atas kasurnya. Adriana melihat sebuah nomor tidak dikenal tertera di sana, ia kemudian memutuskan untuk mengangkat telepon tersebut.

Selamat siang Ms. Evans,’ sebuah suara berat menyapa gendang telinganya. Adriana tanpa sadar menelan salivanya gugup saat mengenali suara orang yang meneleponnya.

“K-kau,”

Oh, kau mengenali suaraku? Well, aku tidak tau kalau kau sebegitu terpesonanya dengan diriku, Ms. Evans.’ Adriana mengernyit tidak suka saat mendengar kalimat penuh kepercayaan diri orang yang meneleponnya.

Adriana mendengus, “Apa maumu William?”

William, Ooang yang meneleponnya terkekeh senang, ‘Memanggil nama kecilku ma’am? Aku sungguh terkejut, I’ll call you Adriana then. Well, aku meneleponmu karena aku berencana mengajakmu makan malam ini. Kita punya sesuatu untuk dibahas remember?’

Adriana berdecak kesal, kekhawatirannya tadi langsung sirna seluruhnya berkat si brengsek William. “Aku tidak merasa punya sesuatu untuk dibahas denganmu,” desis Adriana galak.

Whoa, slow down Adriana. Lagipula, kau memang punya sesuatu untuk dibahas denganku. Pembicaraan kita belum selesai karena kau pergi tiba-tiba, sambil membanting pintu yang bukan milikmu kalau aku boleh mengatakan.’ Jawab William sakratik. Adriana mengepalkan tangannya kesal, wajahnya merah padam karena emosi.

“Aku tidak mau makan malam denganmu, apalagi membahas sesuatu yang tidak ingin aku bahas denganmu!” seru Adriana kesal.

William tertawa mendengar jawaban Adriana, membuat tingkat emosi Adriana semakin meningkat. ‘Well, aku tidak perduli. Kau akan makan malam denganku malam ini, dan kita akan membahas urusan kita yang belum selesai. Kau suka atau tidak, itu akan tetap terjadi. Jadi bersiaplah untuk nanti malam. Aku tidak main-main.

“Aku tidak peduli padamu, you jerk! Aku tidak akan makan malam denganmu! Jangan menggangguku!”

Tanpa mau repot-repot mendengar jawaban William, Adriana segera menutup sambungan telepon mereka secara sepihak, lalu melempar ponselnya ke atas kasur dengan kesal. Nafasnya menderu, dan mukanya merah padam menahan kesal.

Adriana sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran William. Untuk apa pula pria itu menghubunginya, dan sebetulnya dari mana pria itu bisa mendapatkan nomor teleponnya. Selama seminggu ini ia sudah membuang jauh-jauh seluruh pikirannya pada malam itu, terlebih tentang William. Tapi kenapa pria itu malah tiba-tiba hadir kembali dihidupnya, mempersulit hidupnya. Ia benar-benar bingung karenanya.

Ponselnya kembali bergetar, dengan kesal Adriana kembali mengangkatnya, ‘Aku akan menjemputmu jam 7.

Adriana melotot pada ponselnya yang sekarang sudah tidak lagi terhubung dengan William. Setelah William mengutarakan maksudnya tadi, ia sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk Adriana menjawab, dan malah mematikan sambungan telepon mereka begitu saja.

Adriana jengkel setengah mati, menurutnya William sangatlah arogant, dan jelas Adriana amat sangat tidak menyukainya. Dengan hati dongkol, Adriana berbaring di kasurnya. Ia meletakkan ponselnya di kecil di samping tempat tidurnya, lalu memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.

 

 

“Hei, bangunlah.”

Adriana mengerang kecil saat ia merasakan bisikan di telinganya. Dengan enggan, ia mencoba untuk membuka matanya. Setelah beberapa detik ia terdiam saat mendapati wajah seseorang sedang menyeringai tepat di atas wajahnya.

“Well? Tidur nyenyak, Adriana?” Tanya orang tersebut dengan suara serak nan sexy.

Adriana kemudian melotot setelah sadar siapa orang yang berada di dalam kamar hotelnya, “K-kau!!!! Bagaimana bisa kau masuk kedalam sini? Aaaaaaa!!!!”

William, sang tersangka, kaget setengah mati saat Adriana tiba-tiba saja berteriak histeris. Dengan panik ia menutupi bibir Adriana dengan bibirnya sendiri. Adriana melotot kaget, begitu juga dengan William sendiri. Setelah beberapa saat, William menjauhkan wajahnya dari Adriana. Ia kemudian tersenyum saat melihat wajah Adriana yang merah padam karena perbuatannya. “Maaf reflex,” gumamnya geli.

Adriana melotot galak pada William, “Kenapa kau bisa ada disini?” tanyanya penuh penekanan. William mengangkat sebelah alisnya, terhibur dengan reaksi Adriana yang sesungguhnya sudah ia perhitungkan.

“Aku kan sudah bilang, aku akan menjemputmu untuk makan malam jam 7. Aku meneleponmu berulang kali tapi tidak satupun kau angkat. Karena aku khawatir, jadi aku memutuskan untuk kemari lebih cepat sekaligus memastikan kau baik-baik saja.”

Kening Adriana mengernyit heran mendengar penjelasan William. “Kenapa pula kau sampai harus khawatir padaku? Kau bukan siapa-siapa. Kau berbicara seolah-olah kita memiliki suatu hubungan special atau semacamnya,” protes Adriana.

William diam, tidak menanggapi pernyataan Adriana. “Sudahlah, lebih baik kau sekarang mandi. Kita akan segera pergi.” Ujarnya kemudian.

Adriana merengut, ia mengangkat tangannya dan bersedekap di dadanya. “Aku sudah bilang, aku tidak mau makan malam denganmu, apalagi membahas sesuatu yang tidak ingin aku bahas denganmu.”

William menyeringai, “Aku juga sudah bilang kalau aku tidak perduli. Aku tidak menerima penolakan. Jadi lebih baik kau sekarang mandi dan bersiap-siap atau aku akan menggendongmu saat ini juga dan membawamu pergi dari sini.”

Adriana merinding mendengar ancaman William, “Kau tidak akan berani.” Jawab Adriana tidak yakin.

William menyeringai, “Apa kau menantangku? Asal kau tau saja Adriana, pria selalu suka tantangan.” Adriana mengernyit tidak suka saat melihat seringaian William. Tapi kernyitan tidak suka itu dengan cepat berubah menjadi teriakan histeris saat William tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya Bridal Style

“Aaaaaaaaaaaa, TURUNKAN AKU KAU BRENGSEK!!!!”

William mempertahankan seringaiannya walaupun kulit kepalanya serasa seperti akan copot karena ditarik dengan amat keras oleh gadis didalam gendongannya. “Aku tidak akan menurunkanmu, kecuali kau mau berjalan dengan kakimu sendiri ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk makan malam kita.” Tawar William.

Bukannya mengiyakan, gadis itu malah semakin kuat menarik rambut William sampai membuat sang empunya rambut meringis. “AKU BILANG AKU TIDAK MAU MAKAN MALAM DENGANMU!! TURUNKAN AKU!!!”

Adriana tidak hanya menjambak rambut William kali ini. Ia juga meronta-ronta dalam gendongan William, membuat William kelimpungan setengah mati. Dengan emosi yang tersulut, William melangkahkan kakinya kearah pintu yang otomatis membuat teriakan Adriana semakin kencang.

“OK OK! AKU MAU MAKAN MALAM BERSAMAMU! SEKARANG TURUNKAN AKU!” teriak Adriana marah saat William hendak meraik kenop pintu.

William menurunkan Adriana ke lantai tanpa berbicara. Ia hanya memandang Adriana yang murka dengan dingin, “Kalau begitu cepatlah. Aku akan menunggumu disini.”

Dengan santai, William melangkahkan kakinya kembali ke kasur kemudian mendudukkan dirinya sendiri di kasur tersebut. Adriana sendiri melangkahkan kakinya sambil menghentak ke kamar mandi. Sesekali sumpah serapahnya terdengar, membuat William geli sendiri.

Suara bantingan pintu kamar mandi membuat William melepaskan topeng dinginnya yang tadi sempat ia kenakan, dan menggantinya dengan tawa keras. “KAU BEDEBAH!!!” teriak Adriana dari dalam kamar mandi.

Nafasnya tersengal-sengal, dan wajahnya memerah karena emosi. Ia kemudian menyalakan shower, dan mengguyur dirinya sendiri dengan air dingin untuk menyurutkan emosinya.

William, orang itu sukses membuat hari tenangnya menjadi hancur berantakan. Kalau saja pria itu tidak datang menganggunya, ia mungkin akan pergi ke tempat manapun yang menarik di sini dan menghibur dirinya sendiri.

Dengan pikiran kesal, ia menyelesaikan kegiatan mandinya, memakai bathrobe, kemudian keluar dari dalam kamar mandi untuk berpakaian. Ia melirik William yang saat ini duduk di kursi hotelnya sambil memandanginya dengan intens.

Adriana berjalan terus ke arah kopernya sambil berusaha mengabaikan tatapan William yang seakan ingin menelanjangi dirinya. Dan tanpa pikir panjang, Ia melepas bathrobenya dan mulai berpakaian. Adriana menyeringai senang saat mendengar helaan nafas panjang dari William.

Adriana kemudian tersentak kaget saat tiba-tiba saja William sudah berada di belakangnya dan memeluk tubuhnya dari belakang. “Kau menggodaku, kau cukup berani Adriana. Kalau aku jadi kau, aku akan berpikir beberapa kali kalau melakukan hal seperti itu.”

William berbisik tepat di telinganya, membuat Adriana menggigil dengan antisipasi. Ia tersentak saat William menggigit kecil bahunya. “Cepatlah berpakaian.” Bisiknya lagi kemudian berjalan kembali menuju kursi.

Adriana terdiam, ia mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba meningkat karena kedekatannya dengan William. Dengan kesal Adriana menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan berpakaian.

‘Ini salah, tidak seharusnya tubuhku bereaksi seperti itu karena si brengsek ini’ batin Adriana kesal.

Setelah selesai berpakaian, William kemudian mengajak Adriana untuk berangkat. Mereka menghabiskan waktu mereka dalam perjalanan dengan keheningan. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara.

William dan Adriana masing-masing terlihat sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Sesampainya mereka di restaurant, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka ke meja yang sudah William reservasi dalam keheningan. Adriana sesekali melirik kearah William yang menampilkan wajah dinginnya.

William dan Adriana duduk berhadapan. Adriana hanya diam saja saat William memesankan makanan untuknya, tanpa meminta pendapatnya. Setelah pelayan pergi, perhatian William akhirnya tertuju sepenuhnya pada Adriana. “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya William bingung, masih dengan raut dinginnya.

Adriana diam, ia hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban. William menghela nafas. Ia kemudian memandang Adriana dengan raut serius, “Aku punya proposisi untukmu.”

 

 

-TBC-

 

 

My Protective Mr. Arrogant

Title: My Protective Mr. Arrogant

Genre: Romance

Length: Chaptered

.

Cast:

William D. Black | Adriana F. Evans

.

Afiraa’s speech:

Hai hai, this is me again. Aku bawain cerita baru. Menurut kalian gimana? Harus dilanjutin nggak? Untuk lanjutan ff nya ditunggu aja yaa hehehe. Bakal segera Afiraa update secepat yang Afiraa bisa. Cerita ini pendek banget karena memang cuma prolog, tapi Afiraa minta pendapat kalian semua yaaa. Jangan lupa like + commentnya.

Happy Reading

.

.

.

my protective mr arogant

PROLOG

.

.

.

William membuka matanya perlahan saat ia merasakan gerakan kecil di sampingnya. Tubuhnya terasa lelah dan kepalanya pening luar biasa. Perlahan pria itu duduk kemudian memejamkan matanya, mencoba mengingat-ngingat apa yang sekiranya terjadi semalam.

Setelah beberapa lama terdiam, sebuah ingatan tentang malam kemarin menghantamnya. William membelalakkan matanya, kemudian menolehkan kepalanya kesamping dengan sangat cepat. Seorang wanita sedang tidur di sampingnya dalam keadaan polos. William melotot kaget, terlebih setelah ia melihat cecerah darah di seprai tersebut.

Sebelum William melakukan apapun, wanita disampingnya menggeliat kemudian membuka matanya perlahan. William terdiam melihat wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya sesat, lalu melotot kaget setelah mengingat sesuatu.

“Sialan!” wanita itu memekik histeris setelah melihatnya, “A-apa, apa ki-kita semalam melakukannya? Maksudku, jangan bilang kalau kemarin malam kita bercinta?” William diam tidak menjawab, sebenarnya ia bingung harus bicara apa setelah melihat reaksi wanita itu.

Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari William, Adriana menyibak selimutnya, memperlihatkan tubuh polosnya yang ternodai beberapa bercak kemerahan. Adriana melotot horror melihatnya, sedangkan William hanya bisa meneguk air liurnya gugup karena disuguhkan penampilan yang menggoda iman.

“Jadi kita benar-benar sudah bercinta! Oh tidak, aku sudah tidak  perawan!” teriak Adriana histeris. William tetap bungkam. “Ini tidak mungkin terjadi, ini pasti mimpi. Oh Tuhan, ini tidak mungkin benar-benar terjadi!” gumamnya kemudian, seperti orang linglung.

William menghela napasnya mendengar gumaman Adriana. “Siapa namamu?” tanya William langsung dengan dingin.

Adriana menoleh dan menatap William dengan pandangan aneh kemudian bergumam kembali dengan pandangan kosong, “dia bahkan tidak tau namaku setelah ia meniduriku semalam. Ini gila, ini pasti mimpi, aku-“

“Aku bertanya siapa namamu,” tukas William kesal.

Adriana menoleh pada William kemudian melotot galak. “Adriana,” jawab Adriana ketus. William mendengus, “nama lengkapmu?” tanyanya kembali menuntut.

Adriana melotot, menatap William dengan pandangan menusuk. William hanya mengangkat sebelah alisnya acuh.

“Adriana Fara Evans,” jawab Adriana masih dengan sikap ketusnya.

William mendengus. “Baiklah Ms. Evans, kupikir kau pasti mengingat jelas kegiatan panas kita semalam-“ Adriana melotot marah, “Jangan mengelak, aku bahkan mengakui kalau yang semalam sangat intens, sangat panas.” Adriana hanya mendengus, tidak menanggapi.

“Tapi dengar, yang semalam sungguh diluar kendaliku. Maksudku, kita berdua sama-sama mabuk, dan sama-sama menginginkannya. Kita berdua menikmati malam panas yang baru saja kita lewati. Mungkin kau menyesalinya saat ini, tapi aku tidak. Tapi aku akan tetap bertanggung jawab karena bagaimanapun juga, kau kehilangan keperawananmu karena diriku. Jadi, berapa yang kau minta? Seratus juta? Dua ratus juta? Lima ratus juta bahkan?”

Adriana memandang William marah. “Dengar ya Mr. Arogant, AKU TIDAK BUTUH UANGMU, jadi simpan saja uangmu itu atau berikan saja pada jalang-jalang diluar sana yang mau membuka pahanya lebar-lebar untuk dirimu!” desis Adriana geram.

Dengan cepat Adriana beranjak dari ranjang, kemudian memakai pakaiannya yang berserakan dilantai tanpa memperdulikan William yang diam memandanginya dengan sorot bergairah. Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, Adriana meninggalkan kamar tersebut disertai bantingan pintu, setelah sebelumnya melotot pada William dengan kesal.

William menghela napasnya kembali, kemudian memijat pelan kepalanya yang pening. Mungkin karena efek alkohol yang semalam diminumnya. Ia meraba meja kecil disamping tempat tidurnya, mengambil ponselnya, dan mendial sebuah nomor.

“Sir?”

“Thomaz, bawakan aku Advil. Oh, dan cari semua informasi tentang Adriana Fara Evans.” Segera setelah ia mengatakannya, ia memutuskan sambungan telepon secara sepihak lalu memutuskan untuk mendinginkan kepalanya di kamar mandi.

William menyalakan showernya dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Pikirannya melayang pada waktu ia sedang mengistirahatkan tubuhnya dengan meminum secangkir kopi di sebuah café kecil yang direkomendasikan Thomas padanya, lalu sampai pada saat pertama kali ia melihat Adriana masuk kedalam café. Ia merasakan adanya daya tarik sensual yang begitu besar pada Adriana. Ia tidak menyangkal kalau Adriana sangatlah cantik. Tubuhnya berada dalam proporsi yang benar-benar ia sukai.

William benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya selama dua puluh delapan tahun ia hidup, ia seakan kehilangan kendali dirinya. Ia meniduri wanita yang ia tidak kenal, di hotel yang dia tempati sendiri.

Well, William tidak pernah sekalipun membiarkan wanita-wanita yang ditidurinya memasuki dunia pribadinya. Keluarga dan sahabatnya jelas sebuah pengecualian, karena ia jelas tidak meniduri mereka. Tapi Adriana membuatnya melanggar kebiasaannya, dan Willian sangat bingung karenanya.

Setelah beberapa lama mendinginkan kepalanya di kamar mandi, ia keluar kemudian memakai setelan kerjanya. Di meja kerjanya, sudah tersedia segelas air, satu butir Advil, dan sebuah map merah.

William meneguk Advilnya, kemudian mengambil map tersebut dan beranjak untuk duduk diatas ranjangnya yang sudah rapih tanpa cacat.

William memindai isi map itu dengan cermat, dan semakin lama ia membaca isi map tersebut, sebuah seringai mengerikan semakin tercetak jelas di bibir lelaki itu.

Well, we’ll see what next Adriana.”

 

 

 

-TBC-

Broken Vow

Title: Broken Vow Prolog

Genre: Drama, Hurt

Rating: G

Length: Chaptered

.

Cast:

Kim(Cho) Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:

Choi Siwon

.

Afiraa’s speech:

Hallo, afiraa kembali lagi niih. Kali ini afiraa bakal kasih kalian cerita baru, tapi yang satu ini chapter yaaa. Gatau kenapa, tapi afiraa lagi ga ada ide buat cerita yang happy happy gitu T_T jadinya malah cerita beginian. Wkwkwk. Yah pokoknya, semoga kalian suka yaah. Bakal afiraa usahain untuk update next chapter secepatnya. Bisa di follow juga, jadi kalian bakal dapat notifnya lewat email. Daaan terlebih afiraa mau ucapin terimakasih sebanyak-banyaknya yang udh mau kasih review buat afiraa, aku terharu banget deh suer. Afiraa janji bakal perbaikin lagi cerita-cerita selanjutnya supaya lebih baik

Happy reading ya guys, enjoy the stories ❤

broken vow

.

.

.

“Oppa, mari kita tidur. Ini sudah malam sekali, aku lelah.” Hwayeon kembali menguap untuk yang sekian kalinya. Kyuhyun menoleh sejenak kearah Hwayeon, kemudian kembali mengalihkan pandangannya kepada tumpukkan dokumen yang berada di meja kerjanya. “Kau tidurlah duluan, love. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku akan menyusul sebentar lagi.”

Hwayeon sontak cemberut setelah mendengar perkataan Kyuhyun, bibirnya mengerucut dengan tangan bersedekap di dadanya. “Tidak mau! Aku mau kita tidur bersama, jadi cepat hentikan pekerjaan sialan itu sebelum aku marah padamu.” Kyuhyun otomatis menghentikan seluruh kegiatannya, dan kini seluruh perhatiannya sudah teralih pada Hwayeon yang masih saja cemberut di depan meja kerjanya.

“Tapi sayang, besok aku ada meeting jadi-“

“Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya, tidur sekarang!” Hwayeon menghentakan kakinya kesal ke lantai. Kyuhyun memandangnya dengan binar geli dimatanya. Ia kemudian menghela nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. “Baiklah-baiklah. Mari kita tidur”

Kyuhyun akhirnya mengalah, ia bangkit dari kursinya setelah ia membereskan berkas-berkas yang bercecer. Dengan  perlahan ia berjalan mendekati Hwayeon, kemudian merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. “Nah jadi, haruskah kita tidur sekarang Tuan Putri?” tanya Kyuhyun geli, dan sukses mendapatkan sebuah cubitan sayang di perutnya.

“Ish, ayo tidur.” Setelah mengatakan itu, Hwayeon balik memeluk Kyuhyun. Kyuhyun terkekeh geli, dengan perlahan ia mengecup puncak kepala Hwayeon lembut. Tanpa kata, Kyuhyun mengangkat Hwayeon kedalam gendongannya, dan membawanya kedalam kamar mereka. Mereka mengahabiskan perjalanan mereka ke kamar dalam diam. Tidak satupun dari mereka yang bersuara.

Sesampainya di kamar, Kyuhyun membaringkan Hwayeon di kasur dengan perlahan. Tapi sepertinya Hwayeon tidak berniat melepaskan Kyuhyun, karena tangannya tetap saja bergelayut manja di leher Kyuhyun. Kyuhyun hanya menaikkan sebelah alisnya dengan bingung sambil memandang istrinya yang entah kenapa manja sekali malam ini. Kedua tangannya mengurung Hwayeon di bawah kungkungannya. “Aku mencintaimu.” Ujar Hwayeon tiba-tiba.

Kyuhyun tersenyum mendengarnya, “Aku tau, aku juga mencintaimu”.

Kyuhyun merendahkan tubuhnya, kemudian dengan lembut ia mengecup bibir Hwayeon. Hwayeon memejamkan matanya saat ketika bibir Kyuhyun mulai menguasai bibirnya. Lenguhan kecil menguar tanpa bisa dicegah. Kyuhyun kemudian tersenyum, dan mengakhiri cumbuannya setelah ia mengecup kecil sudut bibir istrinya itu. “Baiklah, sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu.”

Hwayeon menggeser tubuhnya, membiarkan Kyuhyun ikut berbaring disebelahnya dan kembali membawanya kedalam rengkuhan namja itu. “Jalja oppa” gumam Hwayeon lirih. Kyuhyun mengeratkan rengkuhannya pada tubuh Hwayeon. “jalja” balasnya tak kalah lirih sebelum akhirnya terlelap, menyusul istrinya yang sudah lebih dahulu masuk kealam mimpi.

 

*

 

Hwayeon memandang sekelilingnya dengan bosan, Kyuhyun masih saja sibuk di meja kerjanya. Ia sendiri sudah tak berselera membaca novel yang saat ini berada di tangannya. Ia kemudian menaruh novel tersebut disamping tubuhnya, kemudian meregangkan tubuhnya yang mulai terasa kaku. “Oppa, kau sibuk?” tanya Hwayeon santai.

“Tentu saja aku sibuk.” Jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangan dari laptop yang berada di hadapannya. Hwayeon mendengus, merasa bodoh karena menanyakan hal yang sudah pasti seperti itu.

“Aku bosaaaaaaan” keluh Hwayeon sebal.

“Maaf sayang, tapi aku sedang benar-benar sibuk. Lagipula, kenapa kau tiba-tiba mau ikut denganku ke kantor? Aneh sekali.” Lagi-lagi Kyuhyun tidak memandang Hwayeon saat mengatakannya. Hwayeon mengalihkan pandangannya pada kaca transparant yang melapisi ruangan Kyuhyun dari dunia luar. “Dirumah juga sama membosankannya!”

Kyuhyun menyerengai, ia tiba-tiba memikirkan sesuatu. “Lalu? Kau ingin agar tidak bosan?” pancing Kyuhyun. Hwayeon mengangguk seadanya, “tentu saja.” Seringai Kyuhyun melebar setelah mendengar jawaban Hwayeon. Diam-diam ia menekan tombol kunci pintu ruangan yang ada di laci mejanya, kemudian berjalan menghampiri Hwayeon yang duduk malas di sofa.

Hwayeon memandang Kyuhyun dengan pandangan aneh saat suaminya itu terus mendekat padanya. Tapi setelah sampai, bukannya duduk disampingnya, Kyuhyun malah mengurungnya di bawah tubuhnya. Kedua tangan Kyuhyun berada di sisi kepalanya, berpegangan pada senderan sofa. “Lalu, bagaimana kalau kita menghadirkan malaikat kecil supaya kau tidak bosan saat aku bekerja?”

Hwayeon terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum geli saat melihat wajah bingung Hwayeon, dengan cepat ia menghadiahkan satu kecupan di sudut bibir gadis itu. “ish oppa! Nanti kalau ada yang masuk bagaimana?”

Kyuhyun memandang Hwayeon dibawahnya dengan penuh cinta. Ia sangat mencintai Hwayeon, ada sesuatu di dalam diri gadis itu yang seakan menarik dirinya untuk terus berada di samping gadis itu. Ia menikmati waktu yang ia habiskan bersama dengan Hwayeon. Bahkan walaupun tidak ada satupun diantara mereka berdua yang bersuara, ia tetap menikmati moment-moment dimana hanya ada dirinya dan Hwayeon.

Dunianya seakan berpusat pada gadis itu. Mulai dari tawanya, senyumnya, suaranya, sifatnya, tubuhnya, segalanya. Hwayeon adalah poros dunianya. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan hidupnya tanpa gadis itu. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya jika Hwayeon sampai meninggalkannya. Membayangkannya saja ia enggan, apalagi jika itu benar-benar terjadi. Ia bahkan masih bisa mengingat saat saat dirinya harus berjuan untuk mendapatkan gadis itu. Yah well, tentu saja ia tidak akan mungkin bisa melupakan hal itu.

Hwayeon yang dulu, sangat berbeda dengan Hwayeon yang sekarang. Dulu gadis itu sangat kejam padanya. Ia masih tidak tau sampai saat ini, kenapa Hwayeon begitu membencinya dulu itu. Ia masih bisa mengingat betapa sakitnya tamparan gadis itu dipipinya. Kalau kupikir pikir lagi, wajar sih Hwayeon menamparnya mengingat dia tiba-tiba mencium bibir gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia benar-benar tidak tahan! Karena saat itu Hwayeon sangat sexy, sama seperti saat ini.

“Tenang saja sayang, tidak ada yang akan masuk. Bagaimana? Mau?” tawar Kyuhyun lagi. Ia terkekeh kecil saat mendapati rona merah menjalari pipi Hwayeon. Manis sekali  batin Kyuhyun gemas.

“Tidak! Kau gila ya? Kalaupun tidak ada yang lihat, bagaimana kalau ada yang dengar? Asistenmu? Dasar sinting!” Rona merah terus saja menjalari pipi bahkan sampai telinga dan leher gadis itu. Kyuhyun terkekeh dalah hati, ia sangat menikmati pemandangannya saat ini. “Baiklah baiklah, kita lakukan nanti malam saja dikamar atau diruang tamu juga boleh.” Ujar Kyuhyun jahil.

“Aduhh! Sakit chagi.” Hwayeon mendengus melihat wajah memelas Kyuhyun. “Sudah minggir sana, lebih baik cepat lanjutkan pekerjaanmu supaya kita bisa cepat-cepat pulang.”

Kyuhyun akhirnya melepaskan kungkungannya pada tubuh Hwayeon. “Baiklah Tuan Putri, Pangeranmu ini akan kembali bekerja agar kita bisa segera pulang dan membuat anak untuk menemanimu.” Hwayeon tertawa saat Kyuhyun membungkuk main-main padanya sebelum berjalan kembali ke meja kerjanya.

“Dasar gila” gumam Hwayeon geli.

“Gila karenamu, sayang.” sahut Kyuhyun sambil tertawa keras. Hwayeon menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Padahal Kyuhyun selalu dikenal sebagai atasan yang menyeramkan. Ia penasaran bagaimana reaksi para pegawaai Kyuhyun jika mereka melihat tingkah Kyuhyun seperti saat ini.

Drrtt Drrtt

Hwayeon mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun pada ponselnya yang bergetar. Nama Choi Siwon tertera disana. Hwayeon menatap Kyuhyun dan ponselnya secara bergantian dengan bingung. Haruskah kuangkat disini?  Batin Hwayeon bingung. Hwayeon kemudian menghela nafasnya dalam-dalam. Ia memutuskan untuk mengangkat panggilan Siwon, siapa tau ada hal penting.

“Hallo.” Siwon memulai di seberang sana.

“Ne, hallo.” Jawab Hwayeon ragu. Ia bisa menangkap pandangan penasaran Kyuhyun dari sudut matanya.

“Kau sibuk?” tanya Siwon to the point.

“Tidak.” jawab Hwayeon singkat.

“Kau dimana?”

Hwayeon terdiam sejenak, ia kemudian menghela nafasnya lagi. “Apa maumu?”

Kali ini Siwonlah yang terdiam. “Bisakah.. Bisakah kita bertemu sebentar? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Ujarnya kembali dengan ragu.

Hwayeon melirik Kyuhyun yang masih memandanginya dengan penasaran dari sudut matanya, “Kurasa tidak, suamiku tidak akan menyukai hal itu.” Kyuhyun yang merasa tersebut semakin dibuat penasaran, matanya memicing memandang Hwayeon, meminta penjelasan.

“Kau bersama Kyuhyun sekarang? Bukankah seharusnya ia bekerja?” tanya Siwon bingung.

“Ya, aku berada di kantornya saat ini. Jadi sebenarnya apa maumu Siwon oppa?” mata Kyuhyun sontak melebar mendengar nama Siwon terlontar dari bibir Hwayeon. Wajahnya mendatar seketika, dan sorot matanya berubah dingin dalam sekejap. Hwayeon menatap Kyuhyun, memberikan senyum menenangkan.

Siwon mendesah keras, “Aku sudah mengatakannya tadi, aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar saja. Ada yang ingin kubicarakan denganmu, ini bukan tentang kau dan aku atau semacamnya. Jadi jangan salah paham, aku hanya ingin berbicara denganmu tentang  Park Haneul karena kaulah yang paling dekat dengannya.” Jelas Siwon salah tingkah. Hwayeon terkejut mendengarnya, apa ada sesuatu yang terjadi diantara Siwon oppa dan Haneul? Gadis itu tidak pernah mengatakan apapun padaku batin Hwayeon bingung.

Hwayeon menimbang-nimbang sejenak. Ia bingung, haruskah ia menyanggupi keiginan Siwon atau menolaknya? Belum lagi pandangan menusuk yang Kyuhyun layangkan sungguh mengusiknya. “Baiklah, kita bertemu disini saja. Bukan di ruangan Kyuhyun oppa maksudku, di bawah ada kantin, kita bisa berbicara disana.” Kyuhyun yang menyimak pembicaraan Hwayeon dengan Siwon dari mejanya sontak bangkit dengan amarah yang lebih berkobar. Hwayeon yang melihat hal itu hanya mengangkat tangannya sambil menatap Kyuhyun, melarang Kyuhyun melakukan apapun.

“Apa tidak masalah seperti itu? Maksudku, suamimu tidak begitu menyukaiku.”  Hwayeon memutar bola matanya malas, tapi seulas senyum tersinggung di bibirnya. “Tentu saja dia tak menyukaimu oppa, bagaimanapun kau ini mantan kekasihku.” Ujar Hwayeon santai, tidak memperdulikan Kyuhyun yang seakan sudah terbakar api cemburu di sampingnya.

Siwon tertawa disebrang telepon, “Kau benar, hahaha, mungkin saat ini suamimu sedang melayangkan berbagai sumpah serapahnya padaku.” Hwayeon kembali melirik Kyuhyun yang berada di sampingnya, kemudian membenarkan ucapan Siwon. “Kurasa kau benar.” Ujar Hwayeon geli.

Siwon tersenyum, “baiklah kalau begitu, aku akan segera kesana. Hmm, apa aku perlu berbicara langsung pada suamimu? Maksudku, aku tidak ingin kau bertengkar dengannya karena hal ini.”

“Sudahlah, aku akan mengatakannya sendiri.” Jawab Hwayeon menenangkan. Siwon mengangguk, kemudian sadar kalau Hwayeon tidak akan mungkin bisa melihat anggukannya. “Baiklah, sampai bertemu nanti.”

“Ne.” Hwayeon mematikan teleponnya, kemudian memandang Kyuhyun yang masih berdiri kaku di sampingnya. Ia tersenyum menenangkan, kemudian menepuk tempat disebelahnya. Kyuhyun mendudukkan dirinya di samping Hwayeon dengan cepat. “Apa yang dia bicarakan denganmu? Kenapa dia meminta bertemu denganmu? Kenapa kau menyanggupi keinginannya?” cerocos Kyuhyun kesal.

Bukannya segera menjawab pertanyaan Kyuhyun, Hwayeon malah menyandarkan tubuhnya pada Kyuhyun. Dengan segera Kyuhyun melingkari lengannya melingkupi tubuh Hwayeon. “Tenang saja oppa, Siwon oppa hanya ingin berbicara tentang Haneul padaku.” Jawab Hwayeon santai.

Kyuhyun menaikkan sebelas alisnya dengan bingung, “apa maksudmu? Siwon dengan Haneul?” tanyanya tak yakin.

Hwayeon menggendikkan bahunya asal, “tak tau, mungkin begitu. Karena itu juga aku memintanya untuk bertemu disini, jadi kau tidak perlu khawatir. Ok?” Kyuhyun memicingkan matanya tak senang. “Aku ikut.” Ujarnya tiba-tiba

Hwayeon melengos, “Kau harus bekerja.” Jawab Hwayeon mutlak. Kyuhyun merengut kesal “Aku-“

Tok tok tok

Kyuhyun menoleh kearah pintu dengan kesal, kemudian dengan malas ia beranjak kembali ke mejanya, dan menekan tombol di laci mejanya untuk membuka pintu yang tadi sempat ia kunci. “masuk” perintah Kyuhyun kesal. Hwayeon menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Kyuhyun.

Han Yoora, asisten Kyuhyun masuk kedalam ruangan. “Perwakilan dari LH Grup sudah tiba.” Ia menjelaskan.

“Baiklah, suruh mereka menunggu sebentar.” jawab Kyuhyun. Yoora mengangguk, kemudian keluar dari ruangan tersebut setelah member salam pada Kyuhyun juga Hwayeon. Kyuhyun kembali mengalahkan pandangannya pada Hwayeon, “Baiklah, aku tidak akan ikut karena aku ada urusan. Jadi, jangan macam-macam dengannya.” Kyuhyun memperingati.

Hwayeon mengangguk, “tentu saja aku tidak akan macam-macam dengannya. Aku ini istrimu, kau harus percaya padaku.”

Kyuhyun memandangi Hwayeon lekat-lekat, kemudian mengangguk. “Aku percaya padamu.” Ujarnya sambil menatap kedalam mata Hwayeon. Hwayeon tersentak, Kyuhyun melihat pandangan terluka Hwayeon selama sepersekian detik dengan bingung. Mungkin hanya halusinasiku batin Kyuhyun tak yakin.

Hwayeon mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun kemudian bangkit berdiri, “Aku pergi dulu kalau begitu.” Ia menghampiri Kyuhyun, kemudian mengecup bibir Kyuhyun lembut. “Selamat bekerja.” Setelah mengatakan hal itu, ia kemudian lekas pergi dari ruangan Kyuhyun. Kyuhyun memandang punggung Hwayeon yang menjauh darinya dengan pandangan bingung. Entah kenapa beberapa hari ini ia merasa ada sesuatu yang aneh dari Hwayeon, tapi ia tidak tau apa itu. Seakan-akan ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan darinya.

Kyuhyun kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran pikiran aneh yang bisa membuatnya meragukan Hwayeon. Dengan segera ia kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang menantinya. Hwayeon yang berada di luar pintu ruangan Kyuhyun terdiam, pikirannya melayang entah kemana. Seakan tersadar, dengan cepat ia kembali melangkahkan kakinya ke arah lift. All is well batin Hwayeon.

Hwayeon melangkahkan kakinya dengan santai menuju ke arah kantin yang berada di dekat pintu masuk. Sesekali ia mengangguk, membalas sapaan para pegawai Kyuhyun yang mengenalinya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di sebuah kursi kosong yang berada tepat di samping jendela. Ia melamun sampai akhirnya panggilan Siwon menyadarkannya.

“Hwayeon-ah?” Panggil Siwon.

Hwayeon tersentak, ia menoleh dan mendapati Siwon menatapnya dengan pandangan khawatir. “Kau ok?” Tanya Siwon. Hwayeon mengangguk, “i’m ok”. Siwon menatap Hwayeon tak yakin, kemudian mengangguk dan mendudukkan dirinya di hadapan Hwayeon.

Hwayeon menatap Siwon dengan pandangan tertarik, “jadi?” Hwayeon memulai.

Siwon menggaruk tengkuknya dengan malu, pipinya merona merah. “Ya, akhir-akhir ini aku dekat dengan Haneul dan aku merasa cocok dengannya. Dia baik dan polos, bagaimana menurutmu jika em, jika aku bersama dengannya?” Tanya Siwon malu. Hwayeon memberikan pandangan tertarik yang membuat Siwon semakin salah tingkah.

“Yah, menurutku kalian memang cocok. Kau sendiri baik dan polos oppa, tapi dalam sisi lain kau juga tegas. Kau pasti bisa melindungi Haneul dengan segenap kekuatanmu, aku yakin.”

Siwon tersenyum senang mendengar perkataan Hwayeon. “Begitukah? Aku berencana untuk menyatakan perasaanku padanya, tapi aku tidak yakin. Apa dia juga memiliki perasaan yang sama denganku? Bagaimana kalau aku ditolak?” Hwayeon tertawa keras mendengar pertanyaan terakhir yang Siwon lontarkan padanya. Rona merah semakin menjalari pipi Siwon sampai ketelinganya karena malu. “Jangan tertawa seperti itu” bisik Siwon malu. Bukannya berhenti, tawa Hwayeon malah semakin besar. “Sejak kapan oppa menjadi tidak percaya diri seperti ini?” Tanya Hwayeon geli.

Siwon mendengus, tidak berniat menjawab pertanyaan Hwayeon.

Hwayeon kemudian menghentikan tawanya. “Aku tidak tau sih, karena Haneul tidak pernah membicarakan apapun padaku. Jadi aku tidak bisa memastikan. Lagipula oppa, percayadirilah sedikit. Kau itu memikat. Dan lagipula, sejak kapan kau jadi tidak percaya diri seperti ini sih? Seperti bukan dirimu saja.”

“Jadi dia tidak pernah bercerita padamu ya?” Tanya Siwon kecewa. Hwayeon jadi tidak tega dibuatnya. “Yah, seingatku dia pernah beberapa kali ingin mengatakan sesuatu padaku tapi tida pernah jadi. Mungkin dia ingin menceritakan tentangmu? Entahlah. Tenang sajalah oppa, aku yakin dia pasti menerimamu.” Siwon mengangguk-ngangguk setelah mendengar penjelasan Hwayeon, ia merasa sedikit lebih tenang.

“Baiklah, jadi, bagaimana keadaanmu?”

Hwayeon tersentak. Ia memandang Siwon kaku, “aku baik.”Jawab Hwayeon singkat. Siwon memandang Hwayeon penuh pengertian.

“Suamimu.. Dia tau?”

Hwayeon mendadak kaku seketika, “Tentu saja tidak.” Jawabnya cepat.

“Tidakkah seharusnya kau memberitahu suamimu? Kupikir membiarkan segalanya jadi seperti ini tidaklah bijak.” Siwon mencoba menasihati.

“Itu bukan urusanmu” jawab Hwayeon cepat, ia merasa terganggu dengan tema percakapan mereka saat ini.

“Itu memang bukan urusanku. Tapi kupikir, Kyuhyun berhak tau soal-”

“Cukup, kita tidak akan membahas itu sekarang ok?” Hwayeon menegaskan. Suaranya sedikit bergetar. Siwon membuka mulutnya, bersiap mengeluarkan bantahan lagi, tapi kemudian ia menutup mulutnya kembali. “Baiklah, terserah padamu. Tapi tetap, aku harap kau memikirkan perkataanku.”

Hwayeon bangkit dari kursinya dengan cepat. “Aku sudah bilang kalau aku tidak mau membahas hal ini. Aku pergi, permisi.”

Siwon mengalihkan pandangannya kearah kaca, memandangi keadaan luar yang ramai.

Hwayeon-ah... Batin Siwon sedih

 

 

-TBC-

The Most

Genre: Drama, hurt

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

 

Cast:

Kim(Cho) Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other Cast:

Kim(Lee) Hyera | Lee Donghae | Nam Jiyeon

 

Afira’s Note:

Hello, this is Afiraa. FF yang satu ini udah pernah kupulish sebelumnya di blog ku yang lama. Ini bakal jadi first postku di blog ini. Maaf kalau ceritanya kurang menarik dan sebagainya, berhubung ini cerita lama dan aku masih amatiran hehehe. Mohon reviewnya ya guys. Supaya aku bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Happy Reading

 

the most

.

.

.

Love is a fire.

But whether it is going to warm your hearth or burn down your house, you can never tell

-Joan Crawford

.

.

.

Kyuhyun memandang Hwayeon frustasi, kekesalannya tampak jelas. Entah sudah kesekian kalinya mereka bertengkar untuk lagi-lagi masalah yang sama. Baek Jiyeon.

Hwayeon diam sambil menatap lantai dibawahnya, merasa terintimidasi dengan tatapan Kyuhyun yang mengerikan. “Jawab aku Hwayeon. Kenapa kau tetap pergi kesana?! Sudah berulang kali aku melarangmu bukan?! Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkanku? KENAPA?!”

Mata Hwayeon melebar takut saat Kyuhyun mengangkat kepalan tangannya dan memukul tembok dibelakangnya. Tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan. Kyuhyun jelas melihatnya, dan hal itu membuatnya semakin murka.

“Tidak! Jangan menangis! Jangan memulai semua ini dengan air mata sialanmu!” bentaknya kasar.

Hwayeon semakin menundukkan kepalanya, isak tangis yang sudah sekuat tenaga ia tahan akhirnya tumpah ruah. “Jawab aku Cho Hwayeon! Aku memintamu untuk menjawabku! Bukan untuk menangis!”

Kyuhyun mengusap kasar rambutnya, Hwayeon tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia membutuhkannya, ia membutuhkan jawaban. Ia harus tau kenapa! Kenapa istri bandelnya itu terus menerus membantah omongannya! Kenapa istri keras kepalanya itu terus menerus bertindak tanpa berfikir! Kenapa istrinya itu terus menerus membuatnya gila!

“Kumohon jangan marah.” Ujar Hwayeon lirih, ia mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun dengan sedih. “Tadinya aku ingin memberitahumu lebih dulu. Tapi aku tau kau sedang sibuk akhir-akhir ini, jadi aku memutuskan untuk memberitahumu saat kau sudah pulang dari kantor nanti. Lagipula, aku pikir dia sudah berubah. Aku berpikir kalau akhirnya aku bisa memulai hubungan baru yang lebih baik dengan Jiyeon. Bagaimanapun dia adalah sahabat baikmu sejak dulu. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya, hanya itu. Jadi kau tidak perlu sembunyi-sembunyi berhubungan dengannya-” ia berhenti sejenak.

“-karna itu menyakitiku.” Hwayeon tercekat. Ia merasa seperti ada segumpal bola di dalam tenggorokannya.

Kyuhyun diam, ia menatap Hwayeon dihadapannya yang masih setia menunduk dengan perasaan campur aduk. “Tapi kau tau jika dia tidak menyukaimu, sayang. Dia selalu mencoba menyakitimu. Aku tidak bisa membiarkannya mendekatimu, aku benar-benar tidak bisa. Mengertilah.”

Hwayeon memejamkan matanya saat rasa sakit terus menghujam dadanya tanpa henti, “tapi kau membiarkannya mendekatimu.”

Hwayeon menggumamkan hal itu dengan pelan, tapi Kyuhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas, sangat jelas. “Tentu saja, dia sahabatku.” Sahut Kyuhyun, merasa tersinggung. Hwayeon tersenyum sedih, “kau membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia mencintaimu. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia membenciku. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau hal itu menyakitiku.” Tandas Hwayeon lemah.

Kyuhyun tersentak, kesadaran menghantamnya. Hatinya diam-diam membenarkan ucapan Hwayeon, tapi akal sehatnya menolak untuk mengakuinya. “Kau harus mengerti Hwayeon. Aku memang mencintaimu, tapi aku menyayanginya. Dia yang selalu berada disampingku sejak dulu. Kalau saja aku tidak bertemu denganmu, aku mungkin akan menikah dengannya walaupun aku tidak mencintainya, tapi setidaknya aku menyayanginya. Rasa sayangku padanya cukup besar.”

Sesaat setelah ia mengucapkan, ia langsung menyesalinya. “Aku-“

“Aku mengerti.” Potong Hwayeon.

“Kau menyayanginya, aku tau. Rasa sayangmu padanya cukup besar sampai kau bersedia menikahinya, karena kau tau dia mencintaimu. Tapi, rasa cintamu padaku tidak cukup besar untuk membuatmu menjaga jarak dengannya, walaupun kau tau aku terluka setiap kali kalian bersama.” Lanjut Hwayeon. Kyuhyun terdiam, ia menatap kosong Hwayeon yang berdiri dihadapannya dalam diam. Perasaan aneh bergelayut di dalam dadanya, tapi ia tidak mengerti perasaan apa itu.

Hwayeon mengangkat kedua tangannya, dan meletakkannya di dada Kyuhyun. Ia mendorong Kyuhyun pelan, memberi bentangan jarak diantara keduanya. Dipaksakannya sedikit senyuman agar terpasang di wajahnya. “Kau tau oppa, aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu, sampai terasa sangat menyakitkan. Aku tau kau mencintaiku, tapi aku juga tau kalau rasa cinta itu tidaklah cukup untuk membuatmu hanya memandangku saja. Aku akan pergi, aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Dan kalau kau memutuskan kalau rasa cintamu padaku memang tidak sebesar rasa sayangmu pada Jiyeon, kau bisa menceraikanku, aku akan mencoba menerimanya. Satu minggu oppa, aku akan memberikanmu waktu satu minggu untuk menentukan pilihanmu. Kau bebas menentukan pilihanmu.”

Hwayeon mengikis jaraknya diantara mereka, dan dengan lembut mencium bibir Kyuhyun. Aku mencintaimu oppa, sangat. Tapi kalau kau tidak bahagia hidup bersamaku, kalau kau menginginkan wanita lain dihidupmu. Aku akan mengalah. Rasanya akan sangat menyakitkan, aku tau. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli kalaupun aku harus mengorbankan nyawaku agar kau tetap hidup. Aku tidak peduli kalau aku harus menuju ke neraka agar kau bisa menuju ke surga. Sebesar itulah rasa cintaku padamu, oppa.

Air matanya menetes tanpa bisa dicegah, cepat-cepat ia menarik wajahnya dari Kyuhyun dan melemparkan senyum terbaik yang bisa ia buat, dan beranjak pergi.

Kyuhyun masih diam tidak bergerak. Ia hanya menatap kosong punggung Hwayeon yang terus menjauh. Bersamaan dengan menghilangnya Hwayeon dari jarak pandangnya, ia merasa kosong. Seakan-akan ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari kehadirannya.

 

.

 

Hwayeon menatap cicin pernikahan yang tersemat di jari manisnya dengan pandangan hampa. Sudah tiga hari berlalu sejak ia terakhir kali melihat Kyuhyun. Ia tidak pernah mengecek ponselnya, ia takut kecewa. Ia takut menerima kenyataan kalau ternyata Kyuhyun tidak merasa kehilangannya, tidak mencari kepergiannya. Atau bahkan yang lebih parah, ia takut Kyuhyun malah senang dengan kepergiannya dan lebih memilih untuk mengurus perceraian mereka agar ia bisa bersatu dengan Jiyeon. Jauh dilubuk hatinya, ia berharap Kyuhyun mencari keberadaannya karena ia merasa kehilangannya. Tapi entahlah, mungkin saja saat ini Kyuhyun sedang bersenang-senang bersama Jiyeon, mensyukuri kepergiannya. Siapa yang tahu?

Beberapa hari ini rasanya sangat menyakitkan. Rasanya sungguh menyiksa. Hwayeon memejamkan matanya, ia menghela nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya.

Dengan perlahan, ia membelai perutnya sendiri. Buah hatinya dengan Kyuhyun sedang bertumbuh didalam sana. “Apa kau merindukan appamu nak? Maafkan eomma. Eomma tidak bisa memberitahukan keberadaanmu pada appa. Eomma menyayangimu, nak.” gumamnya lirih.

Usia kandungannya sudah mencapai bulan ke-3, dan ia belum pernah sekalipun menyinggung hal ini di depan Kyuhyun. Sebenarnya, ia selalu mencoba. Tapi selalu saja ada halangan.

Tok tok

Kriiet

“Hey, makanan sudah siap. Ayo kita makan dulu.” Hyera masuk kedalam kamar Hwayeon, duduk diatas kasurnya kemudian mengelus rambut Hwayeon dengan lembut. Ia sangat menyayangi Hwayeon. Hwayeon sudah seperti adik kandungnya sendiri. Mereka selalu bersama sejak kecil, mengingat mereka sama-sama yatim piatu.

Hyera terbiasa tumbuh sambil mengasuh Hwayeon. Ia selalu memastikan agar Hwayeon terus tersenyum, bahagia. Ia sangat senang saat Kyuhyun datang meminta ijin untuk menikahi Hwayeon padanya 3 tahun yang lalu .

Hyera tau kalau Hwayeon mencintai Kyuhyun, karna itu ia tidak melarang. Tapi, ia tidak menyangka kalau akhirnya rasa cintanya sendirilah yang menghancurkannya. Rasanya sangat menyakitkan saat Hwayeon tiba-tiba saja datang tengah malam sambil menangis ke rumahnya 3 hari yang lalu.

Hwayeon memang tidak mengatakan apapun padanya sekalipun ia bertanya, semua yang Hwayeon lakukan hanyalah mengunci dirinya di kamar dan menangis. Walaupun begitu, ia sudah mengenal Hwayeon sejak kecil. Ia seakan memiliki ikatan tak kasat mata dengan Hwayeon. Ia akan tau saat Hwayeon bahagia, sedih, marah, ataupun kecewa. Dan satu hal yang bisa ia pastikan, Hwayeon saat ini tengah sedih dan terluka.

Tidak ada yang bisa menyakiti Hwayeon kecuali Kyuhyun. Ia tau itu, dan sudah 3 hari ini Hwayeon bertingkah seperti mayat hidup, tidak mati tapi juga tidak hidup. Dan ia benci melihat Hwayeon seperti ini, sangat. Ia akan membuat perhitungan pada Kyuhyun jika Hwayeon sampai kenapa-napa.

“Aku tidak lapar eonni.” Tolak Hwayeon.

“Tidak tidak, kau harus makan. Ayolah, kau tidak akan membiarkan anakmu kelaparan di dalam sana kan? Dia butuh asupan makanan, dan kau sendiri juga butuh makan. Kau sangat kurus.” Bujuk Hyera

Hwayeon diam sejenak, ia melupakan satu hal penting. Saat ini ia tidak hanya makan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk malaikat kecilnya. Hwayeon kemudian mengangguk dengan enggan. “Baiklah, tapi setelah itu aku mau makan eskrim di taman. Bolehkan?” Hyera tersenyum, “Tentu. Kajja.”

Hyera membimbing Hwayeon menuju meja makan. Donghae yang sejak tadi sudah menunggu disana tersenyum saat melihat Hwayeon dan Hyera datang. “Merasa baikkan?” tanya Donghae langsung sesaat setelah Hwayeon duduk dihadapannya.

Hwayaeon menatap Donghae, kemudian mengangguk pelan. “Ne. Terimakasih kalian sudah mau menampungku disini, aku akan pindah secepatnya setelah aku mendapatkan rumah. Aku tidak ingin menyusahkan kalian lebih lama lagi.” Jawab Hwayeon pelan.

“Tidak tidak, aku dan Hyera tidak keberatan kau tinggal disini. Rumah ini selalu terbuka untukmu sayang. Jangan sungkan pada kami. Kita keluarga ingat?” tukas Donghae hangat. Hwayeon tersenyum menanggapinya, “terimakasih.”

“Jja, ayo kita makan. Kau harus makan yang banyak Hwayeon-ah, anakmu butuh makan. Dan juga, kupikir aku harus menemui suamimu, dia sangat menyedihkan akhir-akhir ini. Dia pasti belum makan, dan mungkin saat ini dia sedang melamun tidak jelas,” Donghae menatap Hwayeon lembut, sedangkan Hyera spontan menyikut perut Donghae.

Tangan Hwayeon yang bersiap menyuapkan makanannya melayang di udara. Matanya mendadak kosong. “Aku yakin suamimu sudah menyadari kesalahannya. Sebenarnya aku tidak mau menjadi orang yang mengatakan ini, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Biar kuberitahu satu hal hwayeon, Kyuhyun sangat mencintaimu. Dia sudah mengakuinya. Dia mencintaimu, melebihi rasa sayangnya pada Jiyeon aku yakin itu.” Donghae diam sejenak, mencoba mengukur reaksi Hwayeon.

“-Dia sudah memutuskan hubungannya dengan Jiyeon kemarin. Dia sangat kehilanganmu, aku tau itu. Dia mencintaimu. Kau harus kembali padanya.” Lanjutnya.

“aku-“ Hwayeon tercekat. Ia merasa takut mempercayai perkataan Donghae, takut jika itu hanya sebuah kebohongan. Tapi, ia tahu Donghae mengatakan hal yang sebenarnya. Donghae adalah sahabat Kyuhyun juga, dan Donghae tidak akan berbohong padanya. Tidak soal ini.

“Kyuhyun ingin kau pergi ke ‘tempat kita’, entah tempat apa yang ia maksud, tapi ia bilang kau akan tau. Dia akan menunggumu disana besok jam 3.” lanjut Donghae. Hwayeon menatap Donghae dalam diam, ia kemudian mengangguk. “baiklah” jawabanya lirih. Donghae dan Hyera yang mendengarnya tersenyum menguatkan, lalu merekapun menghabiskan sisa makanan mereka dalam keheningan.

Hwayeon yang sudah menyelesaikan makanannya segera beranjak dari meja makan dan berpamitan untuk segera berangkat ke taman. Ia mengganti bajunya dengan sebuah dress dengan berwarna kuning lembut. “aku pergi dulu ya eonni, oppa!”

Hwayeon berjalan santai menuju taman sambil berpikir tentang hubungannya dengan Kyuhyun. Saat Kyuhyun melamarnya 3tahun yang lalu, ia sangat senang. Ia yakin ia bisa bahagia jika bersama dengan Kyuhyun, tapi semua harapan-harapan itu sirna seketika saat seorang wanita berani Jiyeon tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah mereka dan mengacaukan semuanya.

Ia terus menerus mencoba merebut Kyuhyun dari pelukannya, mengklaim bahwa dirinya adalah sahabat Kyuhyun, orang terdekatnya, orang yang paling Kyuhyun sayangi. Dan bodohnya, Kyuhyun tidak mencoba untuk menjelaskan hal itu padanya seakan-akan segalanya sudah terlihat jelas dari perkataan Jiyeon.

Wanita itu perlahan-lahan mulai menarik perhatian Kyuhyun, juga waktu yang biasanya Kyuhyun sediakan untuknya beralih pada Jiyeon. Kemana-mana Jiyeon, apa-apa Jiyeon. Hwayeon mencoba memaklumi hal itu, karena ia pikir, yah mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu jadi mereka ingin menghabiskan waktu bersama. Jadi ia pikir, mungkin setelah ia dan Kyuhyun menikah, Kyuhyun bisa kembali bersamanya seperti biasa dan lebih meminimalkan waktunya bersama Jiyeon. Tapi apa yang terjadi? Kyuhyun tetap menghabiskan waktunya bersama Jiyeon, menemani wanita itu berbelanja, menonton bersama, bahkan liburan berdua!

Aku masih bisa memakluminya jika mereka hanya bertemu sekali-kali, melepas rindu dan sebagainya. Tapi yang mereka berdua lakukan itu sudah diluar batas wajar! Kyuhyun bahkan tidak peduli jika Hwayeon dan Jiyeon terus menerus bertengkar karena dirinya. Kyuhyun baru mulai melarang Hwayeon untuk bertemu dengan Jiyeon semenjak Jiyeon mendorong tubuh Hwayeon ke dalam kolam renang saat mereka berdua bertengkar.

Setelah kejadian itu, Hwayeon pikir Kyuhyun sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Jiyeon. Tapi pemikiran itu luntur sejak ia memergoki keduanya sedang makan berdua di sebuah restaurant disaat Kyuhyun mengatakan padanya kalau ia ada meeting.

Hwayeon tetap diam walaupun ia merasa kecewa karena ia tahu Kyuhyun berbohong padanya. Dan hal seperti itu tidak terjadi satu dua kali saja, tapi berkali-kali. Kyuhyun menemui Jiyeon secara diam-diam dibelakang Hwayeon. Sampai akhirnya Jiyeon tiba-tiba menghubunginya beberapa hari yang lalu, dan memintanya untuk bertemu.

Awalnya ia mencoba berpikir kalau mungkin saja ia bisa memperbaiki hubungannya dengan Jiyeon, jadi suaminya tidak perlu terus menerus membohonginya seperti itu. Tapi pemikiran seperti itu langsung saja sirna saat dengan sombongnya wanita itu menyuruhnya untuk melepaskan Kyuhyun dan merelakan Kyuhyun untuknya. Dan sebelum ia sempat menjawab, Kyuhyun sudah terlanjur datang untuk menyeretnya pulang dan memulai pertengkaran. Dan disinilah ia sekarang, sendiri, kesepian, dan yang pasti menyedihkan.

Hwayeon mendudukkan dirinya di sebuah kursi kosong yang ditemuinya setelah ia membeli eskrim vanilla kesukaannya. Biasanya ia akan meminta Kyuhyun untuk menemaninya makan eskrim ditaman dekat rumah mereka atau sekedar berjalan-jalan di Sungai Han. Ia jadi ingat kalau ia belum mengaktifkan ponselnya selama 3hari. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan mulai mengaktifkannya.

76 missed call

138 messages

Hwayeon mengerjap, WOW, jumlah yang fantastis. Ia membukanya satu persatu dengan penasaran. Beberapa temannya mengiriminya pesan karena menghilang tiba-tiba, dan sisanya adalah pesan dari Kyuhyun. Dengan ragu ia membuka pesan Kyuhyun.

Kau ada dimana?

Hwayeon-ah? Kau ada dimana?

Hey, jawab aku, kau dimana?

Pesan-pesan awal hanya berisi kalimat-kalimat seperti ‘Kau dimana?’ atau ‘Pulanglah’ tapi beberapa pesan terakhir sungguh menggetarkan hatinya.

Hwayeon-ah, aku minta maaf jika aku terus menerus menyakitimu tanpa kusadari. Ketololankulah yang membuatmu pergi dariku. Aku tidak tau apakah aku pantas mendapatkan kata maaf darimu. Tapi tolonglah, untuk sekali ini saja maafkan aku. Mungkin kau marah padaku, mungkin kau membenciku, aku menerimanya. Marahlah padaku, bencilah padaku, tapi setelah itu kumohon.. kembalilah padaku. Jangan tinggalkan aku seperti ini. Lebih baik kau pukul aku, lebih baik kau mencaci maku diriku, daripada kau hukum aku dengan cara seperti ini. Aku mohon.. aku mohon.. aku mohon sayang, kembalilah padaku, aku merindukanmu.

Hwayeon-ah biarkan aku memperbaiki hubungan kita, aku sudah meminta bantuan Donghae hyung untuk menyampaikannya padamu, karena kupikir kau mungkin ada di tempatnya. Aku ingin menjemputmu kesana, tapi Donghae hyung melarang. Jadi mau kah kau datang ke tempat kita? Besok jam 3sore. Aku tunggu kedatanganmu. Aku merindukanmu sayang..

Kalau kau membaca pesan ini, kuharap kau tau. Aku sangat mencintaimu, Cho Hwayeon.

Tanpa sadar, airmata menetes dari mata Hwayeon. Hatinya terasa lebih ringan setelah ia membaca pesan Kyuhyun. Aku tau, aku juga sangat mencintaimu oppa. batin Hwayeon terharu.

 

.

 

Jiyeon menatap Kyuhyun marah, “Aku tidak mau! Aku tau kau menyayangiku! Kenapa aku harus mengalah pada yeoja sialan itu?! Aku yang lebih dulu mencintaimu! Aku tidak akan pergi! Tidak sampai kapanpun!”

Kyuhyun menatap Jiyeon jengah. Ia sudah memutuskan, ia sudah menentukan pilihannya, dan ia memilih Hwayeon istrinya. Beberapa hari ini tanpa Hwayeon membuatnya menyadari betapa pentingnya sosok Hwayeon dalam hidupnya.

Ia merasa sangat tolol karena selama 3 tahun pernikahan mereka, ia terus menerus menyakiti Hwayeon tanpa ia sadari. Karena itu sekarang ia ingin memperbaiki semuanya. Setelah Hwayeon pergi, dan setelah konseling menyedihkannya dengan Donghae. Akhirnya ia memutuskan hal ini.

Ia akan memulai kehidupan barunya bersama Hwayeon. Mungkin ia harus mulai memikirkan untuk menghadirkan sosok kecil yang akan meramaikan kelarga kecil mereka. Tapi semua itu tidak akan bisa dimulai jika masih ada sosok Jiyeon yang mengintai keluarga mereka. Ia harus melenyapkan bayang-bayang Jiyeon dari hidupnya.

“Ini keputusanku Jiyeon. Aku tidak bisa berhubungan lagi denganmu. Aku tidak mau menyakiti istriku lagi. Kau sendiri harus belajar melupakanku. Bagimanapun juga, aku hanya menganggap kau sebagai adikku, tidak lebih. Aku tidak akan pernah mencintaimu.”

“Kau akan mencintaiku! Kau bisa mencintaiku andai saja kau mau mencoba! Tinggalkan Hwayeon dan hiduplah denganku, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya nanti. Kita bisa pergi sekarang. Kau bisa menceraikannya dan menikahiku. Kita akan hidup bahagia berdua, aku yakin!” ujar Jiyeon semangat. Ia menggandeng tangan Kyuhyun dan mencoba menarik Kyuhyun pergi. Tapi Kyuhyun sama sekali tidak bergeming. Ia hanya memandang Jiyeon sedih.

“Tidak, Jiyeon. Aku hanya mencintai Hwayeon. Setelah ia meninggalkanku beberapa hari ini akhirnya aku sadar, hanya dialah satu-satunya orang yang aku cintai. Tidak ada yang lain lagi selain dirinya. Aku tidak akan meninggalkannya. Kau sahabatku, adikku. Kita tidak akan mungkin bisa bersama. Kau tau itu.” Kyuhyun mengatakannya dengan sangat lembut, mencoba memberi Jiyeon penjelasan sebaik mungkin. Bagaimanapun juga, Jiyeon adalah sahabatnya, dan sudah ia anggap sebagai adiknya selama ini.

“Tidak! Kau tidak mencintainya! Kau hanya mencintaiku. Ayolah jangan beranda, kita bisa pergi sekarang sebelum gadis jalang itu kemari. Ayo!” Kyuhyun yang sedari tadi diam bergeming akhirnya menyentak tangan Jiyeon dengan sedikit kasar.

Tidak ada lagi kelembutan dimatanya, hanya ada kemarahan disana.

“Jangan berani-beraninya kau menyebut istriku dengan sebutan itu! Lebih baik sekarang kau pergi, Jiyeon. Kita sudah berakhir. Aku tidak mau sampai istriku melihatmu berada disini dan menimbulkan kesalahpahaman baru yang bisa membuatnya pergi meninggalkanku!”

Jiyeon diam, ia menunduk. Air matanya berlinang melewati pipi mulusnya. Tangannya terkepal di samping tubuhnya, “kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang boleh memilikimu.” Gumamnya lirih, dan kemudian ia berlalu dengan cepat tanpa memandang Kyuhyun lagi.

Kyuhyun memandang punggung Jiyeon yang menjauh dengan perasaan berkecamuk. Rasanya sangat berbeda saat Hwayeon yang berjalan pergi darinya. Saat Hwayeon berjalan pergi darinya, ia merasa kosong, merasa rapuh. Tapi sekarang, saat Jiyeon lah yang menjauh, entah kenapa ia merasa lega. Seakan-akan beban yang selama ini menghimpit dadanya akhirnya terlepas.

Mungkin seharusnya inilah yang ia lakukan sejak dulu, betapa bodohnya dia karena harus menyakiti Hwayeon terlebih dahulu untuk menyadarinya, menyakiti wanita yang sangat ia cintai.

Dan mulai saat ini, ia akan berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyakiti Hwayeon lagi, tidak bahkan seujung jaripun. Ia akan melindungi Hwayeon dengan segenap kekuatannya. Apapun yang terjadi, ia berjanji akan tetap berada di samping Hwayeon.

Kyuhyun mendudukkan dirinya di kursi untuk merilekskan tubuhnya. Saat ini ia ada di Café Ddangkoma, tempat dimana ia pertama kali bertemu Hwayeon dan tempat dimana ia melamar Hwayaeon.

Ia sudah meminta Donghae untuk mengatakan pada Hwayeon bahwa ia menunggu disini, dan ia sangat berharap Hwayeon akan datang. Ia sudah sangat merindukan Hwayeon, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Kyuhyun melihat jam tangannya dengan gelisah, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Ia melemparkan pandangan pada dinding kaca di sampingnya, berharap menemukan sosok Hwayeon, dan ia menemukannya.

Gadis itu berada di seberang café, menunggu lampu merah agar bisa menyebrang. Ia memakai sebuah gaun putih sederhana, flat shoes berwarna senada, dan sebuah tas tangan berwarna pink lembut. Rambutnya yang tergerai melambai-lambai disapu angin. Kyuhyun tersenyum melihatnya, gadisnya ada disana, gadis yang sangat dicintainya, istrinya.

Rasa rindu membuncah di dadanya melandanya bagai banjir bandang. Ia menatap Hwayeon yang saat ini sedang menyebrang dengan penuh kerinduan dan semua itu berubah dengan cepat menjadi kengerian saat sebuah mobil melaju dengan sangat cepat kearah istrinya. Matanya otomatis membelalak, ia bisa melihat bagaimana saat-saat terdengar suara riuh teriakan orang dimana-dimana dan terlebih disaat istrinya itu berdiri kaku sambil membelalak sesaat sebelum tubuhnya dihantam oleh mobil.

“TIIIIDDDDAAAAAAAKKKKKK!!!!!!!!!!!!”

Ckiiiitttt

Braaakk

Kyuhyun mematung, istrinya tergeletak di trotoar dengan tubuh bersimbah darah. Gaun putih yang dikenakannya sudah berubah menjadi warna merah sepenuhnya. Jantungnya berdebar-debar dengar perasaan takut.

Sebuah alarm berbunyi nyaring di dalam benaknya, dengan cepat ia keluar dari dalam café dan berlari menuju tempat Hwayeon tergeletak. Ia berlutut di samping tubuh lemah Hwayeon dan meraih Hwayeon kedalam pelukannya dengan tangan gemetar.

“Telepon ambulance.” Ujarnya lirih. Tangannya terjulur untuk mengusap pipi tirus Hwayeon, dan air mata tidak lagi sanggup ia bendung.

“TELEPON AMBULANCE!” Kyuhyun berteriak panik.

“KUBILANG TELEPON AMBULANCE! ISTRIKU SEKARAT! TELEPON AMBULANCE! CEPAT! CEPAT! Buka matamu sayang, buka matamu. Kumohon, jangan tinggalkan aku. Kumohon, buka matamu.”

Orang-orang mulai berkerumun. Bisik-bisik terdengar dimana-mana, “MANA AMBULANCENYA?! TELEPON AMBULANCE!” Kyuhyun berteriak kalap. Orang-orang di kerumunan menatap Kyuhyun iba saat Kyuhyun terus menerus mencoba mengajak Hwayeon berbicara.

“Jangan pergi, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, kumohon. Aku mencintaimu, aku ingin memperbaikinya. Jangan tinggalkan aku. Bangun sayang, kumohon.”

Suara sirene polisi dan ambulance mulai terdengar.

Hwayeon diangkat ke atas tandu dan Kyuhyun tidak bisa melepaskannya. Kyuhyun terus menangis dan berdoa sepanjang perjalanan. “Kau kuat sayang, jangan tinggalkan aku.” Bisiknya lirih saat Hwayeon dibawa ke ruang operasi.

Kyuhyun beranjak untuk mengurus administrasi. Tidak dipedulikannya bajunya yang tercecer darah Hwayeon. Setelah ia selesai mengurus administrasi, ia segera menelpon Donghae untuk memberitahu keadaan Hwayeon.

“Hyung..” lirih Kyuhyun

“Eoh? Ada apa? Hwayeon sudah disana bukan? Ia sudah berangkat tadi.” Tanya Donghae bingung.

“Hyung…” lirih Kyuhyun lagi, kali ini dengan suara bergetar. Donghae langsung terdiam. Perasaan takut tiba-tiba saja menggelayutinya.

“Ada apa?” tanya donghae perlahan.

“Hwayeon..”

“Hwayeon kenapa?” tanya donghae mulai panik.

“Hwayeon dia.. dia kecelakaan hyung.. hiks hiks eotteokhae hiks hiks”

“…” tidak terdengar jawaban dari Donghae. Donghae hanya diam, sementara Kyuhyun terus saja menangis.

“Kau dimana?” Donghae dengan suara bergetar

“Seoul Hospital-“

Tut tut tut

Donghae mematikan teleponnya secara sepihak, dan Kyuhyun memakluminya. Ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Hwayeon. Hwayeonnya, gadisnya, istrinya.

Entah bagaimana nasib istrinya. Banyak sekali yang ingin ia lakukan, yang ingin ia katakan, dan ia berharap ia masih memiliki kesempatan. Ia menundukkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya. Ia berdoa, sudah lama ia tidak melakukan hal itu, berdoa. Dan sekarang ia berdoa, ia berdoa untuk istrinya, ia berdoa untuk keselamatan istrinya, berharap Tuhan masih mau memberikannya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, kesempatan untuk membahagiakan istrinya.

Donghae dan Hyera pun melakukan hal yang sama sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit. Mereka berdoa, memanjatkan keinginan mereka. Berharap Hwayeon tetap selamat dan melewati operasinya dengan baik.

Sementara hwayeon di dalam ruang operasi meregang nyawanya. Seluruh tim dokter mengusahakan yang terbaik untuknya. Hampir 2 menit jantung Hwayeon sudah berhenti berdetak. Sedangkan Kyuhyun, Donghae, dan Hyera terus memanjatkan doa mereka. Lalu, Tuhanpun tidak buta. Mujizatnya terjadi, usaha tim dokter berhasil. Hwayeon sudah kembali, jantungnya kembali berdetak.

Kyuhyun menunggu Hwayeon dengan cemas. Donghae dan Hyera yang sudah datangpun tak kalah cemas dengan Kyuhyun. Mereka duduk bersama sambil melipat tangan mereka untuk berdoa, seakan doa mereka terjawab, lampu operasi akhirnya mati, dan para dokter keluar dari dalam ruang operasi.

Kyuhyun yang paling sigap, ia melompat dari kursinya dan menghampiri sang dokter dengan cemas. “Operasinya berjalan lancar, tidak ada kerusakan serius. Kepalanya terbentur trotoar, membuat tengkoraknya sedikit retak. Kami memang sempat kehilangannya tadi. Tapi semuanya sudah baik-baik saja. Ia akan bangun pada saat ia siap nanti. Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya.”

Bayinya.

Kyuhyun tertegun, Donghae dan Hyera menatapnya iba. Mereka juga sedih, tapi mereka mengerti kalau Kyuhyun akan lebih sedih.

“bayinya.” Lirih Kyuhyun

“bayiku.”

Kyuhyun jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Donghae dan Hyera ikut berjongkok untuk menenangkan Kyuhyun yang menangis, “bayiku, aku kehilangan bayiku. Bayi yang bahkan aku tidak tau keberadaannya. Ini hukumanku. Ini semua salahku.” Hyera memeluk Kyuhyun dan ikut menangis bersamanya. Donghae yang melihat mereka berdua menangis, akhirnya ikut memeluk Hyera dan Kyuhyun. Air matapun ikut berjatuhan dari sudut matanya.

“Ini bukan salahmu, Kyu. Ini takdir. Jangan menyalahkan dirimu sendiri” Hyera mencoba menenangkan. Tapi Kyuhyun terus menangis, mengabaikan Hyera dan Donghae. Melampiaskan seluruh kesedihan hatinya.

“Kau harus kuat Kyu, jika kau lemah juga. Siapa yang akan menenangkan Hwayeon nanti? ia pasti akan sangat tertekan, dan tugasmulah untuk menenangkannya.” ujar Donghae lembut. Mendengar hal itu, tangisan Kyuhyun semakin keras. “Menangislah sekarang, tumpahkan segala kesedihanmu sekarang, tapi nanti kau harus bangkit, kau harus membantu Hwayeon. Menangislah sekarang, menangislah”

 

.

 

Kyuhyun menggenggam tangan Hwayeon dengan erat. “Tidakkah kau merindukanku? Kenapa kau tidak mau bangun hmm? Sudah satu minggu, mau sampai kapan kau tertidur. Aku merindukanmu sayang. Bangunlah, jangan menyiksaku seperti ini. Kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku, kau boleh menghukumku. Tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini, bangunlah. Lebih baik kau pukul saja aku.” Air mata lagi-lagi turun dengan deras dari matanya. Matanya sudah sangat bengkak, ia tidak bisa berhenti menangis. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa tersenyum, tidak bisa semuanya.

Ia tidak bisa merasakan apapun kecuali sakit. Rasa sakit yang terus menerus menusuk dadanya tanpa ampun.

Entah sudah berapa kali Donghae dan Hyera mencoba membujuknya untuk tidur, tapi ia tidak bisa. Matanya tidak mau tertutup. Semua yang ia lakukan hanyalah menggenggam tangan Hwayeon, dan berbicara padanya.

Ia tau Hwayeon mendengarkan, karena ia melihat Hwayeon menangis saat ia menceritakan tentang bayinya yang tidak bisa selamat.

Rasa kantuk mulai menyerangnya, matanya perih seakan ditusuk-tusuk. “aku mencintaimu Hwayeon-ah, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Matanya perlahan menutup. Ia membaringkan tangannya di kasur Hwayeon sambil tetap menggenggam tangannya.

Donghae dan Hyera yang melihat Kyuhyun akhirnya bisa tertidur, mencoba untuk memindahkan Kyuhyun ke sofa agar namja itu bisa tidur dengan nyaman. Tapi setiap kali mereka mencoba melepaskan genggaman tangan Kyuhyun pada Hwayeon, Kyuhyun akan tersentak dan buru-buru mengeratkan genggamannya pada Hwayeon dalam tidurnya. Akhirnya mereka tidak jadi memindahkan Kyuhyun, mereka tidak tega.

Entah sudah berapa lama Kyuhyun tertidur, ia terbangun karena sebuah usapan lembut di kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya, tanpa memperdulikan badannya yang kaku. Ia menatap Hwayeon yang tengah tersenyum padanya dengan terperangah. “Kau bangun, kau kembali. Oh Tuhan, terimakasih. Kau kembali. Kau kembali, kau kembali, kau kembali” Dengan cepat Kyuhyun memeluk Hwayeon dan menciumnya kilat. “Aku mengkhawatirkanmu.” Gumam Kyuhyun lirih sambil menempelkan dahi mereka.

“Aku tau, maafkan aku sudah membuatmu khawatir. Aku sudah bangun sekarang.” Suara serak Hwayeon membuat pertahanan Kyuhyun kembali jebol. Ia menangis. “Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, kumohon maafkan aku.”

Hwayeon ikut menangis bersama Kyuhyun, mereka menangis bersama. Hwayeon sudah tau semuanya. Ia sudah tau kalau ia kehilangan bayinya, ia sudah merelakannya. Ia sudah mendengarkan penjelasan dari Hyera dan Donghae yang tadi diam-diam keluar ruang inapnya saat Kyuhyun terbangun.

“Sssstttt, ini bukan salahmu oppa. Bukan salahmu, mungkin kita memang belum pantas menjadi orang tua. Kita akan mendapat kesempatan berikutnya aku yakin.” Tubuh Hwayeon bergetar saat mengatakannya. Kyuhyun hanya mengangguk dan memeluk tubuh ringkih Hwayeon dengan hati-hati, takut menyakitinya.

“Kita akan memulainya dari awal. Kau mau kan? Memaafkanku?” tanya Kyuhyun ragu. Ia menatap mata Hwayeon, dan saat Hwayeon mengangguk, seluruh beban di hatinya terangkat. Ia merasa lega. “terimakasih sayang, aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

 

.

 

Hwayeon menatap kosong hamparan bintang diatas langit. Tidak diperdulikannya tubuhnya yang menggigil karena angin malam. Ia membelai perut datarnya dengan perlahan. Bayinya sudah hilang, harusnya ia bisa merelakannya, tapi nyatanya ia tidak bisa.

Rasanya sangat sulit dan menyakitkan. Ia berusaha menyimpannya, ia tidak mau membebani Kyuhyun. Ia tahu Kyuhyun sama sedihnya dengan dirinya, ia tidak mau menambah beban Kyuhyun. Ia memang sedih, tapi ia yakin ia bisa menghadapinya.

Anakku

Air mata kembali bergulir untuk yang kesekian kalinya. Ia memejamkan matanya, membiarkan angin membelai wajahnya.

Sepasang lengan kekar melingkari perutnya, membuat Hwayeon tersentak kaget. Kyuhyun mengeratkan pelukannya saat dirasanya Hwayeon akan berbalik. “Inikah yang selalu kau lakukan? Menangis sendiri dan menyembunyikan kesedihanmu dariku?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon terdiam, “kau bisa berbagi denganku. Jangan menangis sendirian, kau memilikiku, berbagilah denganku, jangan menyimpannya sendiri sayang.” lanjut Kyuhyun lembut.

Awalnya tubuh Hwayeon hanya bergetar pelan, lalu lama kelamaan tubuhnya bergetar hebat. Isakannya semakin membesar seiring dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Hwayeon membalikkan badannya dan memeluk Kyuhyun, mengubur wajahnya di dada bidang Kyuhyun. “Anakku hiks, aku kehilangan hiks hiks anakku oppa. Anakku. Hiks hiks anakku hiks. Aku tidak bisa hiks hiks menjaganya dengan hiks baik hiks hiks. Aku kehilangannya hiks hiks.”

Kyuhyun memeluk Hwayeon dengan erat, dadanya berdenyut-denyut menyakitkan mendengar isak tangis Hwayeon yang sangat memilukan. “menangislah, keluarkan semuanya, tidak apa-apa.” Tangis Hwayeon terus membesar, tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar.

Hiks, hiks, anakku, anakku hiks hiks. Aku kehilangan anakku oppa, aku kehilangan hiks annakku. Aku tidak pantas menjadi seorang ibu, aku sudah membunuh anakku sendiri hiks hiks. anakku hiks”

Kyuhyun terus memeluknya, mencoba menguatkan istrinya. “Jiyeon adalah orang yang menabrakmu. Aku tau itu. Donghae sudah mengurusnya. Ia akan mendapatkan hukumannya. Aku bodoh karena menjadi buta kemarin. Maafkan aku.” Kyuhyun menumpukkan kepalanya diatas pucuk kepala Hwayeon.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun lagi setelahnya smapai akhirnya tangis Hwayeon mulai mereda dan akhirnya berhenti. “Sudah tenang?” tanya Kyuhyun lembut.

Hwayeon mengangguk sebagai jawaban.

Kyuhyun tersenyum sedih, “sepertinya kau sangat menginginkan kehadiran seorang bayi ya? Ayo kita membuatnya, ini sudah 3 bulan lebih bukan? Kita sudah boleh melakukannya. Aku akan membuatkanmu anak.” Ujarnya pelan.

Hwayeon tersenyum, ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Kyuhyun. “Ne, aku mengingkannya. Buatkan aku bayi oppa.” Jawabnya dengan suara serak, khas orang habis nangis.

Kyuhyun tersenyum, ia menundukkan kepalanya. Dikecupnya dahi Hwayeon, kedua matanya, hidungnya, pipinya, kemudian bibirnya dengan lembut. “Aku mencintaimu.” Desahnya lembut.

“Aku tau, aku juga mencintaimu.” Balas hwayeon pelan.

 

 

No relationship is perfect, ever.

There are always some ways you have to bend, to compromise, to give something greater.

The love we have for each other is bigger than these small differences.

And that’s the key.

It’s like a big pie chart, and the love in relationship has to be the biggest piece.

Love can make up for a lot

-Sarah Dessen

 

 

-END-